Unsaid

Ia seperti tungku. Hanya bersandar saja, rasa hangat menjalar dan membuatku semakin ingin lebih lama di dekatnya. Suara televisi seakan teredam, lengannya kini melingkar di pinggangku.

“Sini tangannya,” ucap santai. Ia menaruh sebelah tanganku ke atas dadanya. Aku mulai menghela, ada sesuatu berdesir, membuatku tak ingin ia beranjak.

“Hmmm,”
“Ya, sabar ya,”

Kata-kata itu lagi. Bagaimana aku bisa bersabar, kalau kamu tahu aku…

Seketika, ia menerjunkan kecupannya padaku. Mataku terpejam, merasakan letupan di luar nalar.

“Aku,”
“Aku sayang kamu,” bisiknya sambil mengeratkan tubuhnya padaku.

*terkadang bukan kata-kata yang diperlukan tuk menjawab sesuatu yang mungkin memang sulit diungkapkan.*

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s