Perjalanan Adam dan Hawa

Prolog ( HAWA )

banyak jiwa berkata, ” Keabadian hanya mimpi belaka. “

Adam dan Hawa, dahulu kasih mereka tak beradu pada waktu

surga singgahsana indah, nikmat tanpa duka

kamu ingat dahulu, tawa terlempar manis padaku

sebelum khuldi melelehkan abadi

Prolog ( ADAM )

surga, nirwana terindah bagi Adam dan Hawa

detik, menit, serta jam bersatu dalam sebuah anugrah, tak ternilai

sempurna, kala Adam dan Hawa bersatu abadi

namun kala adam goyah dalam hasutan,

bujuk rayu syetan memupuskan semua

kita terpisah

***

mereka tak berdaya,

Khulbi terlumat rasuki raga mereka

Tuhan murka,

Syetan tertawa membakar neraka

Adam dipisahkan oleh Hawa,

terdampar di alam fana

***

( HAWA )


mungkin inilah sebuah nyata

luas membentang hingga arah saja butakan mata

jemarimu tak lagi menghiasi sela jemariku

hilang arah aku di dunia

takdir ini meretas hati

aku sendiri menghimpun nyali

melihat ke atas, hitam dengan gulungan asap berhias titik-titik terang

sebuah suara membisikkan, ” Itu langit berbintang “

aku mencarimu, wahai belahan hati

Adam, kau tak kutemukan,

di atas ataupun di bawah kakiku berpijak

Tuhan, aku gusar

( ADAM )


tak lagi bisa kulihat paras ayumu

dalam setiap lembut wajahmu memandangku dengan penuh manja

dunia membuatku tak sempurna

dunia membuatku kehilanganmu

entah sesaat atau selamanya

kamu bias wahai hawa

tanpamu begitu menyiksa

rasa ini semakin menggetas.

kulihat laut semakin keruh, bayangmu tak jua kutemu

Aku mencarimu

( HAWA )

sebuah sinar menusuk penglihatan

silau, kupikir parasmu yang memukau

ternyata surya benda ciptaan Tuhan penghias dunia

sehelai daun besar kulilitkan

menutup kedua aurat yang kerap kau lihat

surga tempat kita bernikmat tanpa dosa

dunia ini hampa

dunia ini tak seindah nirwana

tanpamu tertatih langkah hati

berkelit, jika aku tak butuh dirimu

Tuhan pertemukan aku

Adam seruan kalbu

( ADAM )

kulihat warna merekah dalam tangkai melambai

aku merasa itu tangan indahmu.

pelan kumendekat..

tidak, itu bukan kamu!

melainkan bunga yang mekar begitu indahnya

setiap helai kuntumnya benar-benar mengingatkanku akanmu

kala nirwana masih menjadi tempat kita memadu kasih

Wahai Hawa,

taukah engkau yang kucinta?

sinar dunia begitu menyengat sekujur tubuhku

aku hanya bisa berteduh dengan awan dan semak belukar ini

maafkan atas sebuah takdir yang terus menyisa batin

aku menyisir gunung terus dan terus kudaki

Kau dengar secercah doaku Tuhan,

“Aku ingin bertemu dengannya”

( HAWA )

gunung-gunung menjulang tinggi,

jurang-jurang terjal menganga lebar,

pohon-pohon raksasa tumbuh berserakan,

menghadang nyaman diriku di bumi

jutaan, berkali, berulang telah kuterbangkan,

ribuan khilaf pada SANG KUASA

penggenggam alam semesta

namun diam menyekutukan sekelilingku

tak ada suara,

penunjuk dirimu di mana

( ADAM )

setidaknya padang pasir ini tak cukup kuat merenggutku,

bertahan walau langkahku mulai terseok

fatamorgana itu yang selalu kutemui,

ketika aku menoleh, setelah selesai ku panjat doa pada Ilahi

kamu ada

sekejap,

lalu,

menghilang debu

inikah suara sang alam yang tak mengampuni perbuatanku?

aku tak perduli akan sabda alam,

kuyakin kutemu kamu disatu pijakan bumi

aku masih berjalan dalam letihku,

mencarimu..

hawaku..

( HAWA )

perih mulai menusuk pori-pori

tangis tak lagi mengebalkan sepi,

hapuskan sukar

tumbuh semak belukar

lilitkan nadi nafasku yang hilang

aku tepar!

syetan kau penggoda terbesar

tertawakah kalian?

melihat aku tak imbang tanpa Adam!

