Aku Ingin Cinta.

Oleh: Nuzula Fildzah

 

“Aku ingin jatuh cinta Tuhan, setelah sekian lama, aku memelihara luka di dalam dada. Aku ingin kembali menghirup udara bahagia…”  Ucap Chalista di seperempat malam, Ia mengadahkan kedua tangannya, berdoa sebelum terlelap. Pigura-pigura berukuran sembilan kali sembilan koma dua centimeter, terpajang manis di kanan dan kiri tempat tidur Chalista.

Chalista memandang dua pigura yang berada di sisi kanannya. Ia merasakan lagi uap panas dari dalam kelopak matanya, ada benda cair yang siap meluncur deras. Tapi, ia menahan sekuat ia bisa. Ia tidak ingin menangis lagi. Beberapa menit kemudian, ia mengalihkan pandang ke sudut kirinya. Gadis itu terdiam, mengambil udara di sekitarnya ke dalam paru-parunya lalu dihembuskan kembali kumpulan udara itu ke langit-langit kamarnya. Sampai kapan aku harus seperti ini? Bisakah aku hidup tenang tanpa bayang-bayang kamu lagi?

Y

“Selamat pagi!”  Suara lelaki yang sudah tidak asing lagi di telinga Chalista menyapanya di dapur. Ia sedikit terkejut, masih pukul enam pagi, lelaki itu sudah menjemputnya? Chalista tidak bergerak dari depan tempat ia memasak. Gadis itu  masih tetap fokus dengan telur mata sapinya yang masih belum matang.

“Pagi Za… Kamu sudah sarapan?” sahut Chalista.

“Belum! Jangan ragu buatkan aku juga ya!” lelaki itu berkata dengan rona suara yang terdengar gembira. Chalista menarik kedua otot pipinya membentuk senyum kecil yang sederhana.

“Kamu kok bisa langsung masuk ke rumah?”

“Mamamu yang menyuruhku. Kenapa? Kamu takut?”

“Takut apa?” tanya Chalista heran. Telur di penggorengan sudah matang. Chalista mengangkat telur mata sapi dengan sodet berbahan kayu milik mamanya lalu menaruhnya di atas piring yang berisi satu porsi nasi goreng. Tidak perlu menunggu lama, Chalista langsung mengambil sebutir telur lagi di dalam plastik hitam yang berada tidak jauh dari kompor.

“Ya, takut kalau aku melihat wajahmu yang masih setengah mengantuk dan menghirup aroma tubuhmu yang belum mandi.” Ucap Reza.  Tiba-tiba ada yang melingkar di tubuh Chalista dari belakang.

“Aku mencintaimu Ta…” ungkap Reza, manja. Chalista seketika menjadi kaku, ia tidak mengangguk hanya menolehkan kepalanya sedikit untuk memberikan senyuman.

Y

 “Kamu tahu? Nasi goreng dan telur mata sapi buatan kamu adalah sarapan pagi paling lezat!” Ujar Reza senang. Chalista menatap lelaki di sampingnya dengan manis. Ia melihat sosok pria yang amat menyayanginya. Namun, Chalista belum memahami hatinya sendiri. Hampir dua bulan ia resmi mejadi kekasih Reza, tapi pikirannya masih terbang mengawang kepada seseorang di luar sana. Lelaki yang tiba-tiba saja menghilang dari hidupnya.

“Itu cuma telur mata sapi goreng biasa yang dibumbuhi garam. Nasi gorengnya pun aku buat dengan bumbu siap pakai yang kubeli di swalayan.”

Reza tertawa kecil, lalu mengangkat dan mendaratkan tangan kanannya yang tadi sedang menyetir ke atas kepala Chalista. Mengelus dan memandang gadis itu dalam.

“Apapun yang kamu buatkan, aku suka. Sebab kehadiranmu saja, membuat waktuku berharga.”

Hamparan daun kering memenuhi halaman kampus mereka. Chalista memilih duduk dulu di halaman kampus. Sedangkan Reza, langsung bergegas ke kelas. Chalista menyapu sekelilingnya dengan setumpuk pikiran dan resah di benaknya. Seharusnya ia bersyukur bahwa telah menemukan lelaki bertanggung jawab. Reza berbeda dengan Erico. Erico sering kali meninggalkannya tanpa pesan. Beberapa kali, Erico pergi dalam waktu yang cukup lama dan kembali di waktu yang Chalista tidak duga.

