Harta Terakhir Ayah

Oleh: Nuzula Fildzah

Mata dengan garis-garis kecil di sekeliling kulit wajahnya, terpanjang lurus kepada tugu masuk gang, bertuliskan “Selamat Datang.” Ia masih berdiri belum dekat dari gang tersebut. Dengan mengenakan kaos putih berlengan panjang dan celana bahan berwarna cokelat tua, ia berjalan dengan tubuh tegap yang seolah-olah ia usahakan. Ia seorang lelaki, tampak dari raut wajahnya ia sudah tidak muda lagi.

Gang dengan tugu selamat datang itu seperti menyambut kedatangannya ramah. Tidak ada kendaraan beroda empat menyusuri, gang ini cukup sepi dari suara kendaraan beroda empat. Sebab, memang hanya kendaraan beroda dua saja yang bisa manyusuri gang ini. Lelaki itu melangkahkan kakinya yang hanya beralaskan sendal jepit. Alas kakinya terlihat lusuh sekali, membuat kaki lelaki itu kumal dan harus segera dibasuh air bersih.

Beberapa orang menatapnya dengan gurat senyum yang tipis. Lelaki itu membalas dengan anggukkan disertasi senyum yang mengembang di antara kumis tipisnya. Ia ingin terlihat baik-baik saja, walau degup jantung dalam dirinya, terasa tidak seperti biasa. Lebih cepat temponya membuat ia berpikir harus segera membaringkan tubuhnya yang terasa lelah.

Langkahnya tiba-tiba terhenti, saat sehelai daun, mendarat tepat di bawah kakinya. Ternyata, dedaunan mangga yang kering, melayang lepas dari ranting sebuah Pohon Mangga Harum Manis.  Lelaki itu, mencongakkan kepalanya ke arah daun-daun yang terbang. Ia menghelakan napasnya, menyeka bulir keringat yang ada di keningnya.

“Aku tidak pernah menduga. Rasanya terlalu cepat. Kau pun merasakannya kan?” ucapnya, seperti berbicara pada pohon di hadapannya.

ÿ

“Mangganya manis banget Ayah!” teriakan seorang anak laki-laki sambil menguyah lahap daging mangga berwarna oranye. Manis buah itu mengecap lugas di langit-langit mulut gadis kecil itu. Ayahnya tertawa bahagia melihat ekspresi anak lelaki satu-satunya itu.

“Dhery mau lagi?” tanyanya.

“MAU! Dhery mau makan mangga setiap hari Ayah…” pinta anak laki-laki itu dengan manja.

“Haha, iya. Ayah akan ambilkan setiap hari untukmu. Lalu, ayah kupaskan di setiap kamu pulang sekolah nak.” Jawab Ayahnya dengan manatap mata anak lelaki semata wayangnya dengan rasa sayang.

Anak laki-laki itu melihat jari-jemari ayahnya menguliti buah mangga kedua. Mangga pertama telah ia habiskan sendiri. Tiba-tiba, ia menghentikan rahangnya berserta gigi-giginya yang masih dikatakan gigi susu itu untuk menikmati buah kesukaannya. Masih ada dua potong di atas piring kaca yang ada di hadapannya.

“Kok gak kamu habiskan?” tanya Ayahnya heran. Dhery menyorotkan pandang agak berbeda pada Ayahnya. Tatapan itu berubah menjadi sebuah pertanyaan untuk lelaki yang telah merawat anak lelaki itu sedari bayi.

“Kamu sudah kenyang?” ia bertanya kembali. Namun, Dhery hanya menundukkan kepala.

ÿ

Bulir air dari dua bola matanya kembali jatuh. Lelaki paruh baya itu, menarik napas dalam-dalam untuk meredakan kencang degup jantungnya. Telapak tangan kanannya, mengelus-elus batang tubuh pohon mangga. Ada guratan penuh makna terlukis di pohon itu, membentuk dua tulisan yang tidak mampu menenangkan kalbu lelaki itu. Ia benar-benar ingin mengulang waktu, namun percuma. Ia tidak akan pernah mampu.

