Category Archives: PUISIKU

Tak Ingin Menikmati Sendiri

Jika kamu tahu,
Aku layaknya gadis kecil yang memiliki gulali berwarna-warni. Dalam hati tak ingin kubagi, namun tak ingin pula menikmati sendiri.

Seperti itulah rasa cinta. Aku tak pernah leluasa jika hanya aku pemiliknya. Genap denganmu mengekalkan keindahan rasa di hati (kamu dan aku).

Nuzula Fildzah – Tangerang

Tinggalkan komentar

Filed under PUISIKU

Pinjam Sakumu

Aku terlalu bosan ditunggangi Tunggu,
mengalikan resah dalam gulungan doa,
menebak-nebak apakah esok masih ada.

***

Gemetar tiap lidah melisankan ingin,
satu – hal – sendiri membuahi percuma. 

Aku seperti angin,
lalu-lalang melayang terjanjikan hal yang tak usai-usai.

***

Sakumu biar kupinjam dulu,
mungkin cukup mewadahkan sabarku,
dengar hembusan udara itu,
keluar-masuk denyutkan otakmu.

***

Sempit!

Lihat sakumu menguarkan apa yang kutitipkan.

Kubilang, tak akan pernah cukup,
sebabnya tanyakan saja pada detak-detik,
saksi bahwa setengah pikiranku hanya
Menunggumu.

Nuzula Fildzah – Tangerang

Tinggalkan komentar

Filed under PUISIKU

The Next!

Libur dua minggu membuat khayalan datang, bergerumul dan terus mendesak jemari dan ide tertoreh kembali. Rasanya senang! Ditambah lagi tidak sendirian melakoni tulisan ini. Berdua dengan anak muda yang membuatku berkata, “Dia orangnya!” Mantan customer Zula Desain!

Zula mengambil tema tetap cinta, namun lebih dikhususkan ke anak muda ( 16 Tahun +). Kenapa cinta? Bagaimanapun juga, tema ini bisa membuat pembaca merem-melek, ketawa, sedih, geregetan, sampai senyum-senyum geli! Ya, Zula sendiri ingin selalu cinta. So, love is never die!

Mohon doanya ya teman-teman, semoga buku ini segera selesai. Dan semoga kalian penasaran! Haha! Tetep yah! Iya dong, Zula nulis untuk teman-teman 🙂

Zula tulis deh sedikit kata-kata di buku Zula ini. Judulnya? Ada deh!

***

Malam mungkin bisa saja terdiam dan menahan keingintahuannya tentang manusia. Tapi, aku bukanlah malam. Aku manusia yang penuh dengan tanda tanya.

Bisakah aku tahu, tentangmu lebih jauh?

-zulazula- @zulazula

 

Aku tak perlu tau letak nadimu

dimana ia mendenyutkan nama

melalui bahasa yang sulit terungkap

biarkan ia berbisik seadanya

dengan suara paraunya

-Erry- @erryseptiadi

***

LOVE,

Nuzula Fildzah, S.Pd

Tinggalkan komentar

Filed under Cerpenku, PUISIKU, Share Live

Rindu Kamu

– Jika mencintai butuh waktu, merindu hanya butuh bertemu –

– Jika kamu menuntutku menunggu, aku hanya butuh kau memastikan aku satu-satunya di hatimu –

– Rindu itu rumit. Selalu mengusik di waktu-waktu yang mulai menyempit –

Segala rindu kutorehkan pada barisan waktu maya, dalam lembaran kertas digital, pada 140 kata di dalam sebuah ruang bernama @rindu_kamu

Semoga rindu-rindu itu dapat terangkai lebih dalam suatu hari nanti dalam sebuah novela.

Nuzula Fildzah, 10 Desember 2011

3 Komentar

Filed under PUISIKU

Bersamamu Selamanya

Kepada : Jodohku di Masa Depan

Oleh: Nuzula Fildzah

 

Aku menantimu dalam waktu yang tak singkat. Sampai kini pun, kau masih berupa tanda tanya yang memawar di kepala.

“Apakah kamu Adam untukku?”

Malam selalu memancingku untuk bertanya dan bersedu tentang dirimu.

Aku tak ingin memuja namamu, namun sulit hati ini terus menyerukan namamu sebagai pedoman merindu.

 

***

 

Aku ingat, awal kita saling bertemu, mata kita saling berbicara, walau kedua bibir kita kaku tak bicara. Sampai kedua tangan kita saling merapat, mengisi ruas-ruas jemariku yang sebelumnya kosong tak terisi.

Kamu hadir, kamu yang penuhi hampa dalam diri. Dan aku tak ingin kembali kosong, aku ingin kamu terus mengisi.

 

***

 

Hati ini layaknya tanah gembur yang kau berikan benih lalu kau pupuk. Di sini telah tumbuh satu tunas kecil yang semakin hari tumbuh dan tumbuh menjadi tunas dewasa. Ini adalah harapan darimu. Harapan yang menumbuhkan doa setiap kali aku bersujud pada Sang Pencipta. Dengan senyum bercampur air mata. Tuhan, kumohon, ikatkan kami dalam simpul bahagia. Satu sampai hayat terkubur dan membatu dalam setia.

