Larangan Ayah Pegangan Cintaku

By : NUZULA FILDZAH

 

Untuk kesekian kali. Dia terkurung sunyi. Mungkin ini yang dikatakan ” Anak Emas!”

” Ingat, tidak ada yang namanya pacar-pacaran dulu! ” kata ayah padanya. Ia hanya menggerutu dalam hati. Huft kenapa sih ? umurku sudah tidak ABG lagi. Tapi kenapa masih saja diperlakukan seperti anak baru beranjak dewasa?

” Kamu dengar tidak kata-kata ayah? Ayah lihat belum ada satupun cowok yang dekat denganmu itu berniat serius padamu. Hanya membuang-buang waktu saja. Jika sudah waktunya orang yang tepat pasti akan kau temui nak. Jangan seperti orang yang takut JOMBLO! ” ucapnya lagi dengan nada tinggi. Gadis itu hanya mengangguk sambil sesekali memaju mundurkan bibirnya tanda ia jengkel atas ayahnya yang terlalu takut akan dirinya.

” Kenapa diam? kamu mengerti tidak kata ayah?! “

” Iya ayah.. aku mengerti… ” ucapnya pasrah. Sang gadis beranjak dari kursi rotan yang ia duduki dan melangkahkan kaki ke kamarnya dengan penuh pertimbangan atas kata-kata ayahnya. Ia membaringkan tubuhnya ke atas kasurnya yang selalu ia basahi dengan air mata disaat duka karena kecewa. Namun tetap saja kasurnya adalah kasur ternyaman yang membawa ia terbang ke awang-awang terindah.

*****

Malam ini rasanya dadaku handak meledak!  Sedang apa ya dia disana? sudah tiga hari ini ia tak ada kabar. Huft… Enam bulan berjalan kasih dengannya aku merasa dialah orangnya. Aku harap begitu. Ucapnya sambil memaninkan keypad Ponselnya sambil berguling-guling di kasurnya. Gadis itu merasa resah namun ia enggak mengganggu kekasihnya yang memberi pesan padanya untuk jangan dihubungi sampai ia menghubungi terlebih dahulu. Siapa yang tidak sabar menunggu kabar berhari-hari. Terkadang sang gadis merasa tak adil diperlakukan seperti itu. Pria itu mengaku teramat sayang padanya. Namun apa yang sang gadis lakukan selalu terlihat seperti anak kecil dan pria itu dengan tegas memperjelas ,

” Aku tidak suka kamu manja. Cobalah dewasa. Kita punya dunia masing-masing. Jangan terlalu sering kita berkomunikasi nanti bosan. ” ujar pria yang sang gadis dambakan. 

****

Sunyi sepi tersudut mati

Menunggu tanpa tahu apa yang dinanti

Fikiranku menghantui diriku sendiri 

Ini memikirkanmu ! Bukan hidupku!

Tak ingin terhimpit sesak karena cinta

Tapi kau tau? Teramat tinggi rindu ini ingin kusandarkan padamu

SADARLAH HAI KAU PAGAR HATIKU!

Sang gadis melumatkan kegusarannya lewat bait puisi di buku deary miliknya. Tanpa tersadar pipinya telah dilembabkan oleh ribuan tetes air mata. Ia tersiksa menunggu dan menunggu kebahagiaan yang sebaliknya membuatnya tersiksa.

” Kenapa dia hingga hari ke lima belum juga menghubungiku? Bisukah hatinya? Atau….” tiba-tiba ia mendengar deringan ponselnya. Tanpa menghela nafas panjang ia langsung menggenggam dan melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata pria itu. Dengan tergesa-gesa sang gadis menghubungi pria itu kembali. 

” Halo? Kamu tahu aku rindu….” sapa sang gadis dengan lirih namun entah mengapa terasa degupan kencang.

” Iya aku tahu. Aktifkan Yahoo messager kamu ya. Ada yang ingin aku bicarakan. ” 

” Kenapa tidak disini saja? Aku masih ingin mendengar suaramu..” pintanya sambil menahan air mata. Sang gadis merasa ada yang salah dengan pria pujaannya. Auranya berbeda.

****

Gadis > Apa yang ingin kamu bicarakan ?

Pria > …………

Gadis > Kamu tahu aku menunggumu seperti mentari tak lelah berlari mengejar rembulan

Pria > Aku tak sanggup

Gadis > Tak sanggup untuk apa ? Kau rindu padaku? Aku pun begitu. Aku ingin bertemu.

Pria > Aku juga rindu. Namun aku ingin kita berhenti untuk sementara waktu.

Gadis > Maksudmu apa? aku tak mengerti. 

Pria > Aku ingin memeluk impianku tanpa ada yang menunggu. Lepaskan aku tuk sementara waktu. 

Gadis > Mengakhiri hubungan maksudmu?

Pria > Untuk sementara waktu. Biarkan aku berlari bersama impianku. Dan menjemputmu jika jalan kita masih sama.

