Category Archives: Cerpenku

Memories

Memories

By: Nuzula Fildzah & Boy

Sepeda air satu demi satu kembali ke tepian. Dengan berhati-hati para penikmatnya bergegas naik ke atas meninggalkan danau dan menempati kursi- kursi kayu panjang – terletak di atas tepian danau. Beberapa pasangan muda, menghempaskan tubuh mereka, bersandar sambil menikmati langit yang berpayung senja. Di atas langit, berbondong-bondong burung gereja mengepakkan sayap mereka, terbang tinggi menerobos awan-awan tipis, terlihat jelas di atas kepalaku dan dia yang masih mengayuh pedal sepeda air, beraksen kuda laut berwarna jingga. Dan sedari tadi, masih berada di tengah-tengah danau.

“Kamu yakin?” tanyaku tertunduk, melihat sepasang sepatu hitam yang ia pakai hari ini. Sepatu itu masih terlihat baru, aku belum pernah melihat ia mengenakan itu sebelumnya, mungkin.

Pandangannya beralih lurus. tangannya didaratkan di atas punggung tangan kiriku. Ia menolehkan pandangannya kepadaku, bibirnya menyimpulkan senyum tipis. Sampai kedua bola mata laki-laki yang telah kukenal satu tahun belakangan ini, menatapku lekat dan lama. Menghantarkan sebuah rasa, yang untuk mengejanya saja, aku harus menahan air mata.

“Sebisamu, ingat aku. Hanya untuk sementara waktu. Kamu mampu, kan?” tanya Rey, sambil memasang wajah penegasan. Satu anggukan pelan saja yang bisa kulakukan.

Andai kamu menunda kepergianmu, Rey… ucapku dalam hati sambil membantu Rey mengayuhkan sepeda air ini ke tepian danau. Segaris senyuman muncul di wajahku, aku mengadahkan pandang ke langit yang mulai memerah saga. Seharusnya aku dan Rey tidak meninggalkan ponsel di mobil, setidaknya itu akan memudahkan segalanya, memudahkan aku untuk membingkai perasaan yang kupunya untuknya hari ini.

Baca lebih lanjut

1 Komentar

Filed under Cerpenku

Temukan banyak diksi di dalam cerita cinta.

lovediction zula

zula

Dari foto di atas, Zula mau mengumumkan, bahwa cerpen yang berjudul “Percayalah Kita Mampu Bersama.” dimuat di dalam sebuah buku kumpulan cerita, berjudul “Lovediction.” Penerbitnya ice cube yang bekerja sama dengan KPG. Buku ini menghadirkan 28 cerita dari 28 penulis (termasuk Zula). Setiap cerita di buku ini digandeng dengan ilustrasi ciamik! Harganya gak mahal buat ukuran buku dengan kertas majalah dan full color, kamu hanya cukup merogoh kocek sebesar Rp.45.ooo saja loh!

So, buat teman-teman yang penasaran sama cerita Zula dan teman-teman penulis lainnya, bisa banget langsung ke toko buku buat beli buku Lovediction! Sudah mulai terbit pada tanggal 11 Februari 2013. Cerita cinta yang menyelipkan banyak diksi kasih dan sayang. So grab this book okay!

Love,

Nuzula Fildzah, S.Pd

Tinggalkan komentar

Filed under Cerpenku

Video Cuhat Move On

Udah lama belum sempat posting apa-apa lagi di blog.

Baru sempat Zula buat video cerpen Zula di Curhat Move On yang sudah terbit di Gramedia dan Toko Gunung Agung. Buat kamu yang belum beli, coba deh mampir dulu simak video ini, biar lebih jleb!

2 Komentar

Filed under Cerpenku

My Baby Book

Alhamdulillah, akhirnya setelah lama aku bisa melihat buku yang ada cerpenku di dalamnya di toko buku (Gramedia, Gunung Agung, dll) senang sekali rasanya! Terimakasih ya buat dewan juri yang sudah suka dengan cerpenku berjudul “Ketika Kita Tercipta Tidak untuk Bersama.” dan memilih aku salah satu dari pemenang curhat move on! Terimakasih yaaa.

Langsung aja, kalau kamu penasaran sama cerita Zula, bisa langsung dibeli bukunya ya!

curhat-move-on_t

1 Komentar

Filed under Cerpenku

Andai.

