Lorong dengan denting-dentang palu seperti musik sembilu klasik menyembunyikan risau yang berkicau.
Di bangku kayu inilah pagiku setengah merekah, menunggu kamu datang, menunggu kamu menggoreskan tinta penentu hari esokku.
Teruntukmu, dosen pembimbing duaku.

penantian dalam doa pasti menjadi nyata?