Senja

SENJA DI PANTAI

Nuzula Fildzah

           Aku mengerjapkan mataku perlahan, sesekali mencampurkan semilir angin dengan hela napasku. Di tepi Anjungan Pantai Losari, tubuh ini berdiri sendiri, tanpa teman maupun pasangan. Tidak seperti beberapa pasang mata yang sedang saling menatap, membuat pukul lima sore menjadi romantisme indah. Biarlah, aku tetap berdiri tanpa genggaman, rangkulan, dan bisikan sayang.

         Aku melirik jam tanganku dengan hati masih menunggu. Jam lima lewat lima. Biru langit mulai berubah. Tidak sebiru dan seterang sebelum pukul lima, kini warna langit berubah seperti sendu. Kupindahkan pandanganku ke ufuk barat. Matahari tampak bergerak turun, pelan dan perlahan. Sinarnya yang terik, meredup, membuat cahaya kuningnya matahari perlahan menuju oranye, lalu menyatu lambat dengan biru angkasa yang mulai meluntur indah.

            Pandanganku belum beralih dari salah satu keajaiban buatan Tuhan. Sebuah peristiwa indah di setiap sore menjelang malam. Seperti gerbang dunia yang menyambut pintu surga terbuka untuk mempersilahkan matahari beristirahat menunggu pagi di esok hari. Kini, air pantai terlihat pasang dengan tenang, warnanya sungguh menawan, biru berkilat jingga kemerah-merahan dengan sebuah garis lurus yang terlukis cantik di atas permukaannya. Namun, matahari tampak tak setinggi tadi. Aku menghela napas, merasakan romansa kehangatan yang dikadokan Tuhan untuk manusia dan dunia.

            Lima lewat dua puluh menit. Angkasa seperti pipi yang merona, merah membaur di bentangan dunia. Satu titik terang di tengah pandangan mata. Sang Matahari telah berposisi di hadapanku, menyala redup membuat langit seperti memiliki mata yang mengantuk. Sekelompok burung terbang melewati suasana indah ini. Ah surga… Ada kehangatan menjalar di dada. Biru, merah dan oranye benar-benar bercampur menjadi warna yang tak akan cukup hanya dituliskan dengan kata “Indah.”

            Pesona langit biru yang berubah menjadi merah ini dinamakan manusia dengan Senja. Suasana sore yang akan selalu sempurna kala langit tak berawan hujan. Kini, air laut mulai tertimpa senja, berubah benar-benar menjadi oranye yang indah. Pedaran langit membentuk siluet cantik perahu angsa yang berlayar melintasi bayangan matahari yang sudah setengah badan tenggelam. Gulungan ombak berubah menjadi tenang, mengantarkan matahari yang tak akan lama lagi pulang dan menghilang di garis khatulistiwa.

            Hitam berlahan memperlihatkan diri di atas warna oranye yang masih menyala manis. Sinar mentari dengan halus sirna, membuat angkasa berwarna setengah biru kehitam-hitaman di atasnya dan jingga berada di bawahnya. Sebentar lagi, pertunjukan senja akan usai dimainkan Tuhan pada hari ini dan esok sore mungkin akan ditampilkannya lagi.

            Tepat jarum jam di tanganku menunjukan angka enam. Angin pantai berhembus cukup kencang, menggerakan daun-daun pohon kelapa di sekeliling pantai. Membuat aku merapihkan rambutku berkali-kali agar tidak menghalangi pandangan untuk melihat matahari benar-benar pergi.

            Warna senja semakin menipis, kini tinggal segaris. Burung-burung pun telah habis melewatinya. Bulan mulai bangun dari peraduan. Aku memutuskan untuk menyudahi berdiri di sini. Senja di Pantai Losari. Pemandangan langit surga dari Tuhan yang mungkin ia bocorkan di dunia agar manusia tahu makna indah.

9 September 2012

Iklan

2 Komentar

Filed under Cerpenku

2 responses to “Senja

  1. selalu suka sama diksinya…^ ^. tp gw kira, alur ceritanya si tokoh aku sedang menunggu seseorang. ternyata cuman mengagumi senja di pantai losari yaks.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s