Menunggumu
Lorong dengan denting-dentang palu seperti musik sembilu klasik menyembunyikan risau yang berkicau.
Di bangku kayu inilah pagiku setengah merekah, menunggu kamu datang, menunggu kamu menggoreskan tinta penentu hari esokku.
Teruntukmu, dosen pembimbing duaku.
Filed under Uncategorized
Secercah keikhlasan
Suaranya mengalun lembut bagai udara yang bersirkulasi masuk dan keluar mencari secercah keikhlasan. Seperti itulah sekiranya Aku memahami senandung mereka.
-Pengamen jalanan-
Filed under Uncategorized
Rindu Kamu
- Jika mencintai butuh waktu, merindu hanya butuh bertemu -
- Jika kamu menuntutku menunggu, aku hanya butuh kau memastikan aku satu-satunya di hatimu -
- Rindu itu rumit. Selalu mengusik di waktu-waktu yang mulai menyempit -
Segala rindu kutorehkan pada barisan waktu maya, dalam lembaran kertas digital, pada 140 kata di dalam sebuah ruang bernama @rindu_kamu
Semoga rindu-rindu itu dapat terangkai lebih dalam suatu hari nanti dalam sebuah novela.
Nuzula Fildzah, 10 Desember 2011
Filed under PUISIKU
KARMA
KARMA
Oleh: Nuzula FIldzah
Diam-diam kucuri lidahnya.
Saat ia terpulas dalam nada belaian.
Bisu merajai pagi.
Palsu tak akan warnai hidupku lagi.
***
Pagi ini tubuhku terpantul kembali pada cermin lemari jati yang masih kokoh berdiri di kamar mendiang Opa. Aku tinggal tak dengan siapa-siapa, setelah mereka menjadi kelelawar hitam yang mendobrak jendela rumah. Hanya menyisakan puing-puing kaca dan tetes air mata. Aku sebatang kara.
Aku memandangi dari ujung rambut hingga ujung kakiku, terutama bagian yang kulihat semakin jelas terlihat. Dahulu, setahun yang lalu. Tubuhku belum melengkung seperti sekarang ini, masih lurus bagai papan cuci kayu yang dipakai Mbok Inah mencuci bra-braku. Ya, BRA. Sudah kubuang semua! Yang membuatku sesak hingga sulit bernapas. Jelas, dadaku semakin membesar dan aku tak tahu mengapa bisa seperti itu.
Filed under Cerpenku