Y

 Aku ingin kamu mencintaiku juga. Aku tahu puluhan senyum itu bukan karena mencintaiku. Aku tahu, kamu hampir lelah dan tersiksa menanggapi perhatianku. Matamu tidak dapat membohongi hatimu Ta… Reza bergumam dalam hatinya sepanjang ia mengikuti perkuliahan di kelas. Suara dosen di depannya tidak terekam dalam pikirannya. Pandangan lelaki itu lurus, seperti sedang serius memperhatikan pembahasan materi Metodologi penelitian dari dosennya. Namun, pikirannya tersesat, di waktu yang telah lewat.

“Cewek berambut hitam legam sebahu itu, pacar lo bro? Sering banget nyamperin kelas kita.”

“Bukan. Dia sahabat gue.”

“Serius? Boleh dong kenalin sama gue! Udah lama gue merhatiin dia juga.”

“Tapi gue sayang dia Za.”

Obrolan dua lelaki itu tiba-tiba terhenti. Reza mengatur napas dan memperhatikan tatapan mata teman sekelasnya itu. Lelaki di depannya seperti kosong. Merenung dan memikirkan sesuatu yang Reza tidak bisa menebak apa itu.

“Lo bakalan jatuh cinta sama gebetan sobat lo sendiri?” tanya dia pada Reza. Hening, Reza tidak menjawab apa-apa.

“Gue mau pergi untuk sementara waktu. Tapi, gue enggak bisa bilang sama dia gue akan kemana.” Ucapnya lagi menundukkan kepala. Reza menggerakan tangan kanannya ke atas pundak sebelah kiri temannya itu. Lalu, ia mulai menggerakan bibirnya seraya ingin berkata sesuatu.

“Apa yang bisa gue bantu?”

Y

               Dedaunan kering telah hancur menjadi remah-remah. Pria tua di halaman kampus menyapu guguran daun berwarna kuning serta remah-remah daun dengan sapu lidi. Chalista, terlihat berjalan dengan terburu-buru. Rambutnya yang panjang seperti melambai-lambai kea rah Reza yang telah menunggu.

“Maaf aku telat,” kata Chalista sambil mengatur napasnya.

“Iya, aku juga baru dateng kok.”

“Ada apa Za. Tumben kamu dadakan manggil aku saat jam perkuliahan.” Tanya Chalista sambil mengambil posisi duduk di depan Reza. Chalista memperhatikan wajah Reza yang tidak seperti biasanya. Tatapan itu sendu, seperti langit di hari ini yang berkabut abu-abu.

Dari dalam tas, Reza mengeluarkan sebuah amplop berwarna biru. Reza terlihat tak yakin, namun ia akhirnya memutuskan memberikan amplop itu pada gadis di hadapannya.

“Maafkan aku. Aku harap kamu mengerti mengapa aku berbuat sejauh ini dan tidak membenciku.”

“Maksud kamu apa Za?” Chalista terlihat semakin tidak mengerti. Reza memintanya membuka surat itu agar Chalista segera tahu kebenaran yang ada.

Dear Chalista,

Untuk kesekian kalinya, aku menghilang. Untuk kesekian kalinya, aku membuatku memintaku menunggu. Aku tahu kamu lelah, aku tahu kamu berusaha untuk mengerti. Aku menyayangimu. Aku ingin jatuh cinta padamu di luar kondisi yang sulit. Jadi, aku pergi dan akan kembali di waktu di mana kita bisa bersama tanpa jeda masalah hidupku.

Semoga kamu bisa menungguku, hingga aku dapat kembali mengisi hari dan jemarimu lagi.

Love,

Erico.

Binar mata Chalista mulai berkaca-kaca. Bingung harus berkata apa. Tapi Reza, tiba-tiba berdiri dari kursi panjang kayu tempat mereka duduk bersama.

“Aku bukan lagi ingin jatuh cinta padamu. Tapi sudah terjadi. Maafkan aku telah berbohong dan menyimpan surat ini lama.”

Chalista tertunduk diam. Ia kecewa. Tapi, ia lebih kecewa pada Erico yang jauh lebih lama dikenalnya.

“Biarlah ia berlalu Za. Tapi, izinkan aku untuk belajar mencintaimu tanpa ada ragu.”

Iklan

2 Komentar

Filed under Cerpenku

2 responses to “Aku Ingin Cinta.

  1. A ha betul, tetap belajar untuk mencintai tanpa ragu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s