Tag Archives: kehidupan

Lanjutkan Mimpi!

Screen Shot 2015-08-14 at 5.27.05 PM

 

Screen Shot 2015-08-14 at 5.27.25 PM

 

Screen Shot 2015-08-14 at 5.30.07 PM

Screen Shot 2015-08-14 at 5.29.18 PM

Screen Shot 2015-08-14 at 5.31.03 PM

I draw with heart, touch every colour with love.

Percayakan design cover bukumu, novel, dan design lainnya pada Zula Design 🙂

(cover, layout, editing, wedding invitation, birthday invitation, and any design)

For price please contact me:

Fast Respon: 08988221335  (only SMS) and email nuzula.zula@gmail.com

LINE: zulazulaa

BBM: by request

 

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Lewat gambar kamu bisa merasa

Screen Shot 2015-05-08 at 10.14.49 AM

 

Screen Shot 2015-06-21 at 11.24.09 PM

Screen Shot 2015-06-25 at 10.03.46 AM

 

Screen Shot 2015-06-25 at 10.06.59 AM

 

Inilah beberapa cuplikan dari cover baru terbit.. terbitnya dimana? next yah! Yuk yang mau bikin cover silahkan langsung cus email Zula ke nuzula.zula@gmail.com atau langsung SMS ke 08988221335 . Line dan bbm request by email yah.

 

Regrads with love,

 

Nuzula Fildzah

 

 

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Hadiah untuk Rumah Kataku :)

Untuk peramakalinya, Blogku direview di sebuah majalah ABG ternama.

Terimakasih buat kamu dan kamu yang membuatku tersenyum haru melihat blog kataku ini bisa tersenyum manis di sebuah halaman majalah remaja 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5 Komentar

Filed under Cerpenku, Share Live

KARMA

KARMA

Oleh: Nuzula FIldzah

Diam-diam kucuri lidahnya.

 Saat ia  terpulas dalam nada belaian.

 Bisu merajai pagi.

 Palsu tak akan warnai hidupku lagi.

***

Pagi ini tubuhku terpantul kembali pada cermin lemari jati yang masih kokoh berdiri di kamar mendiang Opa. Aku tinggal tak dengan siapa-siapa, setelah mereka menjadi kelelawar hitam yang mendobrak jendela rumah. Hanya menyisakan puing-puing kaca dan tetes air mata. Aku sebatang kara.

Aku memandangi dari ujung rambut hingga ujung kakiku, terutama bagian yang kulihat semakin jelas terlihat. Dahulu, setahun yang lalu. Tubuhku belum melengkung seperti sekarang ini, masih lurus bagai papan cuci kayu yang dipakai Mbok Inah mencuci bra-braku. Ya, BRA. Sudah kubuang semua! Yang membuatku sesak hingga sulit bernapas. Jelas, dadaku semakin membesar dan aku tak tahu mengapa bisa seperti itu.

Baca lebih lanjut

6 Komentar

Filed under Cerpenku

Antologi Cerpen Sini “Rahasia Rindu”

 

 

 

 

 

leutika prio

@asakecil | @bbintangb | @santaaurelia | @jemarimenari | @drivojansen | @eka_nugraha | @HajralSofi | @Wulfr1c | @germarama | @lymirza | @mooiemandy | @zulazula | @rigeladitya | @reginahelin | @auliarevan | @septamellina | @yuska77

YUK PESAN YUK!  

Tebal : viii + 149 hlmn

 Harga : Rp. 36.300,-

 ISBN : 978-602-225-137-8

Bisa dipesan melalui twitter @zulazula / @bbintangb

email: nuzula.zula@gmail.com

atau bisa langsung pesan di web Leutikaprio (klik gambar di bawah)

leutika prio

2 Komentar

Filed under Cerpenku, Share Live

05:05

05:05

oleh: Nuzula Fildzah 

 

Pukul 05:05

                 Sunyi mengabdi dalam selimut hati. Sebuah rasa mengetuk-ngetuk ruang kamarku beberapa kali. Semalam sudah kubilang, izin dahulu jika ingin datang. Tetapi, kenapa kamu datang tanpa permisi lagi sih? Protesku lantang dalam hati, dengan setumpuk kesal yang sudah singgah di subuh dini.