“Maafkan aku Tuhan.” Ucap lelaki itu, dan kembali meneruskan langkahnya dengan lunglai.

Sebuah rumah sederhana, tidak bertembok beton, hanya kokoh berdiri dengan kayu yang jelas bukan dari jati. Tangannya perlahan mendorong pintu yang tidak pernah dikunci. Jikalau pun ada pencuri, dapat dipastikan pencuri itu akan keluar kembali tanpa membawa barang berharga dari kediaman lelaki itu. Sebab, satu-satunya yang berharga dalam rumahnya hanyalah anak lelakinya.

Pandangannya menyapu seluruh ruangan, yang mana kaki lelaki itu dapat langkahi. Tidak ada televisi, radio, maupun kulkas di dalam rumah itu. Sepi. Tapi, ada satu yang menarik perhatiannya untuk dipandang agar hatinya sedikit tenang. Sebuah pigura berukuran tidak sedang, juga tidak besar, melainkan hanya berukuran 9 cm x 9,2 cm berdiri kaku di atas meja kayu yang tampak sudah lama usianya.

ÿ

“Ayah! Aku mau juga difoto seperti anak lelaki itu…” pinta Dhery berlari ke arah Ayahnya. Lelaki itu menangkap anak lelakinya dengan kedua tangannya. Mengangkat tubuh anaknya tinggi, agar anaknya merasa bebas dan terbang seperti merpati.

“Anak ayah sudah besar! HOP!” ucapnya bangga melihat pertumbuhan anaknya yang sehat. Wajah Dhery tertawa seketika, namun kembali merengut, ia merasa sang Ayah tidak mendengar keinginannya tadi.

“Kok wajahnya ditekuk sih?” tanya Ayah Dhery sambil menurunkan tubuh Dhery dari gendongannya.

“Aku mau difoto, Ayah!” Katanya untuk kedua kali. Lelaki itu tiba-tiba saja terdiam. Ia tidak membawa kamera, sebab memang ia tidak cukup uang untuk membeli alat perekam gambar itu. Anak lelakinya diam menunggu, dia menekuk bibirnya ke bawah sambil memainkan jari-jemarinya, menunjukkan kegelisahan.

Sepasang mata Ayahnya melihat beberapa orang photography keliling. Ia langsung memasukkan tangan kanan dan kirinya ke samping celana panjang miliknya lalu didapatkannya beberapa uang receh dan lima sepuluh lembar uang berwarna abu-abu dari hasil merogoh kantong. Lelaki itu berbisik kepada anaknya, untuk menunggu sebentar. Dhery, anaknya menurut dengan wajah sedikit berubah, ada senyuman mulai merekah di mimik wajahnya. Tidak lama, sang Ayah datang dengan seorang pria bertopi barito dengan kamera menggantung di lehernya.

“Sepuluh ribu dua kali foto ya pak.” Tegas pria itu sambil bersiap memotret sepasang anak dan bapak itu.

Dhery menarik-narik tangan Ayahnya. “Ayah! Aku mau duduk di bangku panjang itu, pasti fotonya kita jadi bagus!”

Lelaki itu menuruti keinginan anaknya dengan langsung mengikuti tarikan tangan anaknya.

“Dhery nanti senyum ya. Fotonya akan ayah pajang di rumah kita.”

“Harus! Aku sayang Ayah!” ungkap anaknya sambil memeluk tubuh lelaki itu erat. Suasana hari itu seperti sebuah taman milik mereka sendiri. Penuh kebahagiaan, canda, tawa dan senyuman Dhery yang terbang di mata Pak Dzein, ayah dari Dhery.

Dua pose telah selesai diabadikan oleh pria bertopi barito. Lima lembar uang berwarna abu-abu telah didapati tukang foto keliling yang diminta tolong oleh Pak Dzein.