Oleh: Nuzula Fildzah

“Andai waktu bisa kuputar kembali, aku tak akan menyimpan perasaan, selama ini.” Kata lelaki berbaju putih. Suara deburan pantai, seperti menyapu semua harapannya.

Warna langit mulai berubah. Lelaki itu terus berjalan di sepanjang pantai. Langkahnya menyisakan jejak kaki di pasir putih. Matahari di tengah laut mulai merona, menyendukan perasaan lelaki itu yang sedang gulana.

Seharusnya aku tidak perlu memikirkan banyak hal. Kini pasti kamu membenciku lebih dari sebelum aku menghilang. Ungkapanya dalam hati. Langit mulai berwarna oranye tersipu jingga muda. Bias sinar matahari mewarnai air pantai menjadi indah. Namun, hati Erico sebaliknya. Ia merasakan ketidakpuasan pada dirinya. Ia memainkan air yang menyambut langkah dengan beberapa tendangan kesal.

“Aku benar-benar manusia bodoh!”

Y

Embusan angin seperti membawa pesan rahasia. Suara kerindu dan dari hati yang sulit berbicara. Dua pasang mata saling bertatapan di meja kafe yang terletak di daerah kuningan. Mereka saling bertukar pandang, terdiam membentuk tanya yang sulit dimengerti tanpa adanya ucapan.

“Kamu mau pergi lagi?” tanya gadis yang selalu mengurai rambut hitamnya.

“Sepertinya begitu.” Jawab lelaki itu datar.

“Terus, buat apa aku ada di sini?”

“Aku mau melihat wajahmu lama, lebih lama dari biasanya.” Kata Erico menatap mata gadis di hadapannya lekat.

Aku ingin sekali mengungkapkannya padamu. Tapi, aku takut kamu kecewa dan menganggapku memberikan kepalsuan.

Y

Minggu, 23 September 2012

Aku selalu melihat bola mata itu seperti menyimpan ungkapan ingin. Sebuah ungkapan yang sulit sekali kamu katakan. Mengapa kamu tidak pernah mencoba ujarkan semua dengan kata-kata. Kamu takut? Atau ragu aku akan menolakmu? Kita telah sekian lama bersahabat, kita bukan dua manusia yang baru bertemu di dunia. Kamu temanku dari kecil.

Andai kamu bisa membaca pikiranku, mungkin kamu tidak akan membuang waktu di mana kita saling bertemu untuk sekedar memandang. Aku yakin, apa yang ada di dalam pikiranku, itu pula yang ada di dalam pikiranku. Aku bisa merasakan semuanya, aku bisa mengetahui dari setiap gerik matamu yang melirik prilaku aku ketika sedang bersamamu.

Mungkin, kini kamu sedang melihat senja di sebuah pantai. Tempat yang paling bisa membuatmu tenang. Walau aku, di sini sibuk mengusir siluet wajahmu.

Aku sepertinya mulai tidak bisa memaklumimu Erico. Aku mulai benci kesepian. Aku mulai merasakan sakit di hela napasku. Kita bersahabat, perasahabatan yang sudah tidak murni. Aku tahu, aku pun egois. Aku mengekang hatiku, untuk mengatakan rasa itu dahulu padamu.

Aku sengaja tidak mengungkapkan padamu. Biarlah kamu yang mengungkapkan itu padaku. Mungkin aku bisa, namun aku ingin mendengar sendiri dari dirimu.

Aku di sini menunggumu, aku di sini hanya tahu kamu sedang pergi jauh. Surat ini pun, kukirimkan ke alamat nenekmu. Sebab setahuku, di sanalah tempat bersinggahmu sejauh apapun kamu pergi.

Erico, temanmu menikungmu. Aku memberikan setengah hatiku padanya. Salahmu, mengapa kau berikan surat itu kepadanya. Kamu malu? Lalu kini, apa yang bisa kamu lakukan? Aku bersetatus pacaran dengannya. Aku kesepian! Aku butuh sosok teman dekat yang mengerti dan menemani hari-hari. Tapi aku tahu, aku bodoh Co!

Andai waktu bisa kuputar kembali, mungkin aku akan menunggumu Co. Aku tidak menjawab “Iya.” Pada Reza.

Tapi, waktu tidak mungkin berjalan mundur. Sebuah keputusan telah aku ambil. Aku menjalani hari-hariku bersama temanmu, mungkin sahabatmu. Aku tidak pernah tahu.

