HINA UNTUK CINTA

HINA UNTUK CINTA

Oleh : Nuzula Fildzah

Malam dingin merasuki pori-pori.  Menghantam sekujur tubuh, yang orang bilang kurus melingkar ngeri. Bagaimana tidak ngeri, tubuh ini sekilas tak berdaging, hanya kulit melapisi sendi-sendi dan kini perutku membuncit. Aku rindu tubuhku yang elok dahulu. Daya pikat aku dengan suamiku. Sekarang aku benci cermin. Ia makhluk paling mengerikan, di dunia untukku. Aku tidak suka berkaca, ia sungguh seperti berdusta. Walau aku tahu, kebenaran terpantul di dalamnya. Sebuah kata menghantam wajah, “ Kau tidak berharga!”

Aku lelah menangisi semua yang memang ternyata nyata. Apa salahku, mengapa harus aku? Kini, duniaku bagai terbalik. Seperti tubuh ini, menciut seperti terhisap angin.

***

Menangis, bukanlah pengobat siksa. Bergantian mereka menikmati. Satu jam lalu, Pengusaha kaya telah memakai jasaku. Menikmati tubuh remajaku. Ia berkali-kali bertanya, “Kamu suka punyaku? Nikmat kan?” Aku tersenyum kecut. Lidah ini seperti tong sampah! Spermanya mengalir di lidah. Muak! Ini dosa. Aku tahu, ini HINA!

Subuh menjelang pagi, di sampingku pria berbeda kembali melumat diri. Kali ini, ia bermain di bawah. Lalu merangkak ke atas, menindihku, kemudian memaksa melayani dirinya penuh napsu. Ini gila! Mereka setan dunia! Tiga tahun kulakukan tanpa rasa. Aku menutup mata, batin, dan mengacuhkan keberadaan Tuhan. Aku tidak ingin terbuai, namun uang mengendalikan pikiran. Gadis perantau, dengan tumpukan galau yang dibawa dari desa Bengalau. Ibuku mati, diperkosa rentenir desa. Ayahku lari, tinggalkan aku bersama dua lelaki belang di ranjang. Mereka rentenir penagih hutang ayah di meja judi. 17 tahun umurku waktu itu. Ironis, vaginaku telah dijejaki lelaki. Kata hina melayang, terbang menampar wajah mudaku. Aku merintih dan ingin mati! Sayangnya, aku takut neraka. Api yang menyala pasti belum siap kukecap di akhirat. Jalan pintas datang, saat aku sampai di kota. Andini, wanita modern, cantik, dan terlihat kaya. Rasa iba darinya, membawaku dalam dunia yang salah.

***

Aku menatap wajahnya yang biru. Di meja jati, terhampar pil-pil antibodi. Umurnya panjang, karena obat-obatan. Dua bulan lalu, suamiku membeberkan ketidakputihan hidupnya, dan pria ini meninggalkan aku dengan kondisi mengandung buah hati kami. Aku mengecam wanita tua yang tidak pernah buatku bahagia, selalu saja meninggalkan tanya. Aku terluka, kau tahu renta!

” Mengapa kau tidak mati saja? Aku ini tak jelas anak siapa. Kau membuatku hina di mata pria yang kucinta! Kau bungkam, namun darah hina kau mengalir dalam diri ini! ” ia hanya menangis.  Dahulu, aku pernah bertanya kepadanya, tentang penyakit yang ia derita. Ibu, mengapa tubuhmu dipenuhi benjolan busuk seperti itu? Ibu sakit apa?

***

  Aku tahu, kamu membenci sosokku. Aku ibu, tanpa pendamping di sampingku. Kala malam datang, kau kerap tanyakan siapa ayahmu. Maafkan ibu sayang, ibu tidak tahu. Begitu banyak lelaki temani malam dan menuangkan benih pada ibumu ini. Aku tidak tahu dan seharusnya kau tidak pernah tahu.

Obat-obatan itu memang denyut nadiku. Penyakit hina, telah mendarah di tubuhku, empat tahun lalu. Setelah mataku terbuka dan membulatkan tekat, berhenti menjual diri. Semua karena kamu, anakku Cinta.

