Memories

Memories

By: Nuzula Fildzah & Boy

Sepeda air satu demi satu kembali ke tepian. Dengan berhati-hati para penikmatnya bergegas naik ke atas meninggalkan danau dan menempati kursi- kursi kayu panjang – terletak di atas tepian danau. Beberapa pasangan muda, menghempaskan tubuh mereka, bersandar sambil menikmati langit yang berpayung senja. Di atas langit, berbondong-bondong burung gereja mengepakkan sayap mereka, terbang tinggi menerobos awan-awan tipis, terlihat jelas di atas kepalaku dan dia yang masih mengayuh pedal sepeda air, beraksen kuda laut berwarna jingga. Dan sedari tadi, masih berada di tengah-tengah danau.

“Kamu yakin?” tanyaku tertunduk, melihat sepasang sepatu hitam yang ia pakai hari ini. Sepatu itu masih terlihat baru, aku belum pernah melihat ia mengenakan itu sebelumnya, mungkin.

Pandangannya beralih lurus. tangannya didaratkan di atas punggung tangan kiriku. Ia menolehkan pandangannya kepadaku, bibirnya menyimpulkan senyum tipis. Sampai kedua bola mata laki-laki yang telah kukenal satu tahun belakangan ini, menatapku lekat dan lama. Menghantarkan sebuah rasa, yang untuk mengejanya saja, aku harus menahan air mata.

“Sebisamu, ingat aku. Hanya untuk sementara waktu. Kamu mampu, kan?” tanya Rey, sambil memasang wajah penegasan. Satu anggukan pelan saja yang bisa kulakukan.

Andai kamu menunda kepergianmu, Rey… ucapku dalam hati sambil membantu Rey mengayuhkan sepeda air ini ke tepian danau. Segaris senyuman muncul di wajahku, aku mengadahkan pandang ke langit yang mulai memerah saga. Seharusnya aku dan Rey tidak meninggalkan ponsel di mobil, setidaknya itu akan memudahkan segalanya, memudahkan aku untuk membingkai perasaan yang kupunya untuknya hari ini.

“Aku akan memulai hari yang berbeda tanpamu Rey,” ungkapku terbata. Aku merasakan ada sesuatu yang mulai berkumpul di pelupuku mataku dan itupun kutahan agar semua terlihat akan berjalan baik-baik saja.

“Bandung tidak jauh, Nay,” ujar Rey kembali mendaratkan jari jemarinya di sela-sela rambutku, mengelus halus kepalaku sampai aku terpejam berharap tak ada yang terhapus saat matahari kembali bersinar esok hari.

Dua orang yang sangat kukasihi pun telah berdiri. Menungguku sampai ke tepi. Mereka melambaikan tangan, tersenyum dan memasang wajah tak sabar untuk segera mengikutsertakanku pulang. Rey membantuku keluar dari sepeda air, sedikit licin dan aku paling takut tergelincir ke tepian danau. Tangan kanan Rey, membantuku berdiri. Aku akan rindu menghabiskan senja denganmu di sini, melihat angkasa melunturkan biru menjadi oranye ditemani berbagai ceritamu, tentang aku di dalam hari-harimu. Ucapku dalam hati, sambil mengeratkan pegangan tanganku.

“Nayla, simpan ini, besok pagi aku akan mengingatkanmu untuk membukanya,” kata Rey memberikan kotak berwarna biru muda, di atasnya

tersampul pita merah, cantik! Aku mengangguk saja dan langsung memasukkan pemberiannya itu ke dalam tas ranselku.

“Kedua orang tuaku sudah menunggu, Rey,” ucapku, sambil berjalan mendaki naik keluar dari tepian danau. Ia berlari menuju Avanza hitamnya, mengambil ponselku yang tertinggal di laci mobilnya. Kedua orang tuaku, melepas kepergian Rey dengan tatapan sendu, dengan bias senyum di bibir mereka dan ucapan,

“Awal bulan depan, sempatkan hadir. Nayla pasti menunggumu,” ucap Ibu. Rey terlihat mencium punggung tangan Ibu begitu juga tangan Ayah, sebagai tanda hormatnya.