Erico, apa yang kamu rasakan setelah mengetahui ini semua? Kecewakah? Apa kamu merasakan sesak dan sakit yang aku rasakan setiap matahari bergulir digantikan bulan? Mungkin kamu merasakan. Tapi cukup dengan sesal.

Tinggalkan komentar

Filed under Cerpenku

Aku Ingin Cinta.

Oleh: Nuzula Fildzah

 

“Aku ingin jatuh cinta Tuhan, setelah sekian lama, aku memelihara luka di dalam dada. Aku ingin kembali menghirup udara bahagia…”  Ucap Chalista di seperempat malam, Ia mengadahkan kedua tangannya, berdoa sebelum terlelap. Pigura-pigura berukuran sembilan kali sembilan koma dua centimeter, terpajang manis di kanan dan kiri tempat tidur Chalista.

Chalista memandang dua pigura yang berada di sisi kanannya. Ia merasakan lagi uap panas dari dalam kelopak matanya, ada benda cair yang siap meluncur deras. Tapi, ia menahan sekuat ia bisa. Ia tidak ingin menangis lagi. Beberapa menit kemudian, ia mengalihkan pandang ke sudut kirinya. Gadis itu terdiam, mengambil udara di sekitarnya ke dalam paru-parunya lalu dihembuskan kembali kumpulan udara itu ke langit-langit kamarnya. Sampai kapan aku harus seperti ini? Bisakah aku hidup tenang tanpa bayang-bayang kamu lagi?

Y

“Selamat pagi!”  Suara lelaki yang sudah tidak asing lagi di telinga Chalista menyapanya di dapur. Ia sedikit terkejut, masih pukul enam pagi, lelaki itu sudah menjemputnya? Chalista tidak bergerak dari depan tempat ia memasak. Gadis itu  masih tetap fokus dengan telur mata sapinya yang masih belum matang.

“Pagi Za… Kamu sudah sarapan?” sahut Chalista.

“Belum! Jangan ragu buatkan aku juga ya!” lelaki itu berkata dengan rona suara yang terdengar gembira. Chalista menarik kedua otot pipinya membentuk senyum kecil yang sederhana.

“Kamu kok bisa langsung masuk ke rumah?”

“Mamamu yang menyuruhku. Kenapa? Kamu takut?”

“Takut apa?” tanya Chalista heran. Telur di penggorengan sudah matang. Chalista mengangkat telur mata sapi dengan sodet berbahan kayu milik mamanya lalu menaruhnya di atas piring yang berisi satu porsi nasi goreng. Tidak perlu menunggu lama, Chalista langsung mengambil sebutir telur lagi di dalam plastik hitam yang berada tidak jauh dari kompor.

“Ya, takut kalau aku melihat wajahmu yang masih setengah mengantuk dan menghirup aroma tubuhmu yang belum mandi.” Ucap Reza.  Tiba-tiba ada yang melingkar di tubuh Chalista dari belakang.

“Aku mencintaimu Ta…” ungkap Reza, manja. Chalista seketika menjadi kaku, ia tidak mengangguk hanya menolehkan kepalanya sedikit untuk memberikan senyuman.

Y

 “Kamu tahu? Nasi goreng dan telur mata sapi buatan kamu adalah sarapan pagi paling lezat!” Ujar Reza senang. Chalista menatap lelaki di sampingnya dengan manis. Ia melihat sosok pria yang amat menyayanginya. Namun, Chalista belum memahami hatinya sendiri. Hampir dua bulan ia resmi mejadi kekasih Reza, tapi pikirannya masih terbang mengawang kepada seseorang di luar sana. Lelaki yang tiba-tiba saja menghilang dari hidupnya.

“Itu cuma telur mata sapi goreng biasa yang dibumbuhi garam. Nasi gorengnya pun aku buat dengan bumbu siap pakai yang kubeli di swalayan.”

Reza tertawa kecil, lalu mengangkat dan mendaratkan tangan kanannya yang tadi sedang menyetir ke atas kepala Chalista. Mengelus dan memandang gadis itu dalam.

“Apapun yang kamu buatkan, aku suka. Sebab kehadiranmu saja, membuat waktuku berharga.”

