Jabal Pelindung Raya

Jabal Pelindung Raya

Oleh : Nuzula Fildzah

Dua tahun mataku melihat Raya sedang berkabung duka. Bahagia memang masih ada di sela-sela nafas Raya. Tapi, isak raya lebih sering menggema di telinga. Ada apa dengan Raya? Ia tidak pernah bercerita padaku. Aku hanya diam, perhatikan Raya yang semakin berkembang sejak ia baru dilahirkan Tuhan, sampai sekarang ia telah berumur panjang. Kapankah kau akan mati Raya? Itu pertanyaanku, namun bibir ini kelu karena tidak ada satu pun yang menginginkan itu terjadi. Karena kau juru kunci Raya.

Hari ini, aku masih duduk di tempat yang sama. Bersama kerabat-kerbatku yang bertempat tinggal berbeda. Tapi kami tidak pernah saling lupa atau melupakan satu dan lainnya. Kami memiliki visi dan misi. Apa itu? Menjaga dirimu Raya. Mungkin aku sudah cukup lelah, sama seperti teman-temanku. Aku lelah, melihatmu tersakiti dan terabaikan oleh sahabatmu yang kau bilang mereka cinta akan kehadiranmu Raya. Namun, aku melihat tidak banyak yang punya rasa itu. Aku hanya melihat, penyalahgunaan kepercayaan. Mereka bertopeng Raya, mereka tidak mengerti akan perjuangan dirimu membahagiakan mereka yang kau anggap sahabat, patut kau lindungi dan sayangi. Kasihan kau Raya, aku hanya melihat kau diperdaya.

Raya, mungkin kau tidak tahu siapa namaku. Berkali-kali aku membisikkan, hingga kesal dan napasku panas, agar kau mau melirik diriku. “ Aku Jabal, Raya.” Bisikku untuk kesekian kalinya. Kau tetap tak bergeming, tidak melirikku, pasif, hanya sibuk memperhatikan sahabat-sahabatmu yang menyusahkan itu. Kau terlalu polos Raya. Lihat saja, rupamu kini mengeriput penuh debu. Kau tidak terawat seperti dahulu. Cantikmu mulai tersapu tamak para sahabat hidupmu. Aku tidak mengerti mengapa kau masih bahagiakan mereka. Satu hal yang pasti kau harus tahu, aku di sini menjagamu, dan akan menjagamu dari para pencaci hidupmu Raya.

ÑÑÑ

“ Sungguh, aku tidak tahan lagi melihat kemunafikan mereka! “ Ucapku di malam bertaburan air mata angkasa. Malam ini, aku tidak sendiri, para saudaraku ikut mengambil suara. Kami adalah keluarga Jibal, tidak jauh berbeda dengan namaku Jabal. Ayah kami bernama Pasak. Namun kini ia tinggalah nama, aku dan para saudaraku kini yang memandat tugas dari ayah. Melindungi Raya, putri cantik jelita, paling terkaya, dan memiliki pesona luar biasa. Aku pun jatuh cinta padanya.

“ Jabal, kau masih ingin menarik perhatian Raya? Raya terlalu anggun, dia tidak akan terkecoh oleh pesonamu dan kekuatanmu, walau kau terkenal di kalangan sahabat-sahabat raya, menakutkan.  “  Ucap Katau. Aku membalas pesannya itu lewat surat angin. Aku hanya menuturkan beberapa kata, Jika Raya tersakiti oleh ulah sahabat-sahabatnya yang tidak berhati itu sekali lagi, aku tak akan segan menunjukkan kegagahanku.

Tugasku teramat berat, menyimpan segala kepenatan Raya. Walau Raya hanya diam, menerima hal tak pantas untuk dirinya, aku tetap tahu dan aku hampir murka. Namun, aku menahan egoismeku. Aku tidak ingin Raya bersedih, aku masih ingin melihat Raya dan sahabatnya yang masih selalu setia tersenyum. Namun, aku geram melihat beberapa jiwa itu perlahan demi perlahan menyakiti fisik Raya, menumpukkan dosa di mata Raya, mengacuhkan Raya dan tidak menjaga fisik Raya dari galauan cuaca.

Aku tahu, jika aku melakukan hal yang pernah kulakukan dahulu. Raya akan mengacuhkan aku. Aku tidak ingin melukai sahabat-sahabatnya, namun ada panggilan lain yang mendorongku untuk berteriak. Ada panggilan lain yang memintaku menyadarkan, Raya hampir sekarat, coba sadarlah. Raja dari segala raja, ya dia yang memerintahkan. Aku tidak kuasa mengelak, karena Raya adalah anaknya dan aku penompang amanat raja.

ÑÑÑ

Malam menggalau, seperti aku yang mulai galaukan banyak jiwa. Aku kandidat yang terpilih oleh raja. Aku tidak bisa menjauh, karena kakiku terpaku mati di tanah berbatu ini. Jika boleh aku memilih, aku tidak ingin begini. Konsekuensi dari penyakit lama diriku sangat merugikan. Senyuman akan hilang, mungkin banyak jeritan dan tangisan yang mendera. Raya, pasti kalut namun seperti tahun-tahun lalu, ia hanya bisa pasrah menerima.

