Tamu

Tamu

Nuzula Fildzah

           Waktu tidak pernah salah menerbitkan matahari untuk menidurkan bulan yang telah lelah menerangi dunia semalaman. Tapi, ada satu hal yang selalu aku tuduh bersalah, yaitu segala sesuatu yang membuat mimpi indahku buyar saat matahari membuat biru angkasa raya. Salah satunya, ketukan pintu di pagi hari.

      Pintu itu terketuk beberapa kali, terdengar dari pintu teras rumahku yang masih berselimut embun pagi. Aku berusaha melanjutkan mimpi, tak peduli siapa yang ingin bertemuku sepagi ini. Namun, suara ketukan itu semakin jelas merambat masuk ke dalam kamar tidurku. Aku abaikan lagi. Mungkin orang itu tidak tahu sepenting apakah mimpiku ini.  Biarkan aku menikmati lebih lama lagi sajian Tuhan untuk menggantikan pertemuan yang tak kunjung datang. Aku  masih ingin terpejam! Pergilah, nanti saja jika ingin bercengkarama… dumelku dalam hati, dengan pikiran masih berusaha meneruskan mimpi.

          “SELAMAT PAGI!” suara seorang pria? Siapa sih! Sepagi ini sudah bertamu! Keluhku semakin dibuat jengkel. Apa dia tidak pernah menikmati hari libur? Bukan kewajiban untuk bangun di pagi hari!

        “Adakah orang di dalam?” panggil pria itu lagi, sambil mengetuk pintu tiga kali. Aku mengerutkan keningku sambil menyeka mataku yang silau terkena bias cahaya matahari dari jendela kamar yang belum sempat aku tutup semalam. Aku Menutup kuping dengan menaruh bantal di kepala, tapi sia-sia. Tamu itu tidak menyerah, ia berhasil membuatku mendengus kesal di Minggu pagi. Ketukan itu masih terus terdengar, lagi dan semakin banyak ketukan yang dibuatnya. Cukup! Baiklah aku akan menyambutmu TUAN!

          Dengan malasnya, kuturunkan kaki kananku terlebih dahulu dari atas tempat tidur disusul kaki kiriku lalu berdiri untuk mengganti pakaian tidur dengan baju yang lebih sopan untuk ditemui tamu. T-Shirt putih gading bergambar panda dan celana panjang berbahan kaos. Setidaknya ini lebih pantas dari pada hanya memakai gaun tidur berlengan satu.

         Aku berjalan menuju ruang depan. Terlihat bayangan tubuh pria dari kaca jendela. Siapa dia? Serupa rasa debar tiba-tiba hadir di dalam dada. Namun, aku menepis rasa itu dengan pikiran, tamu ini bukanlah orang yang ia nantikan cukup lama. Masih bulan sembilan, belum waktunya ia liburan panjang.

       “Chalista…”

          “Ya, sebentar!” sahutku sambil meraih handle pintu ruang depan rumahku. Perlahan-lahan aku memutar kunci yang ada di tangan kananku, lalu menekan handel pintu di depan mataku, sambil menduga-duga siapa pria di balik pintu.

Y

         Seperti hadiah pagi, sosok itu tersenyum melihat wajahku yang masih menyimpan ngantuk. Tapi, semua hilang, segala rasa kesal dan gerutuku tadi sirna dalam sekejab saja.

        “Aku sudah lima belas menit berdiri di sini. Kamu baru bangun atau habis memimpikan aku?” sapanya, sekaligus seperti mengadu bahwa ia telah pegal, berdiri lama di depan pintu rumahku. Dan aku merasakan perubahan warna pipiku, hangat dan memerah malu.

         “Maaf, aku…” belum lagi aku meneruskan perkataanku, ia seketika menjadi selimut yang menghapus dingin pagiku. Ia memelukku.

            “Aku rindu padamu…” Ucapnya lembut berbisik di telingaku. Bibirku bergetar, terharu mendengar ungkapan rindunya padaku. Seperti ada uap hangat mengumpul di pelupuk mataku. Aku menangis bahagia, lalu spontan mengangguk, tanda bersedia menemani tamu istimewaku pagi ini dan berbalas membisikan sesuatu padanya,

           “Aku lebih merindukanmu. Akhirnya kamu benar-benar pulang untukku. Aku tidak perlu menunggu dalam mimpi, lagi.”

        “Iya, aku akan menggantikan waktu-waktu kita yang tertunda. Maafkan aku meninggalkanmu cukup lama.” Ucapnya sambil melepaskan tubuhnya dari tubuhku. Ia tersenyum lekat menatapku, lalu bibirnya bergerak kembali seperti akan menanyakan sesuatu.

        “Apakah kamu bersedia menemaniku sarapan pagi? Aku rindu roti bakar buatanmu.”

          Aku mengangguk kembali penuh semangat, memeluknya cepat dan menarik tangannya masuk ke dalam rumah. Pagi ini indah, tamuku hadiah Tuhan yang kutunggu-tunggu. Dan pagi ini, benar-benar ia sangat nyata, bukan mimpi yang hanya singgah lalu lenyap begitu aku terbangun membuka mata.

                                                                                                                                                                                                     18 September 2012,

                                                                                                                                                                                                      Nuzula Fildzah

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Cerpenku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s