Hamparan daun kering memenuhi halaman kampus mereka. Chalista memilih duduk dulu di halaman kampus. Sedangkan Reza, langsung bergegas ke kelas. Chalista menyapu sekelilingnya dengan setumpuk pikiran dan resah di benaknya. Seharusnya ia bersyukur bahwa telah menemukan lelaki bertanggung jawab. Reza berbeda dengan Erico. Erico sering kali meninggalkannya tanpa pesan. Beberapa kali, Erico pergi dalam waktu yang cukup lama dan kembali di waktu yang Chalista tidak duga.

Y

 Aku ingin kamu mencintaiku juga. Aku tahu puluhan senyum itu bukan karena mencintaiku. Aku tahu, kamu hampir lelah dan tersiksa menanggapi perhatianku. Matamu tidak dapat membohongi hatimu Ta… Reza bergumam dalam hatinya sepanjang ia mengikuti perkuliahan di kelas. Suara dosen di depannya tidak terekam dalam pikirannya. Pandangan lelaki itu lurus, seperti sedang serius memperhatikan pembahasan materi Metodologi penelitian dari dosennya. Namun, pikirannya tersesat, di waktu yang telah lewat.

“Cewek berambut hitam legam sebahu itu, pacar lo bro? Sering banget nyamperin kelas kita.”

“Bukan. Dia sahabat gue.”

“Serius? Boleh dong kenalin sama gue! Udah lama gue merhatiin dia juga.”

“Tapi gue sayang dia Za.”

Obrolan dua lelaki itu tiba-tiba terhenti. Reza mengatur napas dan memperhatikan tatapan mata teman sekelasnya itu. Lelaki di depannya seperti kosong. Merenung dan memikirkan sesuatu yang Reza tidak bisa menebak apa itu.

“Lo bakalan jatuh cinta sama gebetan sobat lo sendiri?” tanya dia pada Reza. Hening, Reza tidak menjawab apa-apa.

“Gue mau pergi untuk sementara waktu. Tapi, gue enggak bisa bilang sama dia gue akan kemana.” Ucapnya lagi menundukkan kepala. Reza menggerakan tangan kanannya ke atas pundak sebelah kiri temannya itu. Lalu, ia mulai menggerakan bibirnya seraya ingin berkata sesuatu.

“Apa yang bisa gue bantu?”

Y

               Dedaunan kering telah hancur menjadi remah-remah. Pria tua di halaman kampus menyapu guguran daun berwarna kuning serta remah-remah daun dengan sapu lidi. Chalista, terlihat berjalan dengan terburu-buru. Rambutnya yang panjang seperti melambai-lambai kea rah Reza yang telah menunggu.

“Maaf aku telat,” kata Chalista sambil mengatur napasnya.

“Iya, aku juga baru dateng kok.”

“Ada apa Za. Tumben kamu dadakan manggil aku saat jam perkuliahan.” Tanya Chalista sambil mengambil posisi duduk di depan Reza. Chalista memperhatikan wajah Reza yang tidak seperti biasanya. Tatapan itu sendu, seperti langit di hari ini yang berkabut abu-abu.

Dari dalam tas, Reza mengeluarkan sebuah amplop berwarna biru. Reza terlihat tak yakin, namun ia akhirnya memutuskan memberikan amplop itu pada gadis di hadapannya.

“Maafkan aku. Aku harap kamu mengerti mengapa aku berbuat sejauh ini dan tidak membenciku.”

“Maksud kamu apa Za?” Chalista terlihat semakin tidak mengerti. Reza memintanya membuka surat itu agar Chalista segera tahu kebenaran yang ada.

Dear Chalista,

Untuk kesekian kalinya, aku menghilang. Untuk kesekian kalinya, aku membuatku memintaku menunggu. Aku tahu kamu lelah, aku tahu kamu berusaha untuk mengerti. Aku menyayangimu. Aku ingin jatuh cinta padamu di luar kondisi yang sulit. Jadi, aku pergi dan akan kembali di waktu di mana kita bisa bersama tanpa jeda masalah hidupku.

Semoga kamu bisa menungguku, hingga aku dapat kembali mengisi hari dan jemarimu lagi.

Love,

Erico.

Binar mata Chalista mulai berkaca-kaca. Bingung harus berkata apa. Tapi Reza, tiba-tiba berdiri dari kursi panjang kayu tempat mereka duduk bersama.

“Aku bukan lagi ingin jatuh cinta padamu. Tapi sudah terjadi. Maafkan aku telah berbohong dan menyimpan surat ini lama.”

Chalista tertunduk diam. Ia kecewa. Tapi, ia lebih kecewa pada Erico yang jauh lebih lama dikenalnya.