“INGATKAN AKU SELALU, REY!” teriakku, saat Rey berjalan dan hendak memasukki mobilnya.

***

Tiga hari belakangan ini, ia menjadi pemandangan favoritku. Dari banyak pasangan-pasangan ABG hingga orang tua, aku menjadi lebih tertarik memperhatikan satu sosok di tengah danau. Ada bias penantian di sana. Aku mencuri-curi pandang gadis berambut hitam bergelombang yang jika dilihat sekilas, ia sepetri gadis biasa. Tapi, ia bukan gadis biasa, aku rasa begitu. Ada sesuatu yang membawanya ke tempat ini. Kerap kali, aku dapati ia hanya berseragam putih abu-abu dan sendiri saja mengayuh sepeda air ke tengah danau wisata ini. Sebuah Play Book kecil, tidak pernah lepas dari tangannya. Terkadang bibirnya menyunggingkan senyum, kadang pula ia menangis tersedu-sedu sambil melihat sesuatu di benda tersebut.

Gadis itu seolah tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Ia asik saja dengan dirinya, dengan apa yang ia tunggu. Ya, sepertinya begitu. Beberapa saat aku sempat ingin menghampiri, memberitahu namaku dan bertanya siapakah namanya. Tapi aku mengurungkan niatku untuk sementara waktu. Hari ini aku memilih untuk mengedarkan pandanganku saja, kutujukan pada sepeda air berwarna jingga dan gadis itu tentu yang duduk di dalamnya. Entah kenapa aku seperti hilang keberanian. Padahal sebelum menaruh pertanyaan dalam hati terhadap gadis itu, aku bukanlah lelaki penakut, apalagi hanya sekedar berkenalan dengan perempuan berseragam SMA. Tapi kali ini, aku merasa ada yang berbeda. Sesuatu yang tak bisa kujelaskan, sementara ini.

“Wah ternyata di sini Bro!” Sebuah tepukan mendarat di bahuku. AH ANDI!

“Bikin kaget!” balasku sambil menaikan sebelah alisku. Andi kemudian ikut duduk di samping kiriku.

“Patah hati bukan berarti harus madol terus, Boy. Masih banyak perempuan yang lebih baik dari Iren!” Andi mulai meluncurkan nasihatnya. Entahlah, telingaku sekejab berdengung, mungkin tanda tidak suka diberi ceramah olehnya. Kepalaku kuanggukkan saja agar ia cepat menyudahi segala nasihat yang ada di kepalanya.

“Benda itu hanya dilihat sekilas saja, Yah,”

“Kamu sudah memberi tahu Nay tentang pesan di ponselnya?”

“Belum. Takut kejadian setahun lalu terulang, Pah,”

“Tiga hari lagi, biarlah dia mengetahuinya sendiri,”

Beberapa obrolan terdengar samar-samar dari sepasang suami isteri yang berdiri tidak jauh dariku. Sesekali, suaminya menunjuk ke tengah danau, lalu sang isteri mengehela napas panjang, terlihat lelah pula di tatapan matanya.

“Nayla! Ayo kita pulang Nak!” Teriak laki-laki yang terlihat seperti seumuran bapakku itu.

Ternyata, Nayla namanya…

***

Sebuah bisikan menuntunku untuk selalu mengunjungi danau ini. Penjaga mainan danau pun, yang aku sepertinya belum pernah kenali tidak sungkan menawarkan sepeda air miliknya untuk kusewa. Warna Jingga, bapak yang memperkenalkan dirinya dengan nama Pak Santo, menunjukkan kepadaku lalu, mempersilahkanku untuk menduduki benda yang dapat membawaku mengarungi danau di tempat ini.

“Boleh aku ke tengah?”

“Selama masih dalam batas tali, kamu boleh mendayung,” jelasnya. Aku mengangguk, ada perasaan kuat yang membuatku ingin ke tengah. Di sana sepi, aku bisa lebih menikmati pemandangan tentunya.