“Terimakasih pak.” Ungkap sang pria sambil mengipas-ngipaskan dua helai kertas foto dengan tangan kirinya. Beberapa menit kemudian pria itu berbicara kembali, “Pak, ini fotonya.” Ungkap tukang foto keliling itu sambil memberikan hasil cetak foto dari kameranya yang otomatis langsung mencetak hasil potretannya.

Binar mata anak lelakinya tampak sekali tidak sabar, ia ingin melihat hasil dari foto yang dilakukannya berdua Ayah yang amat ia sayangi.

“Mana, aku mau lihat foto kita Ayah!”

“Haha, iya nak! Ayah suka sekali hasilnya.”

Di dalam lukisan cahaya tersebut, mereka saling merengkuh. Kedua tangan Dhery melingkari tangan Pak Dzein. Sedangkan Pak Dzein Ayahnya, melingkupi tubuh anaknya dengan dekap tangannya. Dua senyum mengembang indah dalam foto itu. Mereka tampak bahagia dan terlihat ungkapan cinta seorang Ayah kepada anaknya.

Pak Dzein memandang lekat Dhery. Anaknya yang baru saja memasuki usia enam tahun. Hadiah sederhana telah diberikannya. Ia merasa ini belum cukup, ia harus bekerja keras lagi. Ia ingin anak lelaki satu-satunya mendapatkan hidup lebih baik, kebahagiaan yang menjadikan ia Ayah terbaik di dunia.

“Nak, kita pulang yuk!” ajak Pak Dzein mengulurkan tangan kanannya untuk digenggam.

“Yuk!” balas Dhery sambil meraih tangan Ayahnya.

Mereka melangkah keluar dari taman perumahan yang bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki dari rumah mereka. Awan-awan sore itu bergerak tenang, mengiringi langkah pulang mereka. Namun, tiba-tiba langkah Dhery terhenti, menggoyang pelan tangan sang Ayah, menatap kedua mata lelaki paruh baya itu, dan bibirnya tampak ingin mengatakan sesuatu.

“Ada apa nak?” tanya Pak Dzein sedikit bingung.

“Aku ingin bertemu Ibu, Ayah.”

ÿ

Mata lelaki itu mengerjap-ngerjap, ada hawa panas terasa kembali mendera pelupuk matanya. Ia kembali mendesah, mengusut dadanya yang terasa agak berat saat memasukkan udara ke dalam paru-parunya. Ia hanya merasa mudah dan lega setiap kali sudah menghembuskan kembali udara-udara di dalam rumahnya itu.

Senyuman anaknya terekam jelas di sana. Pigura dengan foto yang belum memudar warnanya. Ya, umur foto itu belum genap setahun terpajang di rumahnya. Ia memandang potret dalam pigura tersebut, meraihnya, dan mendekap potret itu di dadanya.

Ia mulai terisak, matanya yang sedari tadi merah menahan kecewa, mulai melahirkan buliran-buliran air mata. Kali ini, menderas. Membuat pipi lelaki itu basah dan mengkilat karena air mata.

Satu jam telah berlalu, isakan pedih lelaki itu masih tersisa. Pigura berwarna hitam itu, ditaruh kembali di tempat semula. Ia bangkit dari tepat duduk reot miliknya. Tubuhnya masih berkeringat, ada aroma asam yang tersingkap oleh penciumannya sendiri. Namun, ia tidak peduli. Ia hanya peduli jika anaknya dapat ia peluk lagi.

ÿ

“Pak Dzein, kenapa tidak cari isteri lagi?” seorang perempuan yang bertamu ke rumahnya tiba-tiba bertanya pertanyaan yang lelaki itu tidak bisa menjawab.

“Tidak, saya belum memikirkan hal satu itu.” Jawabnya berusaha ramah dan tegar.

