Senyuman Alfa

Arti Senyuman Alfa

By : Nuzula Fildzah

Today I dreamed a smile…

You smiled at me.

I smiled at you.

But it’s just my dream.. not true…

Really I hope, I can beside you… Alfa…

“ Cha? Lagi apa lo?”

“ Eng, enggak lagi apa-apa kok Dis.” Ucapku gugup, sambil langsung menutup buku tulisku, yang hampir di intip Gladis. Huuf.. untung ajah, dia enggak melihat tulisanku, kalau Gladis lihat, bisa-bisa mulutnya cerewet.

“Eh Micha, lo ngerti enggak tuh yang dijelasin Pak Bimo? Gw enggak ngerti nih.apaan sih tuh rumus relativitas?”

“ Itu… itu… um…kayaknya gw juga enggak mudeng Dis…” kataku sambil garuk-garuk kepala belagak bingung.

Jelas aja gak mudeng, wong aku dari tadi sama sekali enggak perhatiin Pak Bimo, aku asyik nulis – nulis di buku catetan fisika. Ini gara-gara mimpiku tadi siang. Jam istirahat, bukannya aku ikut jajan sama Gladis , aku malah tidur dikelas. Dan aku mimpi dia! Iya, dia cowok yang udah setahun ini ada di dalam fikiranku. Dan hanya mampu ku lihat dari jendela kelasku. Ingin rasanya aku menyapanya, namun kakiku enggan melangkah mendekatinya. Padahal, dia dekat sekali dari penglihatanku.



Kenapa sih, hari ini sekolah harus libur? Padahal, udah seminggu ini, aku enggak melihat secret admire ku itu. Entah dia hilang ke mana. Apa dia ditelan bumi ya? Huff.. rasanya pengen banget liat dia hari ini.

“Teot, teot, teot, Call for You!!!” Nada dering N70 ku.

Gladis? Ada apa ya siang-siang gini telpon?

“ Yup! Hallo, Gladis. “

“ Cha, sore ini temenin gw nonton Band The Javu yuk?”

“ Band The Javu? “

“ Iya, Band anak SMA sekolah kita Cha yang main ganteng-ganteng, terus ada band-band lainnya juga, ada artis juga Cha! Elo enggak tahu ya? Padahal ini bisa jadi topik asyik di majalah sekolah!”

“ Oh…”

“ Duh, jangan oh aja. Gimana mau enggak? Kalau mau, lo nanti dandan yang cantik. Heran gw sama lo Cha, wajah oriental manis, badan tinggi semampai, kulit putih, pokoknya diliat elo tuh boleh lah, tapi jarang banget Up to date style lo. Gw enggak mau tau, entar lo harus gaya. Banyak cowok ganteng loh!”

“ Iya makasih Dis, gw tampil apa adanya ajalah. Males pake dandan segala. Di mana acaranya?”

“ Di School kita lah! Hari ini kan pensi buu… lupa ya? Makanya kita libur.”

Oh iya! Hari ini kan ada Pensi. Duh, kok bisa lupa aku! Hem, mungkin aja dia juga dateng ke pensi. I wish… tanpa basa-basi lagi, akhirnya aku terima ajakan Gladis dengan senang hati.

Suasana di SMA Pusaka bagai pasar Kaget sore ini. Namun, ini lebih heboh dari pasar kaget. Kalau di pasar kaget cuma ada orang jualan sama orang yang lalu lalang. Tapi di sini, musik menggemakan telinga membuat anak-anak SMA Pusaka bejingkrak-jingkrakkan enggak karuan, udah serasa nonton konser kali mereka ! Namun, sejak tadi aku memutar-mutarkan bola mataku, belum juga aku melihat dia. Masa sih, anak cowok segaul dia enggak dateng ke Pensi sekolah?

“ CHA! CHA! BURUAN KESINI !” teriak Gladis memanggilku. Aku pun berlari mendekati Gladis.

“ Cha, bentar lagi Band The Javu! “ kata Gladis semangat. Aku hanya tersenyum melihat Gladis dan menunggu penampilan Band yang membuat sahabatku Gladis tergila-gila. Padahal, hanya Band sekolah, bukan artist. Tapi Gladis sepertinya tidak ingin ketinggalan untuk melihat aksinya.

“ DAN MARILAH KITA SAMBUT , THE JAVU!!!”

“ HUAAARGHHH THE JAVUUU!!!” teriak heboh anak-anak SMA Pusaka. Namun aku tidak termasuk.

Aku ingin melihat personil-personilnya, namun sulit sekali. Aku berada di antara kerumunan cewek-cewek yang sedang histeris melihat penampilan Band ini. Lagunya memang terdengar bagus, memuji cinta syairnya. Membuat cewek-cewek terpikat akan mereka. Apalagi suara vocalisnya sangat merdu, menyentuh hati.