Beberapa pohon meranggaskan daun-daun dari batangnya, mengambang di atas air, membuat danau berbeda. Aku suka melihat dedaunan yang melayang perlahan lalu terbaring tenang di air. Rasanya menambah suasana tenang. Aku tidak tahu harus apa lagi di sini, tapi benda yang diberikan mama tadi pagi. Sepertinya ini yang memberikanku satu alasan mengapa hatiku ingin sekali berada di sini.

“Nay, kejar aku!”

Debur ombak terdengar, dua pasang kaki berlari saling mengejar. Ada seorang anak lelaki di layar Play Book tersebut, ia mengejar seorang anak perempuan berbaju putih dipasangkan rok merah chiffon merah jambu. Tawa mereka lepas, seperti tidak ada beban yang menumpang pada keduanya.

“Nay, aku akan mengingatkanmu selalu, bahwa aku…”

“Selalu, menyayangiku?”

“IYA!” Kata-kata itu terlisan dengan lugas dan aku tahu, anak perempuan di video tersebut adalah aku. Panas mulai merayap di penglihatanku, setetes air mata berhasil mendarat di pipi.

“Nayla! Ayo kita pulang Nak! Langit sudah hampir gelap!”

Suara Ayah memanggilku, mama melambai-lambaikan tangannya. Sepasang mata terlihat sedang memperhatikanku. Apakah aku pernah mengenal laki-laki itu sebelumnya lalu aku melupakan lagi? Mengapa aku diberi kekurangan ini, hal-hal indah yang selalu terhapus diingatanku setiap hari. Kecuali keluarga yang tinggal bertahun-tahun denganku, lalu mengapa dia yang ada di dalam video tadi tidak hadir bersamaku? Haruskah aku percaya bahwa aku hanya menyayanginya saja?

***

Ini adalah hari keempat, aku mengunjungi tempat indah ini. Puasnya, aku berhasil mengurungkan niatku untuk tidak membolos hanya karena belum move on saja. Biarlah, mantan tidak perlu diingat. Dia adalah masa lalu yang memang seharusnya tidak bersamaku di masa depan. Jam tanganku menunjukkan pukul setengah empat sore, biasanya gadis pelamun itu sudah mengayuh ke tengah danau, tapi dia belum terlihat di sana.

“Pak, beli balonnya satu ya, warna biru,”

Aku menolehkan pandangannya ke arah suara itu berasal. Nayla? Balon? Tanyaku dalam hati heran melihat ia membeli sebuah balon gas. Aku menarik napasku perlahan dan kubuang kembali ke langit-langit yang mulai sendu teriknya. Kursi kayu yang tidak jauh dari tempat penjual balon itu pun ia duduki.

“Boleh aku duduk di sini?”

Tanyaku sesampainya langkahku di dekatnya. Aku tidak tahu, apakah tepat momentnya. Pandangan gadis itu akhirnya sampai padaku, ia mendongakkan

wajahnya ke hadapanku. Tidak ada jawaban, ia hanya menggeser tubuhnya agar ada ruang untuk aku duduk di sampingnya.

“Terima kasih,” ucapku lagi, dan ia kembali hanya memandangi balon berwarna langit yang terus digenggam dengan dua tangannya.

Aku ingin menerbangkan kegelisahanku sore ini. Ada seseorang yang harus kutunggu, tapi aku benar-benar lupa. Aku betul-betul tidak tahu siapa dan untuk apa aku menunggunya! Setiap kali aku berusaha mengingat, otakku seperti berdenyut dan menderu-deru di kepalaku. Sakiiiit sekali rasanya seperti tertusuk seratus jarum! Keadaan seperti ini membuat hari-hariku seperti lenyap seketika, percuma mataku kembali melihat dunia, tapi ingatanku sama sekali tidak menyimpan hal-hal yang telah kujalani di hari sebelumnya. Ini seperti kutukan! Burung-burung gereja mulai menghiasi angkasa sore. Balon gas berwarna biru, kugenggam agar tak terlepas. Aku harus menyampaikan perasaanku ini kepada Tuhan. Kuharap ketika kuterbangkan benda ini, esok aku akan menjadi manusia yang tak mudah melupakan waktu-waktu yang berlalu dalam kehidupanku.