Selang dua jam berlalu, ia kedatangan tamu  yang berbondong-bondong mengulurkan perhatian mereka. Ia hampir bingung ingin mempersilahkan duduk di mana orang-orang yang bertamu ke rumahnya. Matanya melihat keluar, masih ada lagi yang datang. Mereka membawa banyak buah tangan. Ada buah, kue, lauk-pauk, hingga sekedar menyisipkan amplop di tangannya. Lalu menatap Pak Dzein dengan seribu tatapan tanya.

“Sebaiknya bapak bersih-bersih badan bapak dulu. Akan ada banyak yang datang pak.” Tegur seorang tetangganya. Lelaki itu hanya diam, menunduk.

“Terimakasih pak atas perhatiannya. Saya sendiri saat ini, hanya ingin sendiri. Belum ingin didatangi.” Jujurnya masih dalam keadaan menundukkan kepala.

Tidak lama perkataan itu terlontar, tamu tersebut mengarahkan semua orang yang ada di dalam rumah Pak Dzein untuk segera pulang. Seperti mengerti suasana hati rekannya, ia undur diri.

ÿ

Seluruh ruangan telah dikelilinginya. Masih dengan baju yang ia pakai tadi pagi. Kaki, tangan, wajah, dan seluruh tubuhnya pun masih kotor. Ia seperti orang frustasi. Tapi dalam hatinya kecilnya ketidakpercayaan itu ada. Ia masih merasakan anak lelakinya akan berlari riang, mengetuk pintu dengan salam dan loncat ke arahnya dan bercerita dengan riang tentang hari yang dijalaninya hari ini.

“Dher, Ayah tetap akan menunggumu di rumah.” Ungkapnya optimis. “Pasti tadi pagi itu Ayah cuma bermimpi. Kamu kan lagi pergi sekolah. Iya, benar, kamu sedang pergi sekolah. Hari ini, kamu akan membawa nilai ulangan Matematikamu dan melaporkan ke Ayah kalau kamu dapat nilai paling tinggi di kelas.” Ucap Pak Dzein tersenyum dengan pandang menerawang terbang.

ÿ

“Ayah! Aku mau pergi sekolah dulu ya.”

“Tapi, sarapan dulu. Ayo diminum dulu susu cokelat kesukaanmu nak.” Lelaki itu memberikan susu cokelat dalam gelas pelastik. Tangan mungilnya mengambil gelas pelastik berisi susu kesukaannya lalu segera menegak susu tersebut sampai habis.

“Sudah! Sekarang, aku mau berangkat bolehkah Ayah?” ucapnya menatap wajah Ayahnya yang ada di depannya. Lelaki itu menempatkan badannya dengan melipat kedua lututnya, menumpukan badannya yang sudah tak sekuat dulu pada telapak kakinya dan pantatnya tidak menjejak tanah agar sama rata dengan tinggi anaknya. Dengan telaten, ia memasangkan dasi berwarna merah ke kerah baju anaknya. Dhery tidak bisa berdiri tenang, seperti ada yang ingin ia kejar.

“Jangan banyak bergerak nak. Nanti tidak rapih bajumu.”

“Tapi, aku ingin cepat sampai sekolah!”

“Iyah, Ayah mengerti nak.”

“Ayo-ayo Ayah cepat!”

“Tumben, kamu ingin sekali datang pagi?”

“Kata Ibu, aku harus datang pagi, Ayah…”

Lelaki itu seketika menjadi kaku. Lalu, ia berusaha mengolah perkataan anaknya. Mungkin ibu gurunya yang berkata seperti itu.

“Ibu guru gak akan marah. Sekarang saja masih jam enam lewat lima belas nak.”

“Hemmmm, Ayah enggak tahu sih…”

“Apa yang Ayah tidak tahu nak?” tanya Ayahnya masih merapihkan baju anak lelakinya itu.

