Penantian Terakhir

Tentang Seseorang Reff. Nuzula Fildzah by nuzulazula ( Klik untuk Mendengar )

Seperti berkabung dalam duka

Mengintai harapan dengan rasa pasrah

Tubuh itu ada di ujung sana

Melambai-lambai

Memanggil aku yang berdiri tak pasti

***

 

Cinta adalah anugerah dan hadiah Tuhan untuk jiwa-jiwa yang agung dan peka.

Itu ucapmu dulu. Ketika gulita belum membungkus dirimu. Aku di sini, merintih berbisik lirih, ” Akankah kau hadiah Tuhan untukku? Kau hilang, meluap tanpa pesan.”

 

***

 

22:22

Semua bergerak, tidak maju. Semua melangkah, mundur dalam kubang masa lalu. Saat kita berdansa di bawah rembulan yang menerangi iri tatapanmu padaku.

“Aku ingin dirimu yang terakhir untukku. Tanpa kata. Kecuali.” Ucapmu sambil terus memainkan jari-jemari lentikku. Aku tersipu, sunggingkan bibirku yang sejak tadi ingin sekali mengecup bibirmu. Kamu menatapku tanpa jeda, tanpa kedipan sedetik pun. Apakah kau menghipnotis aku? Terus dan terus membawa aku jauh masuk dalam alunan rayumu.

“Aku ingin kamu menjadi lampion kecil yang terus menerangi ruang hatiku. Di sini,” kataku sambil meletakkan tangannya ke dada. “Karena kamu, yang pertama. Kamu pula yang terakhir.”

Kami terus melangkah, berdansa tanpa melihat menit dan waktu memburu malam. Tak ada ungkapan bosan, saling melempar pandangan yang seakan berujar ” Kita Selamanya.”

 

***

 

Setahun kemudian…

22:22

Di taman ini, dalam jejeran bunga-bunga Lily. Mereka masih berwarna putih, tak ada ubahnya kala dahulu kamu mengecup keningku. Mereka masih sama, berada di sini. Mereka masih sama, harum mendamaikan jiwa manusia yang sepi. Mereka masih mengharapkan ada kesetiaan cinta di taman ini. Tapi, ada yang tidak sama lagi. Kamu.

Rembulan menghardikku tak senang. Air mata mengalir deras di wajah dan menggenang di tanah. Ini dusta atau hanya mimpi burukku? Kamu tak hadir untukku, kamu tak hadir untuk berdansa lewat untaian setia. Aku menunggumu, hingga embun dan daun saling berdekatan mendentingkan teguran bahwa, kau telah sirna.

Jejakmu tak kutemukan di semak belukar. Harum tubuhmu tak tercium di pelapah-pelapah pisang. Dan janjimu untuk selalu memberi pesan, tak kudengar oleh angin yang biasanya menyampaikan padaku. Kamu menghilang. Entah, raja siang atau ratu malam yang menculikmu karena iri kau terlalu mencintaiku.

” Namun, di mana kau berada. Aku akan menunggu. “

 

***

 

Ini bukan tentang rindu.

Ini bukan tentang kecewa.

Ini tentang kamu.

Kamu lampion kecilku yang berjanji akan terangi hati.

 

Aku bosan menunggu.

Aku bosan termangu pada waktu yang kian menuakan aku.

 

Aku di sini kasih.

Masih di sini, dengan catatan janji meluap bersamamu hingga surga tempat terakhir kita.

 

Tak ingin aku berharap.

Bukan aku , hanya sesat.

Bawa aku jika kau memang ada di dekatku.

Bawa aku jika kau mengarwah tanpa sepengetahuan sadarku.

Karena kau, penantian terakhirku.

 

 

“By: ย zulazula

Dituliskan untuk rasa bosan menunggu SIAKAD yang benar-benar membosankan. Terlahirlah galau fiksi ini.

Terimakasih.”

Iklan

12 Komentar

Filed under Cerpenku, PUISIKU

12 responses to “Penantian Terakhir

  1. kunjungan pertama..
    salam kenal sobat..

  2. sihijau

    Haloo.. Menarik ceritany! Hihi..

  3. ulil fatwati

    good job…

    i love language in this story….
    so touch
    ^_^

  4. Menunggu. Seperti menetaskan telur ayam dalam dekapan biawak, hilang bersama cerita. Begitulah. ๐Ÿ˜€
    Keren zula!

  5. muhammad farhan

    eh beneran itu suaranya ade..??
    wah bagus juga tuh, napa ga jadi penyanyi aja de..???

  6. mantab…..

    suaranya masih bagus aja de… ๐Ÿ™‚

    sukses ya…. ๐Ÿ™‚

  7. KEREN ! 4 thums up ! ๐Ÿ™‚

  8. listi

    ga ada yang perlu ditunggu sel,semuanya cuma sekedar janji sesaat ๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s