Sendiri itu sudah takdirku. Namun, lelaki yang kini berada di sampingku, ia datang tiba-tiba tadi. Jika boleh kumemilih, lebih baik ia kembali berdiri dan meninggalkanku sendiri. Beberapa kali aku merasakan ia memperhatikanku, tapi aku memilih tidak memalingkan wajahku ke arahnya. Entahlah, ada sesuatu yang berdetak kencang di dalam tubuhku membuatku risih atau,

“Aku mau membeli satu balon,” ucapnya seketika. Aku terperangah mendengar ucapannya. Untuk apa dia ikut-ikutan membeli balon gas sepertiku?

Lelaki setengah tua dengan topi itu memberikan satu buah balon berwarna merah jambu. Aku suka warna itu, tapi aku tidak paham mengapa aku memilih warna biru untuk kuterbangkan. Aku memperhatikannya, ia berjalan ke arahku, lalu kembali duduk di sampingku.

“Aku Nayla,” baru saja aku memperkenalkan diriku padanya. Ia tampak senang, walau baru dugaanku saja melihat ia menghela napas sambil tersenyum simpul.

Aku ingin menerbangkan kegelisahanku sore ini. Ada seseorang yang harus kutunggu, tapi aku benar-benar lupa. Aku betul-betul tidak tahu siapa dan untuk apa aku menunggunya! Setiap kali aku berusaha mengingat, otakku seperti berdenyut dan menderu-deru di kepalaku. Sakiiiit sekali rasanya seperti tertusuk seratus jarum! Keadaan seperti ini membuat hari-hariku seperti lenyap seketika, percuma mataku kembali melihat dunia, tapi ingatanku sama sekali tidak menyimpan hal-hal yang telah kujalani di hari sebelumnya. Ini seperti kutukan! Burung-burung gereja mulai menghiasi angkasa sore. Balon gas berwarna biru, kugenggam agar tak terlepas. Aku harus menyampaikan perasaanku ini kepada Tuhan. Kuharap ketika kuterbangkan benda ini, esok aku akan menjadi manusia yang tak mudah melupakan waktu-waktu yang berlalu dalam kehidupanku.

“Boy. Singkat saja, pasti kamu ingat,” balasnya dengan nada penuh percaya diri.

“Sekarang balonmu tidak sendiri. Kurasa, ia lebih suka memiliki teman untuk terbang,” kata Boy sambil jari telunjuknya mengarah ke sekelilingku. Satu hal yang membuatku terkejut. Mengapa ia bisa menebak tujuanku membeli benda ini, walau tidak lengkap, tapi tidak meleset.

Bola mataku seperti lekat memperhatikan gerak-geriknya. Boy, memberikan spidol merah padaku, di tangannya spidol berwarna hitam dan ia mulai menuliskan kata-kata pada badan balon miliknya.

“Ini doa dan keluh-kesahku. Semoga Tuhan lebih cepat mengabulkan, atau ada orang menemukan balonku dan mengamini,” ucap Boy sambil terus menulis hingga balon miliknya hampir tak ada celah.

“Nay, sekarang giliranmu,” pinta Boy, sambil tersenyum. Senyumku membalas sunggingan bibirnya padaku. Dengan semangat, aku mengikuti

ucapannya. Kebingunganku, doa, dan harapan, kuukir dengan tinta marker merah ini. Tuhan, izinkanku untuk dapat mengingat hari ini, dan dia. Ucapku dalam hati sambil kutuliskan tanpa boleh Boy melihatnya.