“Gak jadi Yah. Aku mau berangkat sendiri ke sekolah boleh kan?”

“Ayah antar.”

“Tapi, aku bisa sendiri. Aku anak lelaki. Kata Ibu, anak lelaki harus berani dan mandiri gak boleh nyusahin Ayah!”

Pak Dzein menaikkan sebelah alisnya. Tidak biasanya, anak lelakinya itu berkata sedewasa itu. Umur enam tahun sudah tahu kata mandiri dan tidak ingin menyusahkannya? Pak Dzein bertanya-tanya dalam hati. Ia meminta anaknya untuk menunggu. Lelaki itu berjalan ke dapur, mengambil sepiring nasi dengan telur dadar dan kecap manis.

“AYAH, AKU SUDAH KENYANG!” teriak anaknya yang terdengar sampai ke dapur. Lelaki itu tidak memperdulikan penolakan Dhery anaknya.

“Kalau mau ujian, harus sarapan yang banyak.” Ujar Pak Dzein pada anaknya. Dhery menghela napas. Ada raut kesal dan jenuh di wajah anak laki-laki berumur enam tahun itu.

“Tadi sudah minum susu…” ucapnya lagi, dengan menahan sendok berisi nasi dan potongan telur dadar. Namun, Pak Dzein tetap membujuknya untuk memasukkan makanan itu ke dalam mulut Dhery.

Satu suap, dua suap, tiga suap, hingga akhinya jarum jam di dinding rumah itu menunjukkan jam setengah tujuh. Sudah waktunya Pak Dzein mengantarkan Dhery untuk sekolah. Pak Dzein memasangkan tas sekolah anaknya ke pundak anaknya. Dhery tiba-tiba tidak mau berjalan keluar rumah.

“Dher, ayuk kamu harus ke sekolah. Nanti telat loh!” kata Pak Dzein ayahnya.

“Aku gak mau pergi.” Dhery mulai ngambek.

“Kok begitu?”

“Aku mau pergi sekolah, kalau aku pergi sendiri. Aku sudah besar Ayah…”

“Tapi, sekolah kamu itu harus menyebrang jalan.”

“Kata Ibu aku gak boleh takut!”

“Tapi ayah tidak ingin terjadi apa-apa denganmu nak. Kamu satu-satunya harta hidup Ayah…”

Dengan berbagai alasan, Pak Dzein membujuk Dhery. Anaknya terus menekuk wajah. Ia bersihkeras ingin pergi sendiri. Akan tetapi, pada akhirnya Dhery pasrah dan setuju diantar ayahnya. Entah mengapa, ada sesuatu yang mengganggu batin Pak Dzein. Tidak biasanya, Dhery berulang-ulang mengatakan Ibu. Namun, ia kibaskan semua rasa itu dengan doa.

Sekolah Dhery jaraknya memang dekat dengan tempat tinggalnya. Hanya perlu berjalan lurus setelah keluar dari gang rumahnya. Pak Dzein, mulai ragu mengantarkan anaknya itu ke sekolah. Tiba-tiba terbesit sesuatu hal yang tidak nyaman di hatinya. Ia ingin kembali ke rumah bersama anaknya. Membawa anaknya terus dalam dekapannya tanpa sedetikpun jauh darinya.

Sebentar lagi mereka akan menyebrang untuk sampai di sekolah. Sekolahan itu berada tepat di seberang jalan raya. Namun, beberapa langkah lagi mereka akan menyebrang, Dhery menepuk-nepuk halus tangan Ayahnya, lalu berkata, “Ayah, aku boleh minta dibelikan susu buat bekal di sekolah?”

Pak Dzein melihat sekelilingnya. Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, terdapat warung yang sepertinya cukup lengkap. Dengan memberikan senyum, Pak Dzein mengiyakan permintaan anak semata wayangnya itu dan mereka pun berjalan ke mendekati warung itu.