Kamu tahu sayang, tak lelah aku memperjuangkan rasa yang selalu membuatku meneteskan air mata, kala aku meniupkan cemburu, rindu, dan sabar saat menanti kehadiranmu untukku. Yakini aku, kamu adalah sungai gangga yang tak habis menyirami hati dengan cintamu. Hingga tua. Hingga umurku terbang ke angkasa.

 

¤¤¤

Masa depan adalah kado terindah sebelum kematian datang. Aku ingin berada dalam rengkuh tubuhmu. Hangat dalam kedua tanganmu, manis saat kecupanmu terbang di kening dan bibirku. Dalam halal yang memayungkan kita berdua melepas rindu.

Kamu harapanku di waktu mendatang, yang membuat garis wajahku lebih cantik nan ayu. Tak lagi bersikap kanak-kanak. Tak lagi manja tanpa melihat kau sedang lelah. Aku akan menyapamu dengan senyuman dan suara riang anak-anak kita. Dengan secangkir teh hangat dan pisang goreng kesukaanmu. Aku selalu ingat dan akan selalu kusediakan untukmu. Dan aku tahu, pelukanku selalu untukmu.

Kamu adalah imamku di masa depan, atas persetujuan Tuhan. Yang akan menuntunku dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Memapahku dalam ilmu agama untuk bahagia dunia dan akhirat.

Apalagi yang kubutuhkan? Tidak ada, hanya kamu seorang. Kamu adalah pelengkap segala kekurangan yang kurasakan sebelum hadirnya dirimu dalam diriku. Kamu akan menjadi alasanku untuk selalu memberikan yang terbaik untuk hidup, bukan hidupku, melainkan hidup kita dan keluarga kita berdua.

Menualah bersamaku, termakan waktu bersama dengan tawa dan canda hanya kita berdua. Aku berjanji, tak akan pernah bosan bersandar di pundakmu. Aku berjanji, tak akan lelah menopang kepalamu di pangkuanku saat lelah menjamahmu. Karena cintaku tak semu untukmu, tak seperti rembulan yang indah saat malam menghitam. Aku akan selalu bersinar untukmu dan setia walau wajahmu tak setampan masa mudamu.

 

Teruntuk Rindu,

cinta yang akan selalu berkibar di ragaku.

Hingga mata dan jiwa tertutup selamanya.

Amin.

7 Komentar

Filed under PUISIKU, Share Live

Dipertemukan Denganmu Hujan

kembali aku dipertemukan dengan hujan

balada usang menari kembali di ingatan

saat kedua telapak tanganmu menyeka air yang menetes di atas kerinduan

saat bibirmu bersandar untuk beberapa detik di keningku

dan kita berdiri berpayung malu di bawah derai hujan

bersamamu…

 

24 Maret 2011 – Nuzula Fildzah

2 Komentar

Filed under PUISIKU

Aku Ingin Pulang

Foto by Nuzula

Foto by : Nuzula

 

Aku ingin pulang

Haus belaian pandangmu yang terkadang menelanjangi angan

 

Aku menerawang

Susuri khatulistiwa untuk peluk persendianmu

yang mulai merindu sentuh tubuhku

 

Kau tak tahu bibir ini kelu?

Kau tak duga rindu kian sesati aku?

Dan kini aksara berumah di kedua retinaku

 

Sajakku belum terbang padamu?

Mungkin ia tersasar

atau beku oleh angin malam,

hingga tak tersampaikan petaruh batinku

Atau,

tuli telah menyelingkuhi hati dan telingamu?

 

Aku ingin pulang, sayang

ke rumahmu yang telah bertuan

Salah,

Benar,

Peduliku mati

dalam gelinjang sabar

 

Nuzula Fildzah, Tangerang, 170311

2 Komentar

Filed under PUISIKU

Penantian Terakhir

Tentang Seseorang Reff. Nuzula Fildzah by nuzulazula ( Klik untuk Mendengar )

Seperti berkabung dalam duka

Mengintai harapan dengan rasa pasrah

Tubuh itu ada di ujung sana

Melambai-lambai

Memanggil aku yang berdiri tak pasti

Baca lebih lanjut

12 Komentar

Filed under Cerpenku, PUISIKU

Perjalanan Adam dan Hawa

Prolog ( HAWA )

banyak jiwa berkata, ” Keabadian hanya mimpi belaka. “

Adam dan Hawa, dahulu kasih mereka tak beradu pada waktu

surga singgahsana indah, nikmat tanpa duka

kamu ingat dahulu, tawa terlempar manis padaku

sebelum khuldi melelehkan abadi

Prolog ( ADAM )

surga, nirwana terindah bagi Adam dan Hawa

detik, menit, serta jam bersatu dalam sebuah anugrah, tak ternilai

sempurna, kala Adam dan Hawa bersatu abadi

namun kala adam goyah dalam hasutan,

bujuk rayu syetan memupuskan semua

kita terpisah

Baca lebih lanjut

13 Komentar

Filed under PUISIKU

Goresan Senja di Atas Rindu

Tentang rindu yang aku hembuskan pada angin

Tentang malam yang mampu menjawab ragu

Tentang kamu senja di lipatan langit yang jauh

Aku perindu bentang sendu warnamu

Baca lebih lanjut

3 Komentar

Filed under PUISIKU