             Jarum jam masih terdiam, kaku dalam menit ke lima. Rasanya sudah cukup lama, ia berada di pukul lima dan menit ke lima. Berkali-kali sudah aku ingin membanting jam tua itu. Mengganggu pikiran, mengganggu pernapasan, hampir membuatku gila! Kalau saja bukan pemberian dari kakek, aku pasti sudah menghancurkannya, membuat wujudnya berkeping-keping, lalu kusingkirkan dalam tumpukan barang bekas di pembuangan belakang rumah. Aku tidak ingin kualat, aku masih bisa menahan mata dan kupingku tiap jam itu bersuara “KIKUK-KIKUK-KIKUK”. Hal yang membuat kesal adalah jam itu sedikit berbeda dari jam lainnya. Ia tahu apa yang aku rasa.

            Lega rasanya bila jarum jam itu telah berpindah ke menit berikut. Dia bagai pengontrol hawa napsuku. Ia seperti remote pengendali detak jantungku. Mengembalikan masa lalu yang telah terkubur kaku. Tidak dapat kembali ke sisi. Kehampaan, kadang membuat perih rasa. Tapi sudahlah, waktu tidak dapat diputar ulang, hanya dapat direka ulang. Tapi pristiwa itu jangan, jika ada reka ulangnya, akan kubakar penayangannya. Andai saja bisa, akan kurubah semua yang telah terjadi. Hari ini masa depanku menunggu direngkuh dan dikecup untuk ungkapkan selamat pagi.

         Prio, dia adalah masa depanku. Bukan dia, yang sudah tenggelam, membatu, dan sudah kukoyak namanya dalam hidupku. Aku tidak ingin mengingat atau mengenang masa-masa dengannya, untuk selamanya, hingga mati! Aku berusaha wujudkan ambisi, membakarnya dalam kehidupanku sekarang.

          Prio lebih dari segalanya. Dia lelaki yang konsisten dengan ucapan. Selalu ada di kala aku butuh. Pagi ini, ia duduk di taman kampus. Dia menungguku? Pasti setiap hari ia adalah pagiku. Aku melangkahkan kaki perlahan, mengatur napas, agar Prio tidak membaca keberadaanku.

            “ AYO! Tebak siapa?” Sapaku, sambil menutup mata Prio, dengan telapak tangan. Ia tenang, hanya melengkungkan senyuman, lalu berkata,

       “ Pasti gadisku yang manis! Ayo dong jangan menutup mata masmu ini. Bagaimana aku bisa memandang wajahmu? “ Ucapnya manja. Aku tertawa kecil, lalu melepaskan tanganku dari wajahnya. Mas Prio, panggilan sayangku kepadanya. Dia lebih tua dariku tiga tahun.

         Berawal dari matakuliah Metodologi Penelitian yang rumitnya minta ampun. Dia menawarkan bantuan saat kegentingan waktu. Aku tidak biasa dibantu dalam mengerjakan segala sesuatu, namun terpaksa mengangguk setuju saat ia menawarkan pertolongan. Asas kepepet mungkin ya. Padahal aku tidak tahu dia siapa, namanya, berasal dari mana, semua karena deadline tugas yang menghabiskan malamku, namun tidak kunjung rampung. Alhasil, pria baik ini mengulurkan bantuan bagai malaikat yang diturunkan Tuhan. Ya, semua berlanjut lebih dari yang aku kira. Aku pikir, setelah tugas itu selesai, tidak akan ada komunikasi lagi anatara aku dan seniorku. Namun, dia selalu muncul di depan hidungku, ketika sendiri. Aku memang lebih suka sendiri, malas bercengkerama basa-basi, bersama teman-teman sebaya. Biasanya, hanya berita angin yang teman-temanku rangkai untuk dijadikan tertawaan ataupun gossip hangat, di kala waktu senggang. Aku lebih menyukai duduk di perpustakaan, menulis, atau sekedar membaca jurnal. Terlihat pintar? Ah tidak, semua hanya untuk melupakan apa yang belum bisa aku lupakan.