Kurang dari tiga menit, Pak Dzein dan Dhery sudah ada di depan warung serba ada.

“Susu cokelat ya nak?”

“Iya Ayah.”

ÿ

“Kamu lupa membawa susu cokelatmu ini nak.”

Lelaki separuh baya itu, duduk di belakang rumahnya sambil menggenggam sebotol susu ultra yang pagi tadi ia beli untuk anaknya. Matanya menyorot sendu pekarangan belakang rumahnya yang tidak besar. Hanya sepetak. Tempat ia dan anaknya Dhery menanam tanaman singkong dan kangkung. Dari sanalah ia mendapatkan tambahan biaya untuk menghidupi anak semata wayangnya tersebut. Menjadi penjual singkong dan kangkung keliling.

Gerobak lusuh itu seperti menemani kesunyian pemiliknya. Pak Dzein tidak menangis, ia merenung dan sesekali tersenyum lalu terdiam kembali. Ia ingin memaki dirinya sendiri. Dari dalam hati, menyalahi dirinya sendiri. Sebuah cangkul yang digenggam tangan kirinya sedari tadi ia duduk di teras, sibuk mengurat-gurat tanah merah pekarangannya kecilnya.

“Seharusnya kamu tidak aku sekolahkan saja.” Ucap Pak Dzein parau.

“Atau, seharusnya Ayah saja yang mengajarkanmu membaca. Walau Ayah masih mengeja, tapi Ayah masih bisa.” Ungkapnya lagi, menatap ke arah tanah.

Rembulan datang menggulirkan senja. Pak Dzein masih terdiam dan terjaga dalam penantian. Ia belum juga membersihkan tubuhnya yang mulai menyengat penciumannya sendiri. Ia tidak tahu apa yang ia nanti. Kepastian yang mungkin hanya membuat pikirannya menjadi tidak waras lagi.

Jam di dinding rumahnya mulai tertatih menunjukkan waktu untuk Pak Dzein. Jika jam itu bisa berbicara, mungkin ia ingin menghentikan pergerakan dua jarum di tubuhnya agar Pak Dzein bisa istirahat tenang. Sudah jam tujuh malam, Pak Dzein melirik jendela rumahnya yang sudah pecah satu. Kaca itu pecah saat Dhery belajar menendang bola di dalam rumah. Tapi, Pak Dzein tidak memarahi anaknya. Ia malah memuji Dhery dan menyemangati anak lelakinya untuk jago bermain bola.

“Kalau kamu sudah besar nanti, Ayah akan membawamu kursus sepak bola. Seperti orang-orang kaya itu nak. Ayah pasti bisa. Kamu harus bisa bahagia seperti mereka, anak orang berada.” Lirihnya sambil memandangi jendela tanpa kaca tersebut.

Beberapa orang tampak melewati rumah Pak Dzein. Melihat dengan penuh rasa iba. Lampu tidak menyala, sengaja Pak Dzein tidak menghidupkan lampu. Ia di dalam hanya diterangi satu batang lilin dengan redup yang kecil. Ia butuh waktu untuk menenangkan hati. Mengolah ingatannya agar tidak salah mengingat apa yang sudah terjadi di hari ini. Tapi, ada sesuatu yang membuatnya tidak berhenti untuk berkata harus percaya itu telah terjadi.

Pak Dzein berjalan ke kamar tidurnya. Sebuah album foto dengan debu-debu halus melingkupi album tersebut diambil Pak Dzein dari bawah kolong tempat tidurnya.

Baru kali ini ia membuka kembali album itu. Ada pukulan-pukulan cukup kencang di dadanya. Membuat sulit ia mengatur napasnya. Seharusnya Dhery sudah melihat foto-foto ini. Ucapnya dalam hati.

ÿ

“Ayah….” Suara itu muncul saat Pak Dzein merebahkan diri.