“ Dis, gw enggak keliatan Dis!” protesku penasaran. Namun Galdis tidak menghiraukan aku, ia hanya terpaku pada pandangannya. Aku benar-benar penasaran, akhirnya aku menyerobot ke barisan depan, agar aku bisa melihat jelas cowok-cowok itu. Dengan sekuat tenaga dan berdempet – dempet ria, akhirnya aku berhasil. Aku melihat, Boni anak IPA2 di Bass, Robet IPS1 Gitar, Stiven IPA2 Drum, Ken IPA1 di Keyboard, dan…. Dan oh GOD! Cowok tinggi berjaket coklat itu, itu? Alfa anak IPA1 ! Dan suara merdu itu suara ALFA!



Ternyata Alfa vocalis Band The Javu. Dan pastinya dia digandrungi cewek-cewek di sekolah! Temasuk Gladis! Bodoh, kenapa aku sampai tidak tahu, bahwa Alfa cowok populer di sekolah? Padahal aku selalu memperhatikannya dari jauh. Pantas saja, seminggu kemarin dia tidak tampak, pasti dia sibuk latihan Band. Sepertinya, aku akan semakin sulit dekat dengan Alfa. Apa dia mau berteman dengan cewek pendiam seperti aku? Dan enggak Fashionable seperti cewek kebanyakan? Pasti jawabannya enggak!

“ Cha, lo diminta ke ruang majalah sekolah sama Gilang!” kata Inu teman sekelasku. Ah, dari pada mikirin Alfa, mendingan nyamperin gilang. Mungkin aja ada yang bisa aku kerjakan.

Sesampainya aku di ruang majalah, terlihat anak-anak majalah sedang sibuk berdiskusi untuk tema minggu depan. Dan beberapa diantara mereka mengajukan topik utama tentang Band sekolah yang sedang Hot-hotnya. Apalagi kalau bukan The Javu.

“ Micha! Akhirnya lo dateng juga! Nanti siang, lo wawancara Alfa yah anak IPA 1 vocalis The Javu.”

“ GW? Kenapa harus gw Gil? Enggak mau ah!” tolakku mentah-mentah. Aku wawancara dia? Buat deketin dia aja, aku gemeteran, apalagi bicara sama dia?!

“ Selama ini lo enggak pernah keberatan wawancara guru, kenapa cuma siswa aja lo jadi enggak mau? Cha, gw gak mau tahu, besok hasil udah ada.” Ucap Gilang tegas, dan langsung keluar ruangan. Mudah-mudahan aku enggak keringet dingin depan Alfa nanti…

“ Hai, lo Micha kan? Kata Gilang lo mau wawancara gw.” Tanya Alfa yang tiba-tiba muncul di depanku dengan senyumannya yang manis. Aku membalasnya dengan senyuman manis juga, Tapi Yaampuun, kenapa ini ? kenapa aku jadi enggak enak badan begini?

“ Cha, wawancaranya di taman aja yuk? Biar lebih enak. “

“ Um, iya.” Ucapku, sambil menahan pusing yang aku rasa.

Kami duduk di bawah pohon rindang, dan beberapa pertanyaan telah dijawab dengan baik oleh Alfa. Sesekali Alfa bertanya padaku, apakah aku baik-baik saja? Katanya aku terlihat pucat. Dan aku pun merasa memang kurang sehat. ku keluarkan buku catatanku, untuk kujadikan kipas. Aku merasa panas dingin…

“ Cha. Gw anter pulang yah?”

“ Enggak usah Fa, gw bisa kok pulang sendiri.”

“ Wajah lo pucet banget….” Ucapnya khawatir. Namun aku merasa masih kuat. Aku mencoba berdiri namun, kepalaku benar-benar bertambah pusing dan pandanganku pudar…



“ Cha, Cha, bangun Cha… sadar cha..”

aku mendengar suara mamah memanggil-manggilku, namun aku merasa lemas sekali, mata ini pun sulit untuk ku buka. Terasa ada yang mengoleskan minyak angin dibawah hidungku. beberapa kali, hingga aku…

“ Cha, alhamdulilah kamu sadar juga. Sudah sejam lamanya kamu pingsan nak… mamah khawatir sekali.”

“ Siapa yang bawa aku pulang kerumah mah?”

“ Teman sekolahmu. Mamah lupa menayakan namanya.”

Jangan-jangan Alfa….



Akhirnya, besok aku bisa masuk sekolah juga. Mamah terlalu khawatir gara-gara aku pingsan kemarin, jadi aku disuruh istirahat dirumah dua hari ini.

“ Hai Cha! “ sapa Gladis yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarku. Dia selalu begitu, masuk kamarku tanpa mengetuk pintu dahulu.

“ Kebiasaan deh…”

“ Hehe.. maaf..” ucapnya cengar-cengir.

“ Kenapa Dis? Gimana kabar sekolah selama dua hari ini gw enggak masuk?” tanyaku sambil membereskan buku untuk sekolah besok.

“ Um, biasa masih heboh dengan The Javu. Tapi ada gossip nih say, mau tau?”

Aku menggangguk dan langsung memasang wajah serius.