         Sebenarnya aku bukanlah tipe kutu buku seperti sekarang ini. Aku bukan seseorang yang suka menjelajahi teori-teori. Itu membuat pusing dan mual saja! Tetapi semenjak gelombang sepi mendeburkan batu bahagia dalam hati, aku merasa perpustakaan adalah tempat yang nyaman dan aman. Tidak ada cemoohan, cibiran, dan mata-mata belas kasihan.

  Baca lebih lanjut

13 Komentar

Filed under Cerpenku

Jabal Pelindung Raya

Jabal Pelindung Raya

Oleh : Nuzula Fildzah

Dua tahun mataku melihat Raya sedang berkabung duka. Bahagia memang masih ada di sela-sela nafas Raya. Tapi, isak raya lebih sering menggema di telinga. Ada apa dengan Raya? Ia tidak pernah bercerita padaku. Aku hanya diam, perhatikan Raya yang semakin berkembang sejak ia baru dilahirkan Tuhan, sampai sekarang ia telah berumur panjang. Kapankah kau akan mati Raya? Itu pertanyaanku, namun bibir ini kelu karena tidak ada satu pun yang menginginkan itu terjadi. Karena kau juru kunci Raya.

Hari ini, aku masih duduk di tempat yang sama. Bersama kerabat-kerbatku yang bertempat tinggal berbeda. Tapi kami tidak pernah saling lupa atau melupakan satu dan lainnya. Kami memiliki visi dan misi. Apa itu? Menjaga dirimu Raya. Mungkin aku sudah cukup lelah, sama seperti teman-temanku. Aku lelah, melihatmu tersakiti dan terabaikan oleh sahabatmu yang kau bilang mereka cinta akan kehadiranmu Raya. Namun, aku melihat tidak banyak yang punya rasa itu. Aku hanya melihat, penyalahgunaan kepercayaan. Mereka bertopeng Raya, mereka tidak mengerti akan perjuangan dirimu membahagiakan mereka yang kau anggap sahabat, patut kau lindungi dan sayangi. Kasihan kau Raya, aku hanya melihat kau diperdaya.

Raya, mungkin kau tidak tahu siapa namaku. Berkali-kali aku membisikkan, hingga kesal dan napasku panas, agar kau mau melirik diriku. “ Aku Jabal, Raya.” Bisikku untuk kesekian kalinya. Kau tetap tak bergeming, tidak melirikku, pasif, hanya sibuk memperhatikan sahabat-sahabatmu yang menyusahkan itu. Kau terlalu polos Raya. Lihat saja, rupamu kini mengeriput penuh debu. Kau tidak terawat seperti dahulu. Cantikmu mulai tersapu tamak para sahabat hidupmu. Aku tidak mengerti mengapa kau masih bahagiakan mereka. Satu hal yang pasti kau harus tahu, aku di sini menjagamu, dan akan menjagamu dari para pencaci hidupmu Raya.

ÑÑÑ

“ Sungguh, aku tidak tahan lagi melihat kemunafikan mereka! “ Ucapku di malam bertaburan air mata angkasa. Malam ini, aku tidak sendiri, para saudaraku ikut mengambil suara. Kami adalah keluarga Jibal, tidak jauh berbeda dengan namaku Jabal. Ayah kami bernama Pasak. Namun kini ia tinggalah nama, aku dan para saudaraku kini yang memandat tugas dari ayah. Melindungi Raya, putri cantik jelita, paling terkaya, dan memiliki pesona luar biasa. Aku pun jatuh cinta padanya.