“Biarlah ia berlalu Za. Tapi, izinkan aku untuk belajar mencintaimu tanpa ada ragu.”

2 Komentar

Filed under Cerpenku

Harta Terakhir Ayah

Oleh: Nuzula Fildzah

Mata dengan garis-garis kecil di sekeliling kulit wajahnya, terpanjang lurus kepada tugu masuk gang, bertuliskan “Selamat Datang.” Ia masih berdiri belum dekat dari gang tersebut. Dengan mengenakan kaos putih berlengan panjang dan celana bahan berwarna cokelat tua, ia berjalan dengan tubuh tegap yang seolah-olah ia usahakan. Ia seorang lelaki, tampak dari raut wajahnya ia sudah tidak muda lagi.

Gang dengan tugu selamat datang itu seperti menyambut kedatangannya ramah. Tidak ada kendaraan beroda empat menyusuri, gang ini cukup sepi dari suara kendaraan beroda empat. Sebab, memang hanya kendaraan beroda dua saja yang bisa manyusuri gang ini. Lelaki itu melangkahkan kakinya yang hanya beralaskan sendal jepit. Alas kakinya terlihat lusuh sekali, membuat kaki lelaki itu kumal dan harus segera dibasuh air bersih.

Beberapa orang menatapnya dengan gurat senyum yang tipis. Lelaki itu membalas dengan anggukkan disertasi senyum yang mengembang di antara kumis tipisnya. Ia ingin terlihat baik-baik saja, walau degup jantung dalam dirinya, terasa tidak seperti biasa. Lebih cepat temponya membuat ia berpikir harus segera membaringkan tubuhnya yang terasa lelah.

Langkahnya tiba-tiba terhenti, saat sehelai daun, mendarat tepat di bawah kakinya. Ternyata, dedaunan mangga yang kering, melayang lepas dari ranting sebuah Pohon Mangga Harum Manis.  Lelaki itu, mencongakkan kepalanya ke arah daun-daun yang terbang. Ia menghelakan napasnya, menyeka bulir keringat yang ada di keningnya.

“Aku tidak pernah menduga. Rasanya terlalu cepat. Kau pun merasakannya kan?” ucapnya, seperti berbicara pada pohon di hadapannya.

Baca lebih lanjut

3 Komentar

Filed under Cerpenku

Tamu

Tamu

Nuzula Fildzah

           Waktu tidak pernah salah menerbitkan matahari untuk menidurkan bulan yang telah lelah menerangi dunia semalaman. Tapi, ada satu hal yang selalu aku tuduh bersalah, yaitu segala sesuatu yang membuat mimpi indahku buyar saat matahari membuat biru angkasa raya. Salah satunya, ketukan pintu di pagi hari.

      Pintu itu terketuk beberapa kali, terdengar dari pintu teras rumahku yang masih berselimut embun pagi. Aku berusaha melanjutkan mimpi, tak peduli siapa yang ingin bertemuku sepagi ini. Namun, suara ketukan itu semakin jelas merambat masuk ke dalam kamar tidurku. Aku abaikan lagi. Mungkin orang itu tidak tahu sepenting apakah mimpiku ini.  Biarkan aku menikmati lebih lama lagi sajian Tuhan untuk menggantikan pertemuan yang tak kunjung datang. Aku  masih ingin terpejam! Pergilah, nanti saja jika ingin bercengkarama… dumelku dalam hati, dengan pikiran masih berusaha meneruskan mimpi.

          “SELAMAT PAGI!” suara seorang pria? Siapa sih! Sepagi ini sudah bertamu! Keluhku semakin dibuat jengkel. Apa dia tidak pernah menikmati hari libur? Bukan kewajiban untuk bangun di pagi hari!

        “Adakah orang di dalam?” panggil pria itu lagi, sambil mengetuk pintu tiga kali. Aku mengerutkan keningku sambil menyeka mataku yang silau terkena bias cahaya matahari dari jendela kamar yang belum sempat aku tutup semalam. Aku Menutup kuping dengan menaruh bantal di kepala, tapi sia-sia. Tamu itu tidak menyerah, ia berhasil membuatku mendengus kesal di Minggu pagi. Ketukan itu masih terus terdengar, lagi dan semakin banyak ketukan yang dibuatnya. Cukup! Baiklah aku akan menyambutmu TUAN!