Merah saga, kembali menyala di atap bumi. Air danau kembali tenang, sepeda-sepeda air satu demi satu terparkir dengan rapih. Para penjual makanan dan minuman, merapihkan lapak mereka. Aku dan lelaki yang baru saja kukenal beberapa jam di sore ini, saling bertukar tatapan. Ia mengangguk sambil mengangkat kedua tangannya sejajar dengan telinga.

“Siap?” tanya Boy, masih terus memandangku. Aku menganggukan kepala dan mengikuti apa yang dilakukan Boy.

“Kita hitung bersama ya,” katanya lagi.

Aku menarik napas, dan secara bersama-sama mulai berhitung, “Satu, dua, TIGA!”

Dua balon biru dan merah jambu berhasil membuatku melompat senang. Keduanya terbang semakin tinggi, terus meninggi sampai samar-samar terlihat oleh mataku. Balon harapan aku dan Boy telah ditelan langit yang hendak menyambut dewi malam. Perasaan lega mulai kurasakan, walau belum sepenuhnya.

“Besok, kita ke tengah danau berdua, bagaimana?”

“Apakah aku biasa ke sana?” tanyaku, tiba-tiba. Ada gurat berbeda di wajahnya, sebelah alisnya naik, ia memandangku tampak memikirkan sesuatu.

***

“Danau ini terlalu indah untuk dinikmati sendirian, bukan?” akhirnya, setelah sekian lama mengumpulkan keberanian untuk mengenalnya, hari ini, hari kelima aku bertemu dengannya dengan status aku telah mengenal satu sama lain. Sedikit membuat keningku berlipat, ia seperti lupa denganku saat kusapa dia di pintu masuk danau tadi. Mungkin, wajahku terlihat lebih tampan hari ini, sehingga Nayla menjadi pangling melihatku. Hahaha!

Kemudian kita saling diam di menit-menit berikutnya. Kembali membenamkan diri dalam pikiran masing-masing. Ada sesuatu yang tiba-tiba terasa menggetarkan dada. Sesuatu yang… ah, apakah ini cinta? Entahlah. Apapun itu, sejak bertemu denganmu di senja itu aku merasa mempunyai sesuatu yang baru. Sesuatu yang membuatku kembali merasakan ingin bertemu kamu.

“Besok kamu pasti datang lagi, kan?”

Nayla terdiam. Aku memastikan sendiri, ia pasti akan kembali ke sini. Dimana ada aku yang kini mengisi sebagian dari hari-harinya.

***

Lampion-lampion berwarna merah jampu berderet tergantung di antara pepohonan. Indah sekali, cahaya terpijar dari dalam. Di antara dua pohon, terikat sebuah spanduk mini yang bertuliskan, namaku.

“Selamat ulang tahun ya Nayla, anakku.” Ungkap kedua orang tua kandungku, sambil menempelkan bibir mereka di kedua pipiku. Air mata haru, menetes tanpa tersadar. Tapi, ini belum melegakan. Ada yang kurang, hal yang seharusnya melengkapi kebahagiaanku malam ini.

Wajah danau berubah seperti di dongeng-dongeng. Penuh lilin menyala. Aku berusaha keras mengingat hari kemarin, aku mencari-cari dia di alat berlayar sebesar buku kamus bahasa Indonesia ini. Tidak ada dia. Semua gambar wajah lelaki itu saja. Tapi, memang bukan lelaki ini yang aku cari.

BRUK! “PAH! NAYLA!”

“NAY!” Suaraku tertahan, aku hanya merasakan denyutan hebat di kepalaku dan mendengar samar suara yang mulai kuingat, ia pernah hadir lama untukku. Ya, dia seharusnya yang aku tunggu. Tapi, aku bisa merasakan, rasa ini bukan mengarah padanya, melainkan padamu, lelaki soreku.

Aku memiliki rencana seru untukmu hari ini, karena itulah aku menunggu sejak sore. Tapi, kamu tidak datang dan aku tetap menunggumu. Apakah kamu tahu, lampion yang bergantung di pohon-pohon itu, aku ikut membantu memasangkan benda indah tersebut. Sampai lelaki itu datang, mengikatkan dua tali sepanduk bertuliskan namamu. Mungkin karenanya, kamu tidak bercerita bahwa hari ini, ulang tahunmu.