“ Jabal, kau masih ingin menarik perhatian Raya? Raya terlalu anggun, dia tidak akan terkecoh oleh pesonamu dan kekuatanmu, walau kau terkenal di kalangan sahabat-sahabat raya, menakutkan.  “  Ucap Katau. Aku membalas pesannya itu lewat surat angin. Aku hanya menuturkan beberapa kata, Jika Raya tersakiti oleh ulah sahabat-sahabatnya yang tidak berhati itu sekali lagi, aku tak akan segan menunjukkan kegagahanku.

Tugasku teramat berat, menyimpan segala kepenatan Raya. Walau Raya hanya diam, menerima hal tak pantas untuk dirinya, aku tetap tahu dan aku hampir murka. Namun, aku menahan egoismeku. Aku tidak ingin Raya bersedih, aku masih ingin melihat Raya dan sahabatnya yang masih selalu setia tersenyum. Namun, aku geram melihat beberapa jiwa itu perlahan demi perlahan menyakiti fisik Raya, menumpukkan dosa di mata Raya, mengacuhkan Raya dan tidak menjaga fisik Raya dari galauan cuaca.

Aku tahu, jika aku melakukan hal yang pernah kulakukan dahulu. Raya akan mengacuhkan aku. Aku tidak ingin melukai sahabat-sahabatnya, namun ada panggilan lain yang mendorongku untuk berteriak. Ada panggilan lain yang memintaku menyadarkan, Raya hampir sekarat, coba sadarlah. Raja dari segala raja, ya dia yang memerintahkan. Aku tidak kuasa mengelak, karena Raya adalah anaknya dan aku penompang amanat raja.

ÑÑÑ

Malam menggalau, seperti aku yang mulai galaukan banyak jiwa. Aku kandidat yang terpilih oleh raja. Aku tidak bisa menjauh, karena kakiku terpaku mati di tanah berbatu ini. Jika boleh aku memilih, aku tidak ingin begini. Konsekuensi dari penyakit lama diriku sangat merugikan. Senyuman akan hilang, mungkin banyak jeritan dan tangisan yang mendera. Raya, pasti kalut namun seperti tahun-tahun lalu, ia hanya bisa pasrah menerima.

Katau, Meru, dan lainnya mulai kantar. Berkobar, walau masih tenang. Aku harap, mereka tidak mengikuti aku yang terbatuk-batuk. Aku meminta mereka untuk sabar. Raya masih ingin berkiprah di hati para pecintanya. Mereka adalah pelindung dan pengokoh kaki Raya untuk terus hidup dan menghidupkan. Biarlah aku sendiri menyudahi amanat tercinta ini. Walau aku akan menyakiti banyak jiwa, walau aku akan menenggelamkan bayi-bayi tidak berdosa, walau aku akan terkenang menyakitkan.  Maafkan aku Raya, aku amat mencintaimu, lebih dari diriku. Namun, aku tidak ingin kau terpaku dalam masalah hidupmu, aku ingin menguji para sahabat yang menusukmu nafasmu itu, aku ingin membuktikan kebesaran raja, ayahmu. Biarkan mereka melihat, bahwa kau amatlah berharga, bahwa raja layak untuk dipuja.

“ Jabal, mereka telah berhamburan ke tempat yang mereka anggap aman. Hanya segelintir orang yang masih bertahan di tempat tinggalnya. Kau sudah siap melepas sesak mu itu?  Jika sudah, lepaskanlah ikatanmu, lepaskan duka, dan kau bisa beristirahat dari tugasmu itu. “ Pinta raja, sambil menatapku ragu. Dua hari aku menunda. Sebenarnya aku menangis, melihat sekelilingku berdoa meminta aku menunda hentakkan diri. Aku menangis, melihat sahabat Raya yang baik, bersujud kepada raja meminta ampun akan dosa-dosanya. Aku menangis, aku pilu, ingin berteriak MENGAPA HARUS AKU!

