Dua

Gelak tawa centil beberapa anak perempuan, nyaring menembus telinga lelaki bertubuh tegap dengan jaket kulit hitam yang tak pernah absen dari tubuhnya. Dari bangku barisan belakang, bibir mungil dengan kilapan merah muda masih terus berbisik-bisik sambil sesekali terkikik.

Kenu menggulung naik jaketnya sedikit. Menyapu halus poninya. Sedikit mulai menutupi mata, tapi Sean tak peduli. Ia tetap puas. Hari ini batang hidung Nasya tak dilihatnya di kelas. Bangku sebelah Kenu kosong, ia lebih suka melihat Kenu sendiri, tanpa Nasya di samping Kenu. Sean kembali tertawa kecil, dan,

“Sean,”
Sekejab perempuan itu diam,begitu juga dengan ketiga temannya. Bibirnya mulai tertarik, membentuk lesung di kulit putih pipinya.

“Begitu lebih baik. Matematika nih,” ucap Kenu lagi, sambil kembali membalikkan badannya ke papan tulis. Sean menaikan sebelah alisnya. Antara mengerti dan tidak mengerti. Sampai Kenu kembali membalikkan badannya dan menaruh jari telunjuknya di depan bibir.

Embusan pendingin ruang kelas perlahan menyapu wajah Kenu. Ia memalingkan wajah ke sebelah kanannya. Kosong. Sudah satu jam berlalu, 30 menit ke depan, kelas akan selesai. Aneh, Nasya seharusnya hadir, seperti SMS yang diterimanya satu jam lalu. Satu alasan ia menghadiri kelas hari ini, hanya karena senyum gadis itu. Sesuatu yang berbeda selalu ia dapati setiap kali merekam lekuk manis bibir itu.

***

Kepakan sayap burung gereja membentang di sela-sela warna senja. Kenu beberapa kali menghubungi Nasya. Percuma suara operator menjawab kembali, sudah lima kali.

“Legaaa! Paling besok dia absen, atau keluar! Hahaha,” suara Sean. Kenu memasang telinganya. Sean sepertinya tahu, penyebab Nasya tidak menghadiri kelas.

“Selamat!” Sambung salah satu teman Sean, dilanjutkan dengan lengkingan tawa. Kenu menggelengkan kepala, menaruh kembali helm di sepedanya.

Nggak beres!
Agak ragu, Kenu berjalan mendekati beberapa anak perempuan yang di matanya tak lebih dari anak-anak manja.

Kenu tersenyum tenang. “Sean, mau bareng?”
“Ba, ba, ba-reng?”
Kenu menganggukan kepalanya. Wajah Sean memerah, Kenu semakin yakin dengan apa yang dipikirkannya.

“Tapi, naik itu Ken?”
“Ya. Kalau kamu mau, kamu benar-benar yang pertama,” rayu Kenu dengan sebuah ide di kepalanya.

Binar mata Sean menunjukkan rasa ingin yang besar. Kedua temannya belum dijemput, mereka mendorong Sean untuk ikuþ dengan Ken. Ken menunggu dengan sabar. Langit semakin menipiskan cahayanya. Kata pertama menggelayut dalam pikiran Sean, dan membuatnya mengangguk setuju dengan ajakan Ken.

“Kamu pasti tidak akan melupakan sore ini, Sean,” ujar Ken tersenyum. Entah Sean memikirkan apa, tapi ia merasa bahagia terlihat dari kedua pipinya yang merona.

Iklan

1 Komentar

Filed under Uncategorized

One response to “Dua

  1. anonymous

    Woww ,bintang Lima deh *-*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s