Gadis > Abstrak. Tak jelas.

Pria > Ya sudah tolong kabulkan. Aku butuh sepi. Aku hibernasi.

Gadis > ……………

Pria > Kamu tidak menangis kan?

Gadis > Tanyakan saja pada hatimu jika mencintai seseorang lalu orang itu ingin menghilang apa yang kau rasakan. sedih atau bahagia atau kaku biarkan ia pergi begitu saja. Aku masih berhati bukan patung.

Pria > Apalah katamu. Aku harap kau mengerti keputusanku. Maafkan aku. Selamat malam

Pria > Off….

****

Senja meredupkan egois sang gadis. Tepat disaat lampu-lampu jalanan menyinari sekeliling rumahnya. Cahaya lampu – lampu jalananpun menerangi hati sang gadis. Matanya yang sembab karena teringat kata-kata pria masa lalunya. Aku akan menjemputmu jika jalan kita masih sama. Tak jelas kapan dan dimana. Pria itu pun telah menjadi asap bagi sang gadis. Hilang tanpa kabar sedikitpun. Tak perdulikan perih yang ia rasa. 

Langkah kecil terdengar memasuki kamar gadis itu. Dari harumnya, seperti ayahnya.

” Ayah…..” sapanya sambil memeluk ayahnya.

” Sudah magrib nak. Ayo berjamaah dengan ayah. Maafkan ayah terlalu mengekangmu. Ayah sangat sayang padamu.” ungkap sang ayah sambil membelai halus rambut anak gadisnya.

” Maafkan aku juga ayah. Aku pun sayang ayah. Aku tak akan mudah jatuh cinta lagi ayah. ” 

” Iya anakku. Ayah percaya padamu. ” 

Aku tahu ayah selalu sayang padaku. Ia tak mengurungku. Ia merasakan kekecewaanku dan tak ingin aku menangis dikarenakan pria yang belum tentu menyayangiku. Ia tahu yang terbaik untukku. I love you dad.

Iklan

27 Komentar

Filed under Cerpenku, PUISIKU

27 responses to “Larangan Ayah Pegangan Cintaku

  1. Ping-balik: uberVU - social comments

    • zulazula

      iya phen 🙂 Alhamdulillah kamu suka dan sudah membuatmu tertawa. btw follow twitter aku dunk… kamu blm follow aku… kita masih main umpet-upetan di twitter haha

  2. listi

    cerita pribasi nih ceritanya. .hhe :p

    • zulazula

      Hahaha pribasi emangnya nasi basi 😀 haha ih ih kmyuu ini , jail cubit nihh haha… thanks udah mampir baca ya dan meninggalkan jejakmu 🙂

  3. Kiki andari

    Bagus kak 🙂
    brasa getarannya diakhir,
    mskpun endingnya bs ditebak, tapi pesannya dapet dan bahasanya bagus bgt ka, ga boong ,aku sukaa 😉
    kasi tau lagi ya kak kalo ada yg baru

    • zulazula

      Alhamdulillah bisa merasakan energi dari tulisanku hehe. Iyah, aku masih belajar dan terus belajar nulis cerita. semoga bisa buat cerita yang endingnya bikin penasaran hheehee.. makasi ya ki 🙂

  4. terra andriyani

    hmm, bagus zul..
    tp ayahnya kurang nusuk gt kata2nya…

    hehehe,, tp berasa bgt tuh kata2nya saat dputusin…

  5. chika

    sukaaaaaaa bgd 🙂
    smpai ikut meneteskan ribuaan air mata (Lebayy)

    *sepertinya aku prnah mndengar kisah smacam ini, langsung dr penulisnya,, hihiy xD

  6. Mantap, aku bisa belajar nulis di sini nih.
    Keren Zul, empat jempol.

    • zulazula

      makasi ya kitrose 🙂 seneng bisa dapet temen baru penulis-penulis nih. puisimu juga bagus . kita sama-sama saling share ya 🙂

  7. Desi Kurniawati

    hey…….salam kenal…

    baru 1 x buka blog trus langsung baca cerita kamu….

    aku suka…..!!!!

    pengen tau kelanjutan cerita`nya……

    btw punya ga cerita tentang kisah Long Distance….

  8. assalamualaikum..
    oh ternyata ini ya kerudung putih teh..??
    salam kenal ya..
    cakep juga pake kerudung putih..
    hahaha…
    ni udh mampir ke sini,, fb nya ko ga bisa di add..??

  9. sabar yaaa,,,bokap tau yg terbaik bwat km…^_^

  10. Heru Herdiansyah

    kata-katanya benar-benar menggambarkan…
    terima kasih.. ^^

  11. Okeee, sekarang mengerti. Dalem ya bo mutusinnya… Kena bgt perihnya

  12. dea

    haloo. suka deh sama blognya dan post ini.
    gue follow yaa. kalau sempet, main2 juga ya ke blog gue 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s