ÑÑÑ

Selasa, 26 Oktober.2010

Pukul 17.02, Yogyakarta.

Ratusan rumah luluh lantah. Tangis mengerang di mana-mana. Debu sesakkan dada mereka. Aku hanya bisa menghela nafas duka. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, selain berdoa lengkapi doa-doa mereka. Aku melihat langit mengabu, seperti pohon-pohon yang telah ber-makeup debu. Sungai mulai keruh, akibat muntahan Jabal. Jujur aku kecewa padamu, aku tidak sanggup berkata amarah atau menuai air mata. Mereka sahabatku, mengapa kau egois luluh lantakan mereka yang tak bersalah? Ya, aku tahu pasti suratan raja. Aku tidak bisa menunda apa yang terjadi, semua ditanganNya.

Kini kau tidak lagi dapat berbisik padaku. Kau sibuk meluap-luapkan nafas panasmu itu. Kau sibuk goncangkan aku dan menjatuh-bangunkan para jiwa yang menyayangiku. Aku tahu, ada sebagian dari mereka yang mencurangia aku. Aku tidak perduli Jabal, aku akan selalu bersama mereka hingga raja menidurkan aku untuk selamanya. Amukkanmu, kini menjadi buah bibir seluruh negeri. Kau menakuti seluruh penjuru manusia yang ada di dalam diriku. Aku merintih di sini. Langit mendukung segala yang kau perbuat, langit terus berteriak, tidak dapat tenang. Mengapa semua seperti zaman jahiliah? Aku tidak ingin berdua. Aku ingin tertawa bahagia.

Jabal, sungguh kumohon hentikan semua ini! Kau mendengar isi hatiku kan? Kau sayang padaku kan Jamal? Tolong sudahi getaranmu, sudahi amarahmu sudahi semburanmu, sudahi semua penderitaan ini. Aku tidak kuat melihat mereka yang mati, mengabu, hingga terkuliti oleh wedhus gembelmu itu.  Aku seperti neraka kini, mereka mengelu-ngelu kan aku. Mereka lempari ku dengan tangis dan gaduh. Aku luruh di sini. Jabal, kau adalah pasakku bukan pembunuh sahabat-sahabatku. Kau pelindung diriku dari goncangan lautan dan tanah. Mengapa kau pasrah diusaikan tugasmu? Tak bisa menjawab kan? Kini kau monster para penghuni. Lihat mereka yang di kota, sesak dibuat oleh abumu. Lihat mereka yang tak punya, tersedu menahan pilu kehilangan sanak saudaranya. Aku mengeluh karena tak sanggup berkata. Kau tahu kan, aku hanya Raya. Raya yang selalu pasrah dan berusaha kuat menahan segala cobaan dunia. Aku Raya, walau sering di dewi-dewikan sebagai penguasa kehidupan. Tapi, hanya rajalah yang berkuasa atas diriku, diri mereka, termasuk dirimu Jabal.

Yogyakarta mengharu biru. Relawan hilir mudik membantu. Pertaruhkan tenanga dan nyawa di sini. Aku bisa berbuat apa? Aku hanya bisa menyediakan apa yang mereka bisa pergunakan. Korban-korban berjatuhan, Jabal terus memuntahkan lahar. Kau Jabal Merapi, salah satu  gunung yang ditakuti. Aku mengerti, lelahmu menjagaku Jabal. Ini suratan, aku hanya memohon pada raja segala kehidupan, ringankan aku yang menanggung pilu-pilu. Karena aku hanya Raya, penompang kehidupan manusia. Aku Raya, alam yang seharusnya selalu mereka jaga. Kini Raja murka, dan Jabal mengungkapkan lewat letusan tubuhnya.