          Dengan malasnya, kuturunkan kaki kananku terlebih dahulu dari atas tempat tidur disusul kaki kiriku lalu berdiri untuk mengganti pakaian tidur dengan baju yang lebih sopan untuk ditemui tamu. T-Shirt putih gading bergambar panda dan celana panjang berbahan kaos. Setidaknya ini lebih pantas dari pada hanya memakai gaun tidur berlengan satu.

         Aku berjalan menuju ruang depan. Terlihat bayangan tubuh pria dari kaca jendela. Siapa dia? Serupa rasa debar tiba-tiba hadir di dalam dada. Namun, aku menepis rasa itu dengan pikiran, tamu ini bukanlah orang yang ia nantikan cukup lama. Masih bulan sembilan, belum waktunya ia liburan panjang.

       “Chalista…”

          “Ya, sebentar!” sahutku sambil meraih handle pintu ruang depan rumahku. Perlahan-lahan aku memutar kunci yang ada di tangan kananku, lalu menekan handel pintu di depan mataku, sambil menduga-duga siapa pria di balik pintu.

Y

         Seperti hadiah pagi, sosok itu tersenyum melihat wajahku yang masih menyimpan ngantuk. Tapi, semua hilang, segala rasa kesal dan gerutuku tadi sirna dalam sekejab saja.

        “Aku sudah lima belas menit berdiri di sini. Kamu baru bangun atau habis memimpikan aku?” sapanya, sekaligus seperti mengadu bahwa ia telah pegal, berdiri lama di depan pintu rumahku. Dan aku merasakan perubahan warna pipiku, hangat dan memerah malu.

         “Maaf, aku…” belum lagi aku meneruskan perkataanku, ia seketika menjadi selimut yang menghapus dingin pagiku. Ia memelukku.

            “Aku rindu padamu…” Ucapnya lembut berbisik di telingaku. Bibirku bergetar, terharu mendengar ungkapan rindunya padaku. Seperti ada uap hangat mengumpul di pelupuk mataku. Aku menangis bahagia, lalu spontan mengangguk, tanda bersedia menemani tamu istimewaku pagi ini dan berbalas membisikan sesuatu padanya,

           “Aku lebih merindukanmu. Akhirnya kamu benar-benar pulang untukku. Aku tidak perlu menunggu dalam mimpi, lagi.”

        “Iya, aku akan menggantikan waktu-waktu kita yang tertunda. Maafkan aku meninggalkanmu cukup lama.” Ucapnya sambil melepaskan tubuhnya dari tubuhku. Ia tersenyum lekat menatapku, lalu bibirnya bergerak kembali seperti akan menanyakan sesuatu.

        “Apakah kamu bersedia menemaniku sarapan pagi? Aku rindu roti bakar buatanmu.”

          Aku mengangguk kembali penuh semangat, memeluknya cepat dan menarik tangannya masuk ke dalam rumah. Pagi ini indah, tamuku hadiah Tuhan yang kutunggu-tunggu. Dan pagi ini, benar-benar ia sangat nyata, bukan mimpi yang hanya singgah lalu lenyap begitu aku terbangun membuka mata.

                                                                                                                                                                                                     18 September 2012,

                                                                                                                                                                                                      Nuzula Fildzah

Tinggalkan komentar

Filed under Cerpenku

Senja

SENJA DI PANTAI

Nuzula Fildzah

           Aku mengerjapkan mataku perlahan, sesekali mencampurkan semilir angin dengan hela napasku. Di tepi Anjungan Pantai Losari, tubuh ini berdiri sendiri, tanpa teman maupun pasangan. Tidak seperti beberapa pasang mata yang sedang saling menatap, membuat pukul lima sore menjadi romantisme indah. Biarlah, aku tetap berdiri tanpa genggaman, rangkulan, dan bisikan sayang.

         Aku melirik jam tanganku dengan hati masih menunggu. Jam lima lewat lima. Biru langit mulai berubah. Tidak sebiru dan seterang sebelum pukul lima, kini warna langit berubah seperti sendu. Kupindahkan pandanganku ke ufuk barat. Matahari tampak bergerak turun, pelan dan perlahan. Sinarnya yang terik, meredup, membuat cahaya kuningnya matahari perlahan menuju oranye, lalu menyatu lambat dengan biru angkasa yang mulai meluntur indah.