“ Katanya, salah satu personil The Javu lagi ngincer cewek anak kelas kita.”

“ Oh… “

“ IH LO TUH, KEBIASAAN OH… , hem gw baru inget besok jangan lupa bawa buku catetan Fisika lo, kata Pak Bimo mau dinilai catetan fisika.”

“ Buku catetan Fisika, buku catetan fisika…” ucapku, sambil mencari di tumpukkan buku pelajaranku yang sudah tak jelas bentukknya, alias berantakan! “ HAH! BUKU GW MANA ?!! DUH… ENGGAK ADA DIS!”

“ Ah, masa enggak ada? Cari yang bener! Elo kan selebor. Eh maaf nih say, gw balik dulu yah. Mau pergi sama ortu gw . mmuach!” pamit Gladis sambil menciumku. Uek! Dia memang sahabatku yang aneh. Duh, tapi ngomong-ngomong kemana buku catetan fisika ku itu? Duh..

Sudah aku keluarkan semua buku di kamarku semalam. Tapi tidak juga aku temukan buku itu hingga pagi ini. Sepertinya hari ini akan menjadi hari sial buatku, Pasti Pak Bimo bakalan marah.

“ Cha, gimana ketemu enggak?” tanya Gladis, sesampainya aku di kelas.

“ Enggak.” Jawabku lesu,sambil membayangkan ocehan Pak Bimo nanti.

“ Yaudah, lo nyatet aja lagi. Masih ada waktu dua jam .”

“ Iya kalau cukup. Yaudah pinjem catetan lo ya Dis.”

Akhirnya aku mencatat kembali. Namun aku melihat catetan Gladis aku jadi pesimis selesai sebelum pelajaran Fisika.

Akhirnya bel istirahat berbunyi juga. Aku kembali melanjutkan catatanku. Padahal perutku terasa lapar sekali. Jelas saja, aku baru sarapan seheli roti tadi pagi.

“ Cha, ikut ke kantin enggak?” tanya Gladis.

“ Enggak Dis. Ini belum selesai. Duluan aja.”

“ Okay deh. Yang rajin yah nak… hehehe” ledeknya dengan wajah reseknya itu. huuf… malang banget sih. Tapi kenapa buku itu jadi ilang? Perasaan minggu kemarin aku masih ,

“ ASTAGA! DI TAMAN!”

Aku langsung berlari ke taman, tempat dimana aku mewawancarai Alfa. Aku baru ingat, aku mengeluarkan buku itu di taman untuk aku jadikan kipas. Pasti tertinggal disana. Aku mencari disekitar taman. Malah sampai aku mencari di ting sampah taman, mungkin saja terbuang.

“ Cari apa Cha?”

“ Alfa??” kataku bingung melihat Alfa tiba-tiba sudah ada dibelakangku.

“ Cari ini ya?” tanya Alfa. Dia menunjukan sebuah buku. Dan tampaknya, itu buku CATATAN FISIKA KU!

Alfa mengajakku duduk dibawah pohon rindang tempat aku wawancara ia kemarin, setelah ia berikan buku itu kepadaku.

“ Ada apa ?” tanyaku bingung. Aku melihat ia tersenyum padaku, menatapku manis dan yang jelas sekarang jantungku berdebar kencang. Baru kali ini aku melihatnya serius memandangku.

“ Maaf ya, enggak sengaja gw baca.”

DEG! BACA? BACA APA? Teriakku dalam hati bertanya-tanya. Dan aku tidak menjawab apa-apa, hanya diam dan pasti aku terlihat seperti cewek bodoh.

“ Lo lucu ya, kalau lagi bingung. Wajah lo tambah imut. “ katanya lagi padaku. Dan itu membuat wajahku memerah padam. Duh ini membuatku semakin bingung.

“ Diem aja ? yaudah, sekarang lo liat gw deh.” Pintanya lembut. Akhirnya aku melihat wajahnya. Dan ia memberikan senyum kepadaku.

“ Sekarang lo buka catatan Fisika lo di halaman terakhir.” Pintanya lagi.

Cha, now you can see my smile , not just in your dream.

Jadi dia baca tulisanku itu… haduh aku bener-bener malu… ucapku dalam hati. Dan aku bener-bener tida bisa berkata apa-apa. Bibir ini terasa kaku. Aku hanya melihatnya dan tersenyum kecil.

“ Cha, Sebenernya, gw tahu lo selalu merhatiin gw lewat jendela kelas. Sebenernya gw juga tahu lo perhatiin gw dari kejauhan. Dan sekarang lo juga harus tahu, kalau gw juga melakukan hal yang serupa. Dan sekarang gw enggak mau lagi melihat senyum lo hanya dari kejauhan.”

( Dimuat dalam Majalah Remaja GirlFriend Edisi Juni 2008 – Judul Senyum )

Iklan

2 Komentar

Filed under Cerpenku

2 responses to “Senyuman Alfa

  1. ragil alviyah

    ka zula zula inikah cerpennya?

    wah-wah bagus ka,hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s