Tinggalkan komentar

Filed under Cerpenku

HINA UNTUK CINTA

HINA UNTUK CINTA

Oleh : Nuzula Fildzah

Malam dingin merasuki pori-pori.  Menghantam sekujur tubuh, yang orang bilang kurus melingkar ngeri. Bagaimana tidak ngeri, tubuh ini sekilas tak berdaging, hanya kulit melapisi sendi-sendi dan kini perutku membuncit. Aku rindu tubuhku yang elok dahulu. Daya pikat aku dengan suamiku. Sekarang aku benci cermin. Ia makhluk paling mengerikan, di dunia untukku. Aku tidak suka berkaca, ia sungguh seperti berdusta. Walau aku tahu, kebenaran terpantul di dalamnya. Sebuah kata menghantam wajah, “ Kau tidak berharga!”

Aku lelah menangisi semua yang memang ternyata nyata. Apa salahku, mengapa harus aku? Kini, duniaku bagai terbalik. Seperti tubuh ini, menciut seperti terhisap angin.

***

Menangis, bukanlah pengobat siksa. Bergantian mereka menikmati. Satu jam lalu, Pengusaha kaya telah memakai jasaku. Menikmati tubuh remajaku. Ia berkali-kali bertanya, “Kamu suka punyaku? Nikmat kan?” Aku tersenyum kecut. Lidah ini seperti tong sampah! Spermanya mengalir di lidah. Muak! Ini dosa. Aku tahu, ini HINA!

Subuh menjelang pagi, di sampingku pria berbeda kembali melumat diri. Kali ini, ia bermain di bawah. Lalu merangkak ke atas, menindihku, kemudian memaksa melayani dirinya penuh napsu. Ini gila! Mereka setan dunia! Tiga tahun kulakukan tanpa rasa. Aku menutup mata, batin, dan mengacuhkan keberadaan Tuhan. Aku tidak ingin terbuai, namun uang mengendalikan pikiran. Gadis perantau, dengan tumpukan galau yang dibawa dari desa Bengalau. Ibuku mati, diperkosa rentenir desa. Ayahku lari, tinggalkan aku bersama dua lelaki belang di ranjang. Mereka rentenir penagih hutang ayah di meja judi. 17 tahun umurku waktu itu. Ironis, vaginaku telah dijejaki lelaki. Kata hina melayang, terbang menampar wajah mudaku. Aku merintih dan ingin mati! Sayangnya, aku takut neraka. Api yang menyala pasti belum siap kukecap di akhirat. Jalan pintas datang, saat aku sampai di kota. Andini, wanita modern, cantik, dan terlihat kaya. Rasa iba darinya, membawaku dalam dunia yang salah.

***

Aku menatap wajahnya yang biru. Di meja jati, terhampar pil-pil antibodi. Umurnya panjang, karena obat-obatan. Dua bulan lalu, suamiku membeberkan ketidakputihan hidupnya, dan pria ini meninggalkan aku dengan kondisi mengandung buah hati kami. Aku mengecam wanita tua yang tidak pernah buatku bahagia, selalu saja meninggalkan tanya. Aku terluka, kau tahu renta!

” Mengapa kau tidak mati saja? Aku ini tak jelas anak siapa. Kau membuatku hina di mata pria yang kucinta! Kau bungkam, namun darah hina kau mengalir dalam diri ini! ” ia hanya menangis.  Dahulu, aku pernah bertanya kepadanya, tentang penyakit yang ia derita. Ibu, mengapa tubuhmu dipenuhi benjolan busuk seperti itu? Ibu sakit apa?

***

  Aku tahu, kamu membenci sosokku. Aku ibu, tanpa pendamping di sampingku. Kala malam datang, kau kerap tanyakan siapa ayahmu. Maafkan ibu sayang, ibu tidak tahu. Begitu banyak lelaki temani malam dan menuangkan benih pada ibumu ini. Aku tidak tahu dan seharusnya kau tidak pernah tahu.

Obat-obatan itu memang denyut nadiku. Penyakit hina, telah mendarah di tubuhku, empat tahun lalu. Setelah mataku terbuka dan membulatkan tekat, berhenti menjual diri. Semua karena kamu, anakku Cinta.