Mata ini kering,

terkuras lelah yang mengakar di rintih jiwa

aku berjalan menyusuri laut

menapaki daratan,

takhlukan gelombang,

jinakan alam liar

Adam,

aku tak khawatir pada kelam

ikrar telah bermuara di tiap aliran darah

kita telah satu dahulu

kita adalah takdir dari pendahulu jiwa

kita pesan pembawa nama Tuhan

angin hantarkan nafasku padanya,

tanamkan sabar walau bertelanjang arah serta pikiran

Kan kutemukan Adam di bawah jingga berpurnama

berbalut rupa Arfah

( ADAM )

menetes setiap cucuran keringatku,

basahi setiap jalanku menujumu.

aku hilang arah Tuhan

langit dan gunung menyeruak membelah cakrawala

tak cukup kujadikan petunjuk

petunjutk tuk temukan belahan hatiku, hawa

serasa aku suri dibuat dengan alamMu

malam hanya sendu,

pilu dan kelu

kutuntaskan janjiku temukanmu,

Padang Arafah berbulan purnama

( HAWA )

Dunia tampak tak balita

paras tak semuda di surga

mungkin abadi tak lagi berjubah di diri

seperti aku menua di dunia

kembali kususuri ialalang pagi

bernyanyi dengan selipan doa,

berjumpa kau sang cinta

Aku lelah

jutaan kali berteriak menikam rintang

namun perawakmu sedikitpun tak hadir

Ah, lelah saja seperti rekayasa

kini, kuselami deburan pantai

mengapung di antara bentangan halang

harum tubuhmu mulai menerawang

terbawa angin di antara pasir-pasir

“Adam, kau di sana?”

( ADAM )

esakku tak memumpuni,

seluruh raga dan batin mulai jengah

tahun demi tahun berlalu tanpa sebuah hikmah

benar adanya akupun lelah

dimana sesungguhnya KAU tempatkan hawa wahai sang pencipta?

mengapa langkahku yang hampir habis ini tak sanggup merengkuhnya?

sungai,

laut dan telukhampir semua kusisiri

tak ada kamu,

tak ada nafasmu

pada alur air mengalir…

jejakmu kutelurusi,

seraya nyata membelah gemercik banyu

kaukah disitu?

wangi khas tubuhmu mengitari sekeliling udara di dekatku

***

EPILOG ( ADAM dan HAWA)

samar-samar dua jiwa yang berjauhan

dekat digandeng tangan angin tuntun jalan

kedua mata saling bertatap

rindu memuncah

meluap dorong tenaga

mereka berlari

saling mendekat berharap tak salah melihat

Adam dan Hawa

tangis isakkan mereka berdua

tak mudah bertahun-tahun hidup terpisah

di dunia yang abstrak akan fakta

fana menggulung imaginasi buta

namun ini nyata

mereka tak tersesat jalan yang salah

dekapan lepaskan gusar

Adam merengkuh Hawa bahagia

Hawa mengeratkan kedua tangannya

menangis luapkan rindu akan cinta

” Tuhan kami tak ingin terpisah”


( 18 DESEMBER 2010 – @zulazula & @danangwidoyoko )

Iklan

13 Komentar

Filed under PUISIKU

13 responses to “Perjalanan Adam dan Hawa

  1. Perjalanan Adam dan Hawa; aha… betapa aku larut dalam membacanya… hmmm… bagus banget… [makasih ya… telah berbagi dengan karya yang bagus ini] Selamat terus berkarya dan salam kenal…

  2. pramudito

    keren bro!
    puisi panjang selalu gue suka!

    tapi kata singgahsana diubah ya jadi singgasana. kalau singgahsana, seperti menyuruh singgah ke sana. 😛

  3. bagus deh permainan katanya…
    sukaaa….^^
    nice poem…

  4. wooww… kureeennzz..!!
    nice posting…!!!
    kk ga bosan bacanya juga,, hehehe…

  5. rangkaian kata yg menakjubkan,
    sungguh aku terlarut dlm suasana adam hawa ..

  6. LUKAS

    Baguuus….. Siiip
    salam kenal: Lukas ES

  7. Saya gak suka gambarnya….cari gambar lain deh,,,puisinya bagus! saya sangat suka, tapi karna ada gambar itu jadi beda arti…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s