            Pandanganku belum beralih dari salah satu keajaiban buatan Tuhan. Sebuah peristiwa indah di setiap sore menjelang malam. Seperti gerbang dunia yang menyambut pintu surga terbuka untuk mempersilahkan matahari beristirahat menunggu pagi di esok hari. Kini, air pantai terlihat pasang dengan tenang, warnanya sungguh menawan, biru berkilat jingga kemerah-merahan dengan sebuah garis lurus yang terlukis cantik di atas permukaannya. Namun, matahari tampak tak setinggi tadi. Aku menghela napas, merasakan romansa kehangatan yang dikadokan Tuhan untuk manusia dan dunia.

            Lima lewat dua puluh menit. Angkasa seperti pipi yang merona, merah membaur di bentangan dunia. Satu titik terang di tengah pandangan mata. Sang Matahari telah berposisi di hadapanku, menyala redup membuat langit seperti memiliki mata yang mengantuk. Sekelompok burung terbang melewati suasana indah ini. Ah surga… Ada kehangatan menjalar di dada. Biru, merah dan oranye benar-benar bercampur menjadi warna yang tak akan cukup hanya dituliskan dengan kata “Indah.”

            Pesona langit biru yang berubah menjadi merah ini dinamakan manusia dengan Senja. Suasana sore yang akan selalu sempurna kala langit tak berawan hujan. Kini, air laut mulai tertimpa senja, berubah benar-benar menjadi oranye yang indah. Pedaran langit membentuk siluet cantik perahu angsa yang berlayar melintasi bayangan matahari yang sudah setengah badan tenggelam. Gulungan ombak berubah menjadi tenang, mengantarkan matahari yang tak akan lama lagi pulang dan menghilang di garis khatulistiwa.

            Hitam berlahan memperlihatkan diri di atas warna oranye yang masih menyala manis. Sinar mentari dengan halus sirna, membuat angkasa berwarna setengah biru kehitam-hitaman di atasnya dan jingga berada di bawahnya. Sebentar lagi, pertunjukan senja akan usai dimainkan Tuhan pada hari ini dan esok sore mungkin akan ditampilkannya lagi.

            Tepat jarum jam di tanganku menunjukan angka enam. Angin pantai berhembus cukup kencang, menggerakan daun-daun pohon kelapa di sekeliling pantai. Membuat aku merapihkan rambutku berkali-kali agar tidak menghalangi pandangan untuk melihat matahari benar-benar pergi.

            Warna senja semakin menipis, kini tinggal segaris. Burung-burung pun telah habis melewatinya. Bulan mulai bangun dari peraduan. Aku memutuskan untuk menyudahi berdiri di sini. Senja di Pantai Losari. Pemandangan langit surga dari Tuhan yang mungkin ia bocorkan di dunia agar manusia tahu makna indah.

9 September 2012

2 Komentar

Filed under Cerpenku

The Next!

Libur dua minggu membuat khayalan datang, bergerumul dan terus mendesak jemari dan ide tertoreh kembali. Rasanya senang! Ditambah lagi tidak sendirian melakoni tulisan ini. Berdua dengan anak muda yang membuatku berkata, “Dia orangnya!” Mantan customer Zula Desain!

Zula mengambil tema tetap cinta, namun lebih dikhususkan ke anak muda ( 16 Tahun +). Kenapa cinta? Bagaimanapun juga, tema ini bisa membuat pembaca merem-melek, ketawa, sedih, geregetan, sampai senyum-senyum geli! Ya, Zula sendiri ingin selalu cinta. So, love is never die!

Mohon doanya ya teman-teman, semoga buku ini segera selesai. Dan semoga kalian penasaran! Haha! Tetep yah! Iya dong, Zula nulis untuk teman-teman 🙂

Zula tulis deh sedikit kata-kata di buku Zula ini. Judulnya? Ada deh!

***

Malam mungkin bisa saja terdiam dan menahan keingintahuannya tentang manusia. Tapi, aku bukanlah malam. Aku manusia yang penuh dengan tanda tanya.

Bisakah aku tahu, tentangmu lebih jauh?

-zulazula- @zulazula

 

Aku tak perlu tau letak nadimu

dimana ia mendenyutkan nama

melalui bahasa yang sulit terungkap

biarkan ia berbisik seadanya

dengan suara paraunya

-Erry- @erryseptiadi

***

LOVE,

Nuzula Fildzah, S.Pd

Tinggalkan komentar

Filed under Cerpenku, PUISIKU, Share Live