Katau, Meru, dan lainnya mulai kantar. Berkobar, walau masih tenang. Aku harap, mereka tidak mengikuti aku yang terbatuk-batuk. Aku meminta mereka untuk sabar. Raya masih ingin berkiprah di hati para pecintanya. Mereka adalah pelindung dan pengokoh kaki Raya untuk terus hidup dan menghidupkan. Biarlah aku sendiri menyudahi amanat tercinta ini. Walau aku akan menyakiti banyak jiwa, walau aku akan menenggelamkan bayi-bayi tidak berdosa, walau aku akan terkenang menyakitkan.  Maafkan aku Raya, aku amat mencintaimu, lebih dari diriku. Namun, aku tidak ingin kau terpaku dalam masalah hidupmu, aku ingin menguji para sahabat yang menusukmu nafasmu itu, aku ingin membuktikan kebesaran raja, ayahmu. Biarkan mereka melihat, bahwa kau amatlah berharga, bahwa raja layak untuk dipuja.

“ Jabal, mereka telah berhamburan ke tempat yang mereka anggap aman. Hanya segelintir orang yang masih bertahan di tempat tinggalnya. Kau sudah siap melepas sesak mu itu?  Jika sudah, lepaskanlah ikatanmu, lepaskan duka, dan kau bisa beristirahat dari tugasmu itu. “ Pinta raja, sambil menatapku ragu. Dua hari aku menunda. Sebenarnya aku menangis, melihat sekelilingku berdoa meminta aku menunda hentakkan diri. Aku menangis, melihat sahabat Raya yang baik, bersujud kepada raja meminta ampun akan dosa-dosanya. Aku menangis, aku pilu, ingin berteriak MENGAPA HARUS AKU!

ÑÑÑ

Selasa, 26 Oktober.2010

Pukul 17.02, Yogyakarta.

Ratusan rumah luluh lantah. Tangis mengerang di mana-mana. Debu sesakkan dada mereka. Aku hanya bisa menghela nafas duka. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, selain berdoa lengkapi doa-doa mereka. Aku melihat langit mengabu, seperti pohon-pohon yang telah ber-makeup debu. Sungai mulai keruh, akibat muntahan Jabal. Jujur aku kecewa padamu, aku tidak sanggup berkata amarah atau menuai air mata. Mereka sahabatku, mengapa kau egois luluh lantakan mereka yang tak bersalah? Ya, aku tahu pasti suratan raja. Aku tidak bisa menunda apa yang terjadi, semua ditanganNya.

Kini kau tidak lagi dapat berbisik padaku. Kau sibuk meluap-luapkan nafas panasmu itu. Kau sibuk goncangkan aku dan menjatuh-bangunkan para jiwa yang menyayangiku. Aku tahu, ada sebagian dari mereka yang mencurangia aku. Aku tidak perduli Jabal, aku akan selalu bersama mereka hingga raja menidurkan aku untuk selamanya. Amukkanmu, kini menjadi buah bibir seluruh negeri. Kau menakuti seluruh penjuru manusia yang ada di dalam diriku. Aku merintih di sini. Langit mendukung segala yang kau perbuat, langit terus berteriak, tidak dapat tenang. Mengapa semua seperti zaman jahiliah? Aku tidak ingin berdua. Aku ingin tertawa bahagia.

Jabal, sungguh kumohon hentikan semua ini! Kau mendengar isi hatiku kan? Kau sayang padaku kan Jamal? Tolong sudahi getaranmu, sudahi amarahmu sudahi semburanmu, sudahi semua penderitaan ini. Aku tidak kuat melihat mereka yang mati, mengabu, hingga terkuliti oleh wedhus gembelmu itu.  Aku seperti neraka kini, mereka mengelu-ngelu kan aku. Mereka lempari ku dengan tangis dan gaduh. Aku luruh di sini. Jabal, kau adalah pasakku bukan pembunuh sahabat-sahabatku. Kau pelindung diriku dari goncangan lautan dan tanah. Mengapa kau pasrah diusaikan tugasmu? Tak bisa menjawab kan? Kini kau monster para penghuni. Lihat mereka yang di kota, sesak dibuat oleh abumu. Lihat mereka yang tak punya, tersedu menahan pilu kehilangan sanak saudaranya. Aku mengeluh karena tak sanggup berkata. Kau tahu kan, aku hanya Raya. Raya yang selalu pasrah dan berusaha kuat menahan segala cobaan dunia. Aku Raya, walau sering di dewi-dewikan sebagai penguasa kehidupan. Tapi, hanya rajalah yang berkuasa atas diriku, diri mereka, termasuk dirimu Jabal.

Yogyakarta mengharu biru. Relawan hilir mudik membantu. Pertaruhkan tenanga dan nyawa di sini. Aku bisa berbuat apa? Aku hanya bisa menyediakan apa yang mereka bisa pergunakan. Korban-korban berjatuhan, Jabal terus memuntahkan lahar. Kau Jabal Merapi, salah satu  gunung yang ditakuti. Aku mengerti, lelahmu menjagaku Jabal. Ini suratan, aku hanya memohon pada raja segala kehidupan, ringankan aku yang menanggung pilu-pilu. Karena aku hanya Raya, penompang kehidupan manusia. Aku Raya, alam yang seharusnya selalu mereka jaga. Kini Raja murka, dan Jabal mengungkapkan lewat letusan tubuhnya.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Cerpenku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s