Sosok Suryo, dari awal aku tidak suka padanya. Wajahnya mengingatkan aku pada seorang lelaki buaya. Ia pernah merayuku menjadi isteri simpanannya, karena isterinya tak memuaskan syahwat dirinya. Ia pikir, itu sanjungan? Rayuan itu hinaan! Namun,kau menikah dengannya. Rahasiaku terbongkar, karena benar lelaki buaya itu ayah kandung Suryo.

Cinta, mengapa kau menatap ibu seperti itu? Ibu ingin sekali memelukmu, seperti dahulu saat kau ibu susui. Ibu tahu, suatu kesalahan kau kususui dahulu. Bukan gizi yang kau dapat, namun hinaku tertular padamu. Maafkan ibu cinta, dosaku terbawa dalam aliran darahmu dan kuharap tidak pada benih di dalam rahimmu. Nafasku terasa berat, urat-uratku tertarik erat, sekujur tubuh nyeri. Cinta, maafkan ibu…

***

Aku dan ibu terdiam. Hanyut dalam suara malam. Tidak tahu apa yang ibu pikirkan, mungkinkah penyesalan? Tubuhnya rapuh, wajahnya tak lagi sesegar dahulu. Aku tak ingin menua dengan derita seperti dirinya. Aku malu! Ini semua HINA! Suryo menalakku, siapa lagi kini yang mencintaiku? IBU?

Kami saling bertatap, angin malam hembuskan hatiku yang biru. Tangannya terlihat meraba kedua dadanya, terlihat napasnya terengah-engah. Ah, mungkin penyakitnya kumat, seperti biasa ia sering sesak, lalu membuang dahak. Hijau berbau busuk. Jijik aku! Namun ia tetaplah ibuku yang harus kubasuh dari segala debu. Aku manatap ibu, kedua kelopak matanya kini berlahan sayu dan berlahan menutup. Mulutnya tiada lagi bergetar seperti berzikir pada Tuhan. Seketika Risau mulai mencekik rasaku, ada apa dengannya? Aku memang membencinya, namun ia tetaplah ibuku, walau ia menjadikanku hina. Aku berlari memeluk erat ibu.

“ Ibu, bangun bu…” Rintihku, berusaha membangunkan wanita yang melahirkanku. Ia tidak bergerak, kedua pipinya lembab air mata. Ia menangis seperti berduka beberapa menit yang lalu sepertinya. Sesal menyilet kalbu, ia tampak tak bernyawa, apakah ia telah mati? Semua ini, menampik segala buruk di dirinya. Menutup segala amarah. Jari-jari ini, masih saja berkali-kali menggoyangkan tubuhnya. Ia terlihat kaku, tubuhnya terasa dingin, kupegang kedua lengannya, tak ada denyut di sana. IBU BENAR-BENAR TELAH TIADA!

Malam berurai duka, langit deskripsikan untaian pilu rasa. Di bawah kursi goyang tua, ibu kubaringkan. Belum dengan kain kafan, aku masih menatapnya nanar. Ayat Tuhan terucap perlahan dari bibirku yang tertahan meluncurkan ungkapan, “Maafkan aku Ibu. Aku sa..ya..ng padamu.” Nyata sudah, Ibu telah tiada, aku tidak siap merana. Aku memang hina, dan kini Tuhan menjawab semua. Aku tak pantas dicinta.

Sebilah pisau, menatapku nanar. Ikut dengan ibu atau bertahan dengan calon bayiku? Sudahlah, aku tidak ingin hina ini berkelanjutan, anakku pintu harkat martabat kehidupan yang baru. Hina Ibu memang untukku, namun hinaku bukan untuk peri kecilku. Secarik kertas kutemukan di bawah kursi Ibu, perlahan aku membaca tulisan Ibu, “Maafkan ibu Cinta. Jaga cucukku, bayi dalam kandunganmu. Ia penerus keluargamu, keluarga Ibu.”

Tangerang, 16 Desember 2010

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Cerpenku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s