Sosok Suryo, dari awal aku tidak suka padanya. Wajahnya mengingatkan aku pada seorang lelaki buaya. Ia pernah merayuku menjadi isteri simpanannya, karena isterinya tak memuaskan syahwat dirinya. Ia pikir, itu sanjungan? Rayuan itu hinaan! Namun,kau menikah dengannya. Rahasiaku terbongkar, karena benar lelaki buaya itu ayah kandung Suryo.

Cinta, mengapa kau menatap ibu seperti itu? Ibu ingin sekali memelukmu, seperti dahulu saat kau ibu susui. Ibu tahu, suatu kesalahan kau kususui dahulu. Bukan gizi yang kau dapat, namun hinaku tertular padamu. Maafkan ibu cinta, dosaku terbawa dalam aliran darahmu dan kuharap tidak pada benih di dalam rahimmu. Nafasku terasa berat, urat-uratku tertarik erat, sekujur tubuh nyeri. Cinta, maafkan ibu…

***

Aku dan ibu terdiam. Hanyut dalam suara malam. Tidak tahu apa yang ibu pikirkan, mungkinkah penyesalan? Tubuhnya rapuh, wajahnya tak lagi sesegar dahulu. Aku tak ingin menua dengan derita seperti dirinya. Aku malu! Ini semua HINA! Suryo menalakku, siapa lagi kini yang mencintaiku? IBU?

Kami saling bertatap, angin malam hembuskan hatiku yang biru. Tangannya terlihat meraba kedua dadanya, terlihat napasnya terengah-engah. Ah, mungkin penyakitnya kumat, seperti biasa ia sering sesak, lalu membuang dahak. Hijau berbau busuk. Jijik aku! Namun ia tetaplah ibuku yang harus kubasuh dari segala debu. Aku manatap ibu, kedua kelopak matanya kini berlahan sayu dan berlahan menutup. Mulutnya tiada lagi bergetar seperti berzikir pada Tuhan. Seketika Risau mulai mencekik rasaku, ada apa dengannya? Aku memang membencinya, namun ia tetaplah ibuku, walau ia menjadikanku hina. Aku berlari memeluk erat ibu.

“ Ibu, bangun bu…” Rintihku, berusaha membangunkan wanita yang melahirkanku. Ia tidak bergerak, kedua pipinya lembab air mata. Ia menangis seperti berduka beberapa menit yang lalu sepertinya. Sesal menyilet kalbu, ia tampak tak bernyawa, apakah ia telah mati? Semua ini, menampik segala buruk di dirinya. Menutup segala amarah. Jari-jari ini, masih saja berkali-kali menggoyangkan tubuhnya. Ia terlihat kaku, tubuhnya terasa dingin, kupegang kedua lengannya, tak ada denyut di sana. IBU BENAR-BENAR TELAH TIADA!

Malam berurai duka, langit deskripsikan untaian pilu rasa. Di bawah kursi goyang tua, ibu kubaringkan. Belum dengan kain kafan, aku masih menatapnya nanar. Ayat Tuhan terucap perlahan dari bibirku yang tertahan meluncurkan ungkapan, “Maafkan aku Ibu. Aku sa..ya..ng padamu.” Nyata sudah, Ibu telah tiada, aku tidak siap merana. Aku memang hina, dan kini Tuhan menjawab semua. Aku tak pantas dicinta.

Sebilah pisau, menatapku nanar. Ikut dengan ibu atau bertahan dengan calon bayiku? Sudahlah, aku tidak ingin hina ini berkelanjutan, anakku pintu harkat martabat kehidupan yang baru. Hina Ibu memang untukku, namun hinaku bukan untuk peri kecilku. Secarik kertas kutemukan di bawah kursi Ibu, perlahan aku membaca tulisan Ibu, “Maafkan ibu Cinta. Jaga cucukku, bayi dalam kandunganmu. Ia penerus keluargamu, keluarga Ibu.”

