Andai.

Oleh: Nuzula Fildzah

“Andai waktu bisa kuputar kembali, aku tak akan menyimpan perasaan, selama ini.” Kata lelaki berbaju putih. Suara deburan pantai, seperti menyapu semua harapannya.

Warna langit mulai berubah. Lelaki itu terus berjalan di sepanjang pantai. Langkahnya menyisakan jejak kaki di pasir putih. Matahari di tengah laut mulai merona, menyendukan perasaan lelaki itu yang sedang gulana.

Seharusnya aku tidak perlu memikirkan banyak hal. Kini pasti kamu membenciku lebih dari sebelum aku menghilang. Ungkapanya dalam hati. Langit mulai berwarna oranye tersipu jingga muda. Bias sinar matahari mewarnai air pantai menjadi indah. Namun, hati Erico sebaliknya. Ia merasakan ketidakpuasan pada dirinya. Ia memainkan air yang menyambut langkah dengan beberapa tendangan kesal.

“Aku benar-benar manusia bodoh!”

Y

Embusan angin seperti membawa pesan rahasia. Suara kerindu dan dari hati yang sulit berbicara. Dua pasang mata saling bertatapan di meja kafe yang terletak di daerah kuningan. Mereka saling bertukar pandang, terdiam membentuk tanya yang sulit dimengerti tanpa adanya ucapan.

“Kamu mau pergi lagi?” tanya gadis yang selalu mengurai rambut hitamnya.

“Sepertinya begitu.” Jawab lelaki itu datar.

“Terus, buat apa aku ada di sini?”

“Aku mau melihat wajahmu lama, lebih lama dari biasanya.” Kata Erico menatap mata gadis di hadapannya lekat.

Aku ingin sekali mengungkapkannya padamu. Tapi, aku takut kamu kecewa dan menganggapku memberikan kepalsuan.

Y

Minggu, 23 September 2012

Aku selalu melihat bola mata itu seperti menyimpan ungkapan ingin. Sebuah ungkapan yang sulit sekali kamu katakan. Mengapa kamu tidak pernah mencoba ujarkan semua dengan kata-kata. Kamu takut? Atau ragu aku akan menolakmu? Kita telah sekian lama bersahabat, kita bukan dua manusia yang baru bertemu di dunia. Kamu temanku dari kecil.

Andai kamu bisa membaca pikiranku, mungkin kamu tidak akan membuang waktu di mana kita saling bertemu untuk sekedar memandang. Aku yakin, apa yang ada di dalam pikiranku, itu pula yang ada di dalam pikiranku. Aku bisa merasakan semuanya, aku bisa mengetahui dari setiap gerik matamu yang melirik prilaku aku ketika sedang bersamamu.

Mungkin, kini kamu sedang melihat senja di sebuah pantai. Tempat yang paling bisa membuatmu tenang. Walau aku, di sini sibuk mengusir siluet wajahmu.

Aku sepertinya mulai tidak bisa memaklumimu Erico. Aku mulai benci kesepian. Aku mulai merasakan sakit di hela napasku. Kita bersahabat, perasahabatan yang sudah tidak murni. Aku tahu, aku pun egois. Aku mengekang hatiku, untuk mengatakan rasa itu dahulu padamu.

Aku sengaja tidak mengungkapkan padamu. Biarlah kamu yang mengungkapkan itu padaku. Mungkin aku bisa, namun aku ingin mendengar sendiri dari dirimu.

Aku di sini menunggumu, aku di sini hanya tahu kamu sedang pergi jauh. Surat ini pun, kukirimkan ke alamat nenekmu. Sebab setahuku, di sanalah tempat bersinggahmu sejauh apapun kamu pergi.

Erico, temanmu menikungmu. Aku memberikan setengah hatiku padanya. Salahmu, mengapa kau berikan surat itu kepadanya. Kamu malu? Lalu kini, apa yang bisa kamu lakukan? Aku bersetatus pacaran dengannya. Aku kesepian! Aku butuh sosok teman dekat yang mengerti dan menemani hari-hari. Tapi aku tahu, aku bodoh Co!

Andai waktu bisa kuputar kembali, mungkin aku akan menunggumu Co. Aku tidak menjawab “Iya.” Pada Reza.

Tapi, waktu tidak mungkin berjalan mundur. Sebuah keputusan telah aku ambil. Aku menjalani hari-hariku bersama temanmu, mungkin sahabatmu. Aku tidak pernah tahu.

Erico, apa yang kamu rasakan setelah mengetahui ini semua? Kecewakah? Apa kamu merasakan sesak dan sakit yang aku rasakan setiap matahari bergulir digantikan bulan? Mungkin kamu merasakan. Tapi cukup dengan sesal.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Cerpenku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s