Lelaki itu, dia berlari mengangkat tubuhmu, wajah paniknya dan keningmu terkecup cepat olehnya saat ia menggendongmu dengan panik. Aku cemburu! Dan sekaligus, membuatku bertanya-tanya.

“Tante,”

“Ya? Kamu siapa?”

“Aku teman Nayla. Ini kado untuknya,“ kataku, sambil memberikan benda yang telah terbungkus kertas kado polos berwarna biru gliter. Wajah wanita baya itu benar-benar sedih, matanya merah dan masih terus menangis. Nayla telah dinaikkan ke dalam mobil, entah mengapa wanita ini tidak ikut serta.

“Nay, sakit apa?” tanyaku, agar hilang rasa penasaran ini.

Wanita itu mengeluarkan air mata lebih banyak lagi, dengan suaranya yang terdengar tersendat-sendat, ia berusaha menjawab, “Nay, mudah sekali lupa, Demensia.. dan ini karena saya.”

“Engkau ibu yang baik,” Wanita itu tersenyum kecut, aku tak mengerti.

“Aku hanya ibu tiri, Nak. Nay kehilangan ibu kandungnya, karena aku.

Sejak itu, ia mengalami depresi dan mengidap demensia.” Jelasnya, sambil kembali menangis. Aku terdiam, mulutku enggan bertanya lagi.

Nay, maafkan aku telah menuduhmu, aku yakin kamu masih mengingatku…

***

“Kamu terlalu banyak berpikir, Nay. Aku janji, nggak ninggalin kamu lagi.”

Dia menungguiku semalaman. Rey, lelaki yang diakui seluruh keluargaku, bahwa ia kekasihku. Tapi, mengapa lain nama yang ada di batin ini? Hatiku berkali-kali mengucap “Boy”.

“Nay, seorang temanmu, memberikan ini pada mama.” Ucap papa dan menaruh sebuah kotak kecil, berwarna jingga beraksen bunga-bunga kecil dipinggirnya. Aku suka sekali, dengan tanganku yang masih lemas, aku membukanya. Dan, seketika kotak itu mengeluarkan musik lembut bernada indah. Sebuah kata tertulis pada kaca kotak musik tersebut.

Selamat ulang tahun Nayla. Simpan namaku dalam hatimu, jangan lupakan aku. Walau mungkin, aku hanya akan menjadi masa lalu. Terima kasih, perempuan soreku.

Aku berusaha meredam sedih, dadaku perih menahan kenyataan. Aku ingin bertemu dengannya, tapi apa aku bisa? Aku terlalu lemah. Dan Rey, tak mungkin aku meninggalkan dia. Ia akan menghabiskan hidupnya untuk menjagaku. Baru saja ia katakan demikian sambil menyematkan cincin di jari manisku.

“Rey, apa yang kamu sembunyikan di belakangmu?” Tangan kiri Rey seperti menyembunyikan sesuatu.

“Oh, ini, aku temukan ini di taman rumah sakit. Kuambil saja, sebab

warnanya kamu suka. Cincin dan balon, sweet kan Nay.” Ucap Rey sembari menggenggam balon yang terlihat sudah sedikit menciut. Aku mengambil balon tersebut, lalu tersadar bahwa ini balon harapan milik lelaki itu. Boy.

Aku baru mengenalnya, tapi aku ingin selalu ada di dekatnya. Tuhan, bisakah kau kabulkan?

Kedua bibirku kugigit, aku menahan sesuatu yang hendak jatuh dari mataku. Maafkan aku, lelaki soreku. Mungkin, inilah yang dinamakan takdir.

 

*ditulis dalam rangka mengikuti lomba duet diva press, namun telat mengirim. hahaha huhuhu. jadi posting di sini aja yah semoga suka 😀 *

Iklan

1 Komentar

Filed under Cerpenku

One response to “Memories

  1. adru

    Dapat 4 bintang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s