Tangerang, 16 Desember 2010

Tinggalkan komentar

Filed under Cerpenku

Aku Ingin Pulang

Foto by Nuzula

Foto by : Nuzula

 

Aku ingin pulang

Haus belaian pandangmu yang terkadang menelanjangi angan

 

Aku menerawang

Susuri khatulistiwa untuk peluk persendianmu

yang mulai merindu sentuh tubuhku

 

Kau tak tahu bibir ini kelu?

Kau tak duga rindu kian sesati aku?

Dan kini aksara berumah di kedua retinaku

 

Sajakku belum terbang padamu?

Mungkin ia tersasar

atau beku oleh angin malam,

hingga tak tersampaikan petaruh batinku

Atau,

tuli telah menyelingkuhi hati dan telingamu?

 

Aku ingin pulang, sayang

ke rumahmu yang telah bertuan

Salah,

Benar,

Peduliku mati

dalam gelinjang sabar

 

Nuzula Fildzah, Tangerang, 170311

2 Komentar

Filed under PUISIKU

Malaikat untuk Jingga

By : Nuzula Fildzah

Sore ini, langit Phuket seperti mengepulkan cercahan matahari yang mulai mengumpat dalam gemawan angkasa. Ada rona-rona sipu di sana, membuat pipi langit di pantai barat Phuket menggembilkan jingga di atas gulungan ombak yang mulai pasang.

Mungkin ini yang dinamakan ketenangan. Tidak ada suara-suara yang mendesak hatiku untuk memilih lagi. Aku menikmati apa yang ada di depan mata sekarang ini. Suasana pantai yang mulai sepi, suara deburan ombak yang mulai bersatu dengan suara hati. Dan aku suka tiap kali senja mulai merekah di atas kepala. Aku bagai dipayungi Tuhan segala berkah. Walaupun, mungkin ayah dan ibu sedang gelapan mencariku di kamar hingga lemari tidurku. Mereka tidak tahu, aku di sini. Mereka tidak tahu, aku berani melangkahkan tubuhku ke luar negeri.

Cukup melegakan bisa menapakkan kaki di pasir Patong. Tidak ada perbekalan apa-apa, hanya membawa beberapa helai pakaian dan tentunya tabunganku yang orang tua tidak pernah tahu. Sengaja aku tidak beritahukan mereka tentang kebohongan-kebohongan kecil setiap aku memberikan secarik kertas bayaran. Entah bayaran kuliah, hingga merekayasa beberapa kejadian, misalnya untuk acara amal. Mungkin hal ini, bisa dikecap uang haram, namun aku tidak perduli. Ini memang strategi dari pelarianku. Aku tidak mau menghabiskan umur bersanding dengan pria berkulit keriput dan beberapa tahun lagi renta. Tidak bisa terbayangkan, hidup tanpa cinta pertama.

Sayap_patah           : Hei Malaikat kecil. Pasti dirimu sedang melihat sayap-sayapku terbang di angkasa yang mulai menyibakkan senja. Kamu jadi lari dari rumah?

“Pesan messenger dari sayap patah?” ucapku saat melihat Yahoo Messenger yang menyala di ponselku. Tanpa berlama-lama, jemariku mulai membalas pertanyaannya.

Malaikat_kecil           : Il cielo è così bello qui [1].

Sayap_patah             : Va bene! [2] Kamu belum jawab pertanyaanku.

Malaikat_kecil           : Tenang, aku memang sudah di sini. Sesuai dengan    rencana. Tidak ingin menikah dengan lelaki renta, berharta hahaha!

Sayap_patah : Kau benar-benar gila! Bagaimana jika uang   tabunganmu itu habis? Aku tahu, kau tidak punya keahlian apa-apa kecuali berlari dari kenyataan.

Malaikat_kecil : Apa pedulimu? Pokoknya aku akan di sini, sampai mereka tidak memaksaku lagi. Titik!

Baca lebih lanjut

10 Komentar

Filed under Cerpenku