Benalu Harusnya Malu

Hari ini, tepatnya di hari kedua aku menyimpan rasa kecewaku. Entah, aku belum tahu siapa pelakunya. Buka ingin memperbesar atau sengaja menyebar kekesalan. Namun, semoga tulisan ini menjadi sebuah renungan dan pembelajaran kecil yang akan berdampak besar bagi pembaca.

 

**

Tepatnya Tanggal 03 April 2012. Perasaan rindu tiba-tiba datang di saat pikiranku sibuk dengan Flash dan Photoshop. Tapi, rasa penasaran mengetuk-ngetuk dinding sadarku dan seakan berkata,

“Apa kabar website-mu?”

Awalnya, aku enggan menggubris ucapan hatiku sendiri. Tapi ia berbisik kembali,

“Hei, coba buka web milikmu itu! Sudah lama kamu tidak menjenguknya…”

Akhirnya, dengan rasa malas aku menjalankan jemariku, mengarahkan ke setiap huruf untuk berpadu menjadi, k-e-w-a-r-g-a-n-e-g-a-r-a-a-n.net , CLIK!

**

Layar komputerku tiba-tiba hening. Tidak ada logo Garuda Pancasila dan Bendera Merah Putih yang aku buat di sana. KOSONG! Hanya ada icon “:b”

Aku tidak langsung bergejolak. Pikiranku masih setenang air yang belum terlempar batu. Namun, hari ini seketika aku mulai tersentil. Itu website pembelajaran, mengapa ada yang mengusik? Linknya saja hanya kampusku dan dosenku yang tahu. Yah, segelintir teman tahu juga. Otak dan perasaanku mulai menerka, siapa PELAKUNYA?

Ya, itu website skripsiku, hasil jerih payah yang aku lakukan setiap malam. Hasil belajar dengan guru webku dan bertanya sana-sini dengan teman serta buku-buku. Aku mengerjakannya bukan dengan teknik sulap! Tapi hal ini benar-benar mengusik ketenanganku.

Tahukah kau? Hidupmu mungkin terlalu datar atau kurang kerjaan. Atau aku mengenalmu dan kau tak suka denganku? Ah, berbagai hipotesa berkelabat dalam pikiran. Aku tak ingin berprasangka buruk pada siapa-siapa. Tapi yang jelas, kau bukanlah orang yang mulia dan berhati-hatilah tidak akan pernah diangkat drajatmu oleh Sang Pencipta.

**

Dari banyak kejadian, perbuatan buruk akan menemukan lorong hitam. Lorong itu akan melahap pelakunya dan berlahan membawa ia tenggelam dalam kesalahan. Memang efeknya tidak langsung, tapi berjangka. Tergantung apakah ia sudah tobat dan meminta maaf atau diam dengan perasaan tak bersalah dan menganggap hal itu candaan konyol anak muda.

Aku tidak akan mendoakan apa-apa. Itu pilihanku. Aku hanya menulis seperti ini saja dan faktanya mereka yang merasa benar dengan tindakan tidak adil, jalannya tersendat, berliku, dan mungkin dipenuhi paku.

**

Menghargai pekerjaan dan hasil orang lain itu seperti menghargai dirimu sendiri wahai pelaku. Mungkin kau tidak memiliki malu. Atau kau siap untuk berkarat seperti jeruji di penjara. 

Kali ini, tulisanku tak akan kusertakan dengan Love, tapi aku akan sertakan dengan,

 

Segeralah kau tobat benalu…

 

 

 

 

Iklan

2 Komentar

Filed under Share Live

2 responses to “Benalu Harusnya Malu

  1. wah,, dijahilin.. tp itu link ada backupny gag buat jaga2 untuk hal yang tak terduga

  2. astaghfirullah…., kok tega ya mbak?
    tapi, benar…. kalo dlm bahasa jawa, becik ketitik, ala ketara
    dan, aku juga yakin itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s