Aku terikat, Aku ingin bebas.

Posisiku sekarang seperti seorang tukang. Awalnya, aku insinyurnya. Membuat sebuah konsep, memilih bahan, sampai merancang dan membangun bangunan impian itu. Tapi, tunggu! Bangunan itu sekarang telah berdiri, aku melihatnya kokoh dan berfungsi seperti fungsi dan tujuannya. Namun, tidak semudah perkiraanku, ia masih terlihat setengah jadi.

Ya, aku seperti seorang tukang sekarang. Aku merasa berada di lorong kecil dengan satu cahaya terang di depanku. Dekat atau jauh tanganku menggapainya, tergantung pengerjaanku. Tergantung, tangan dan otakku menyesuaikan dengan catatan tambahan pemesan. Sekarang, aku telah melepas pakaian insinyurku, demi keselamatan hidupku. Aku memilih menjadi tukang, aku memilih untuk aman. Sebenarnya ini bukan pilihan tapi keharusan.

Aku membuatnya dengan tujuan dan harapan baik. Aku membuatnya dengan doaku dan doa kedua orang tuaku. Aku membuatnya dengan perjuangan. Aku membuatnya untuk sebuah hadiah, hadiah terindah atas tahun-tahun yang kulewati bersama mereka. Aku membuatnya untuk piala kumpulan ilmu yang telah kutempuh.

Mimpiku terlalu banyak dan aku masih terikat. Aku ingin bebas, memiliki waktu tuk melanjutkan prioritas baru di dalam hidupku.

Aku ingin menjadi bidadari dua orang yang kucintai, karena itulah aku berusaha keluar dengan baik dari lorong redup ini tuk meraih terangnya cahaya itu, agar aku bisa melanjutkan hidup juga masa depanku.

 

 

Nuzula Fildzah, 23 Desember 2011

Iklan

1 Komentar

Filed under Share Live

One response to “Aku terikat, Aku ingin bebas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s