“Ayah, kenapa baju Ayah masih penuh dengan tanah merah? Ayah mandi dong…”

Pak Dzein langsung menegakkan tubuhnya dari tempat tidur. Di sebelah ia  tidur, sebuah album foto itu masih terbuka. Ia baru tersadar, kalau tadi sudah tertidur karena menunggu Dhery benar-benar kembali. Lalu, suara tadi, suara Dhery!

“Nak? Kamu sudah pulang?” carinya sambil menengok ke segala arah yang bisa ia jangkau dengan penglihatannya.

Tapi, tidak ada. Dhery tidak ada di kamarnya. Dengan terburu-buru, Pak Dzein bangun dan berjalan ke luar kamar. Ia mencari anaknya di segala arah. Ruang tamu, dapur, kamar mandi hingga luar rumah. Tapi, Dhery tidak ada. Ia benar-benar jelas mendengar suara anak laki-lakinya itu. Ia belum tuli, walau umurnya sudah memasuki lima puluh lima, tapi ia masih bisa mendengar dengan jelas suara anak laki-lakinya Dhery.

“NAK! Jangan membuat Ayah sedih! Ayah rindu sekali padamu.” Pak Dzen berteriak di tengah malam. Langit hitam tak berbintang, seperti menggambarkan suasana hati Pak Dzein yang mulai gamang.

Pak Dzein kembali berteriak. Kali ini ia berteriak tidak hanya di rumahnya, ia turun ke jalan gang rumahnya dan mencari anaknya Dzein dengan tangis yang memecahkan malam.

Satu demi satu, lampu-lampu rumah tetangga Pak Dzein menyala. Dari pintu-pintu rumah, mulai keluar orang-orang yang tersadar ataupun terbangun karena teriakan Pak Dzein. Mereka ingin mendekati Pak Dzein, namun takut melihat keadaan Pak Dzein. Pak Dzein mulai berjalan cepat sambil terus berteriak memanggil nama anaknya.

“DHERY! DHERY! KAMU DI MANA!”

Namun, Dhery tidak muncul di mana-mana.

“PAK DZEIN! TENANG! TENANG!” Dua orang bapak-bapak mendekatinya. Wajah Pak Dzein sudah memerah. Matanya sembab dan pandangannya menerawang kebingungan.

“Anak saya hilang! Belum pulang-pulang!”

“Astagfirullahal’azim…” ucap serempak dua bapak-bapak itu.

“Bapak perlu istirahat pak. Mari saya antarkan pulang.”

Beberapa tetangga pria mengantarkan Pak Dzein untuk kembali ke rumah. Pak Dzein termenung dalam langkahnya. Sesampainya di rumah, ia didudukan  pada kursi reot miliknya. Lalu para tetangga pamit dan kembali menjalankan aktivitas malam mereka.

Pak Dzein mengatur napasnya. Mengingat-ingat apa yang terjadi sebenarnya. Ia mengalami guncangan teramat dalam. Tapi, anaknya tadi memanggilnya, meminta dirinya untuk membersihkan diri. Dengan langkah tersendat-sendat, ia memasuki kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.

Tubuhnya telah harum. Ia memakai sabun Dhery, agar meluruhkan kerinduannya. Masih ada sisa sedih di hatinya. Namun, ia berusaha menyudahi guncangan yang ia rasakan. Di sudut pintu rumah, ada sesuatu yang ditemukannya. Bunga kamboja putih dan seragam milik Dhery. Ada bercak merah di sana. Pak Dzein langsung mengambil baju tersebut dan mendekap erat-menangis dengan isak teriris.

Ibumu, pasti bahagia bertemu kamu nak….

-Tamat-

Tangerang, 30 September 2012

Iklan

3 Komentar

Filed under Cerpenku

3 responses to “Harta Terakhir Ayah

  1. Eh…posting juga TugasGWA nya.. 🙂

  2. Mengharu biru baca post yang ini…
    Dahsyat2 nih cerpennya… Terus berkarya ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s